Tarif Selangit, Wisatawan Menyusut? Noldi Katili Soroti Wacana Hiu Paus Rp1 Juta: Jangan Korbankan Pelaku Wisata

TABAYYUN.CO.ID, BONE BOLANGO – Rencana Pemerintah Provinsi Gorontalo menaikkan tarif wisata Hiu Paus Botubarani hingga Rp1 juta per orang menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah warga menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara matang agar tidak berdampak pada penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung.

Salah seorang warga Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Noldi Katili, menilai kenaikan tarif yang terlalu tinggi berpotensi menjadi bumerang bagi destinasi wisata andalan Gorontalo tersebut.

“Bukannya ramai, jangan-jangan nanti wisatawannya malah putar balik sebelum sempat melihat hiu paus,” ujarnya.

Menurut Noldi, selama ini Hiu Paus Botubarani dikenal karena menawarkan pengalaman wisata yang unik dengan tarif yang masih terjangkau. Kondisi itu menjadi salah satu daya tarik yang membuat wisatawan domestik maupun mancanegara memasukkan Botubarani sebagai tujuan wisata.

Ia mengingatkan bahwa harga merupakan salah satu faktor penting yang dipertimbangkan wisatawan sebelum menentukan destinasi.

Baca Juga :  Diserbu Peserta Penas XVII, Hiu Paus Gorontalo jadi Destinasi Primadona

Jika tarif dinaikkan terlalu tinggi tanpa diimbangi peningkatan fasilitas dan kualitas layanan, menurutnya, bukan tidak mungkin wisatawan akan memilih destinasi lain yang menawarkan pengalaman serupa dengan biaya lebih kompetitif.

“Kalau tarifnya naik terlalu tinggi, masyarakat sekitar yang pertama kali merasakan dampaknya. Warung makan bisa sepi, penyedia perahu kehilangan penumpang, pedagang suvenir ikut berkurang pembelinya,” katanya.

Noldi berharap pemerintah tidak hanya menghitung potensi peningkatan pendapatan dari kenaikan tarif, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan berkurangnya jumlah wisatawan yang dapat memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat di kawasan wisata.

Ia juga menyarankan agar pemerintah melibatkan pelaku wisata, akademisi, dan masyarakat dalam melakukan kajian sebelum mengambil keputusan.

“Jangan sampai niatnya menaikkan pendapatan daerah, tetapi akhirnya yang naik justru jumlah kursi kosong di lokasi wisata,” katanya.

Dinas Pariwisata Usulkan Konsep Wisata Premium

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, mengusulkan kenaikan tarif wisata Hiu Paus Botubarani sebagai bagian dari konsep pengelolaan wisata premium.

Baca Juga :  Polisi Diduga Aniaya Mahasiswa UNG, BEM Geram dan Lapor ke Polda

“Kalau boleh, hiu paus di sini naik kelas. Jadi yang sekarang bayar sekitar Rp500 ribu, saya usul naik menjadi Rp1 juta per orang,” ujar Sultan.

Selain tiket masuk, usulan tersebut juga mencakup kenaikan tarif transportasi laut. Tarif perahu kaca yang saat ini sekitar Rp550 ribu diusulkan menjadi Rp1,5 juta, sedangkan tarif perahu biasa dari sekitar Rp100 ribu menjadi Rp500 ribu.

Menurut Sultan, penyesuaian tarif bertujuan mengurangi kepadatan wisatawan tanpa mengurangi pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.

“Jangan lagi menjadi wisata massal, tetapi wisata eksklusif. Pendapatannya bisa tetap sama bahkan lebih tinggi meski jumlah pengunjung berkurang,” katanya.

Ia menjelaskan, usulan tersebut juga didasari pertimbangan konservasi. Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, hiu paus diduga mulai mengalami kelelahan akibat tingginya intensitas interaksi dengan wisatawan. Bahkan satwa tersebut disebut beberapa kali terlihat muntah.

Baca Juga :  Polisi Diduga Aniaya Mahasiswa UNG, BEM Geram dan Lapor ke Polda

“Kalau terlalu capek, saya khawatir nanti dia sakit, menghilang, bahkan mati. Itu yang tidak kita inginkan,” tuturnya.

Untuk memastikan kondisi satwa tersebut, Dinas Pariwisata berencana menggandeng dokter hewan dan Balai Karantina guna melakukan pemeriksaan kesehatan hiu paus.

Meski demikian, Sultan menegaskan bahwa usulan kenaikan tarif masih berupa konsep awal dan belum menjadi kebijakan resmi. Pemerintah Provinsi Gorontalo juga tidak akan mengambil keputusan secara sepihak karena pengelolaan wisata Hiu Paus Botubarani berada di tangan kelompok masyarakat.

“Yang kami tidak mau, ketika hiu paus ini sakit lalu menghilang atau mati, masyarakat juga kehilangan mata pencaharian. Karena itu harus dijaga bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan seluruh usulan masih akan dibahas bersama kelompok pengelola serta para pemangku kepentingan sebelum ditetapkan sebagai kebijakan resmi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *