Tabayyun.co.id, GORONTALO — Ketua Panitia Gorontalo Half Marathon (GHM) 2025 yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Danial Ibrahim, menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie.
Permintaan maaf itu terkait polemik nama Gubernur yang tercantum di bagian belakang medali ajang lari tersebut.
Terinformasi, Danial diketahui menyambangi kediaman Wakil Gubernur di rumah dinas. Kamis (21/11/25). Namun, momen permintaan maaf itu justru mengundang komentar publik. Danial terlihat tidak sungguh-sungguh saat menyampaikan penyesalan kepada Idah Syahidah Rusli Habibie dam justru dinilai tak sopan.
Dalam sebuah foto yang beredar pada pemberitaan klarifikasi, tampak Idah Syahidah menunjukkan raut serius, sementara ekspresi Danial terlihat tertawa, sehingga memicu anggapan bahwa ia tidak merasa bersalah atas polemik yang terjadi.
Publik juga menilai permintaan maaf tersebut terlambat. Sebab medali yang menggunakan nama Gusnar Ismail dan tali berwarna biru terlanjur dicetak dan tidak dapat diperbaiki lagi.
Kekecewaan peserta pun muncul. Beberapa pelari merasa dirugikan karena medali yang mereka terima tidak memuat nama pribadi, melainkan nama orang lain.

“Kalau dari awal depe medali ta tulis nama lo orang kita tidak badaftar,” ucap akun @te_ian9.
Kritik serupa disampaikan akun lain.
“Ini bukan EVENT GRATIS !!!! Ada bayar .. suar lelah sendiri sampai garis finish .. seharusnya panitia sediakan stand khusus buat cetak nama sendiri di medali setelah lari !” ujar akun @Sunday 🍃.
Polemik GHM tidak berhenti pada persoalan medali. Informasi terbaru menyebutkan Pemerintah Kota Gorontalo akan mengajukan rekomendasi agar rute GHM dialihkan ke jalan provinsi, termasuk Jalan Tjokroaminoto dan Jalan Andalas.
“Keluarkan saja rekomendasinya, tetapi bukan jalan milik kota,” ujar Wali Kota kepada Kadis Perhubungan Kota Gorontalo, Hermanto Saleh, seperti dikutip dari RadarGorontalo.
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menilai rangkaian masalah GHM terus berlanjut, mulai dari desain logo yang disebut sejumlah pihak menjiplak hingga penggunaan nama Gusnar pada medali tanpa mencantumkan nama Idah Syahidah.






