Tabayyun.co.id, GORONTALO — Perayaan Cap Go Meh 2026 di Kota Gorontalo berlangsung dengan nuansa berbeda. Tahun ini, agenda budaya masyarakat Tionghoa tersebut bertepatan dengan bulan suci Ramadan, sehingga pawai baru dimulai setelah salat tarawih, Selasa (3/2/2026) malam.
Keputusan menggelar iring-iringan pada malam hari diambil untuk menjaga kekhusyukan ibadah umat Muslim. Ribuan warga memadati sisi jalan untuk menyaksikan jalannya pawai yang berlangsung tertib dan penuh antusiasme.
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, hadir langsung melepas peserta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan damai kepada seluruh masyarakat.
“Atas nama pemerintah dan pribadi, saya mengucapkan selamat merayakan Cap Go Meh 2026. Semoga malam ini membawa kedamaian dan kebahagiaan untuk kita semua,” ujarnya.
Adhan juga menanggapi dinamika pro dan kontra yang sempat muncul karena perayaan digelar di bulan Ramadan. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal lumrah dalam kehidupan bermasyarakat.
“Cap Go Meh ini sudah lama menjadi bagian dari kota ini dan selalu ditunggu-tunggu. Karena itu kita beri ruang. Tapi mari sama-sama jaga agar ke depan tetap bisa dilaksanakan,” katanya.
Sebagai tanda dimulainya pawai, Wali Kota mengetuk gong di hadapan peserta dan undangan. Setelah itu, rombongan bergerak menyusuri rute yang telah ditetapkan panitia.
Menariknya, dalam barisan pawai turut hadir kelompok koko’o, tradisi khas Gorontalo yang biasanya berkeliling membangunkan sahur pada malam pertama dan terakhir Ramadan. Kehadiran mereka menambah warna kebersamaan dalam momentum dua perayaan yang beriringan.
Setelah menyelesaikan rute, peserta kembali ke titik awal dan disambut kembali oleh Wali Kota di depan Kantor Rumah Dinas Wali Kota. Ia menyapa warga yang tetap bertahan hingga acara berakhir.
Menurut Adhan, pelaksanaan Cap Go Meh di tengah Ramadan menjadi gambaran nyata toleransi di Gorontalo. Ibadah tetap berjalan khusyuk, sementara tradisi budaya tetap mendapat ruang secara tertib.
Momentum tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan sekat, melainkan bisa memperkuat rasa saling menghormati di tengah masyarakat majemuk.









