Belatung di Menu MBG, Kenapa Warga yang Malah Minta Maaf?

Tabayyun.co.id, BONE BOLANGO – Temuan belatung dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bonepantai memicu perhatian publik. Polemik tidak hanya menyangkut kualitas makanan, tetapi juga muncul setelah warga yang menerima makanan justru tampil menyampaikan permintaan maaf.

Seorang ibu rumah tangga, yang anaknya membawa pulang lauk ayam diduga berisi belatung, muncul dalam video klarifikasi. Dalam video tersebut, ia membacakan pernyataan dengan didampingi pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tihu dan aparat desa.

Kondisi itu menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Publik mempertanyakan alasan warga yang menjadi penerima manfaat justru menyampaikan permintaan maaf.

Praktisi hukum Gorontalo, Muhamad Saleh Gasin, menilai situasi tersebut tidak lazim dan perlu menjadi perhatian serius.

Baca Juga :  Ismet Mile Salurkan 45 Ton Benih Padi, Genjot Produksi dan Perkuat Ketahanan Pangan Bone Bolango

“Kalau melihat situasinya, ini seperti terbalik. Yang seharusnya menjelaskan dan meminta maaf itu penyelenggara program, bukan warga,” kata Saleh.

Ia juga mengaku menerima informasi bahwa proses klarifikasi itu diduga bukan sepenuhnya berasal dari inisiatif keluarga.

“Kalau benar ada keterlibatan aparat, ini tentu menjadi catatan serius. Warga harusnya dilindungi, bukan diarahkan,” katanya.

Sorotan terhadap program MBG di Bonepantai disebut bukan kali pertama. Sebelumnya, siswa sempat mengeluhkan menu makanan yang dinilai lebih banyak tulang dibanding daging.

Kini, keluhan kembali muncul setelah seorang siswa membawa pulang lauk ayam yang awalnya tampak normal.

Baca Juga :  Ditekan Kinerja, Tapi Tak Digaji: Suara Kritik untuk BUMDes

Namun, setelah disimpan hingga malam hari, lauk tersebut disebut berubah dengan munculnya belatung putih di dalam daging ayam.

Peristiwa itu memunculkan pertanyaan baru mengenai kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

Penjelasan BGN

Menanggapi polemik tersebut, Badan Gizi Nasional wilayah Bone Bolango dilansir dari Hibata.id menyatakan makanan berada dalam kondisi baik saat disalurkan ke sekolah.

Koordinator Regional BGN Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, menjelaskan makanan MBG memiliki batas waktu konsumsi maksimal empat jam setelah dibagikan.

“Jika dikonsumsi lebih dari empat jam, kualitas makanan tidak dapat dijamin. Makanan MBG juga tidak dianjurkan untuk dibawa pulang,” ujarnya.

Baca Juga :  Silahturahmi bersama Bupati, Grib Jaya Gorontalo Dukung Program Pembangunan Bone Bolango, Termasuk Akses Jalan Pinogu

BGN menyarankan agar siswa mengonsumsi makanan langsung di lokasi. Jika tidak dikonsumsi, makanan sebaiknya dikembalikan.

Terkait video klarifikasi warga, pihak BGN menilai tidak terdapat unsur paksaan dalam proses penyampaian pernyataan tersebut.

“Jika demikian, saya meyakini tidak ada tekanan dalam proses klarifikasi itu,” ujarnya.

Kasus ini mendorong perlunya evaluasi terhadap sistem distribusi makanan, standar keamanan pangan, serta edukasi konsumsi agar pelaksanaan program berjalan optimal.

Pemerintah daerah juga diharapkan memastikan mutu dan keamanan makanan tetap terjaga sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *