TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Pengalaman kurang menyenangkan yang dialami seorang pelanggan di Warkop 88, Kota Gorontalo, menjadi perbincangan di media sosial.
Keluhan tersebut mencuat setelah sebuah video diunggah akun Facebook Ichal Kurniawan. Video berdurasi 8 menit 56 detik itu memperlihatkan cerita pelanggan yang mengaku mendapat teguran dari seseorang yang diduga bagian dari manajemen warkop karena membawa botol minum pribadi atau tumbler.
Berdasarkan pantauan pada unggahan tersebut, video itu telah mengumpulkan 836 tanda suka, 528 komentar, dan 102 kali dibagikan.
Dalam penuturannya, pelanggan tersebut mengaku datang ke Warkop 88 yang berada di kawasan Andalas setelah mendapat rekomendasi dari sejumlah temannya.
Setibanya di lokasi, ia memilih duduk di area dalam yang diperuntukkan bagi pelanggan bebas asap rokok.
Pelanggan itu kemudian mulai melihat daftar menu melalui pemindaian barcode untuk memesan makanan dan minuman. Saat itu, ia mengaku membawa tumbler berisi air minum yang biasa dibawanya ke mana-mana.
Namun, ketika sedang memilih menu, seorang pria berusia sekitar 50-an tahun menghampiri dan menegurnya agar tidak membawa botol minum dari luar.
Pelanggan tersebut mengaku terkejut dengan cara penyampaian teguran yang menurutnya menggunakan nada tinggi. Apalagi, kejadian itu berlangsung di tengah kondisi warkop yang sedang ramai pengunjung.
Ia juga mengaku tidak menemukan pemberitahuan tertulis mengenai larangan membawa botol minum pribadi di pintu masuk maupun area tempat duduk.
Menurutnya, persoalan bukan terletak pada keberadaan aturan, melainkan cara menyampaikan teguran kepada pelanggan.
Ia bahkan mengaku telah memasukkan dua botol air minum dan satu es krim ke dalam keranjang pesanan melalui barcode sebelum akhirnya mengurungkan niat untuk memesan makanan.
“Saya sebagai pelanggan yang baru pertama kali datang cukup malu karena suara bapak itu lumayan keras,” demikian keluhannya dalam video tersebut.
Pelanggan itu juga mempertanyakan apakah pria yang menegurnya merupakan bagian dari manajemen Warkop 88.
Sebelum meninggalkan lokasi, ia sempat mendatangi kasir untuk memastikan identitas pria tersebut sekaligus menyampaikan keberatannya.
Ia berharap pihak pengelola memperbaiki standar pelayanan, terutama dalam menyampaikan aturan kepada pelanggan.
Menurutnya, teguran seharusnya disampaikan secara sopan dan tidak dilakukan dengan cara yang berpotensi membuat pelanggan merasa dipermalukan di hadapan pengunjung lain.
Keluhan Pengunjung Lain Ikut Muncul
Unggahan tersebut turut memancing sejumlah pengguna Facebook membagikan pengalaman mereka saat berkunjung ke tempat yang sama.
Akun ZohXX FatXX menuliskan komentar yang menyinggung pengalaman menghadapi teguran dengan nada tinggi.
“Baru Mo kasitu Mar sdh Jooo soalnya qt Kalau org Basuara akan Tinggi qt pe suara so madelo watawatango 😅,” tulisnya.
Sementara itu, akun Nadia ApriXX mengaku pernah mengalami pelayanan yang dinilainya kurang memuaskan, terutama terkait lamanya waktu penyajian pesanan.
Ia menceritakan pernah menunggu lebih dari satu jam untuk pesanan makanan, meskipun telah memesan dalam jumlah cukup banyak.
Nadia juga menyoroti kualitas penyajian salah satu menu nasi kornet yang menurut pengalamannya tidak sesuai dengan harapan.
Selain dua komentar tersebut, sumber lain yang mengaku kerap mengunjungi tempat itu juga menceritakan pernah mendapat teguran dari seorang pria dengan nada yang dianggap kurang nyaman.
Pengunjung tersebut mengaku pernah datang bersama seorang teman perempuan untuk mencari tempat duduk. Saat itu, pria yang sama disebut mengingatkan agar pengunjung tidak membawa laptop jika hanya datang berdua.
Belum lagi, bapak tersebut juga sering mondar-mandir di depan pelanggan saat makan.
Meski demikian, seluruh pengalaman tersebut merupakan kesaksian masing-masing pengguna dan belum dapat dianggap sebagai gambaran menyeluruh mengenai kualitas pelayanan di tempat tersebut.
Manajemen Diharapkan Berbenah
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pelaku usaha kuliner bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh makanan, minuman, maupun fasilitas yang disediakan.
Cara berkomunikasi dengan pelanggan juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan menjaga reputasi usaha.
Jika memang terdapat kebijakan yang melarang pelanggan membawa makanan atau minuman dari luar, pengelola sebaiknya menyampaikan aturan tersebut secara jelas melalui papan informasi atau pemberitahuan di area yang mudah terlihat.
Dengan begitu, pelanggan dapat mengetahui ketentuan sebelum menggunakan layanan.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan atau klarifikasi dari pihak manajemen Warkop 88 terkait keluhan yang viral tersebut.







