Tabayyun.co.id, Gorontalo – Pembangunan Masjid Raya Gorontalo Islamic Centre (GIC) resmi memasuki tahap awal pada Jumat (12/12/2025) di Desa Talulobutu Selatan, Kecamatan Tapa, Bone Bolango.
Prosesi peletakan batu pertama dipimpin Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie.
Acara dimulai dengan ritual adat Momayango yang dipimpin Kadi Kota Gorontalo KH. Abdul Rasyid Kamaru dan para pemangku adat Uduluwo Limo lo Pohalaa. Tradisi tersebut lazim dilakukan untuk menentukan titik dasar bangunan sebagai simbol harapan agar pembangunan membawa keberkahan.
Pelaksanaan peletakan batu pertama itu bertepatan dengan ulang tahun ke-66 Gubernur Gusnar. Hal tersebut menjadi sorotan Aktivis Gorontalo FrenkyMax Kadir.
“Artinya, peletakan baru pertama untuk pembangunan Masjid Raya Islamic Center memang benar-benar sudah direncanakan tepat dengan Ulta Gubernur,” ucap Max. Sabtu (13/12/25).
Max menegaskan agar pemerintah menghindari klaim personal terhadap pembangunan masjid setelah proyek rampung.
“Biasanya hal seperti itu bisa terjadi, ketika Masjid tersebut sudah di bangun dan digunakan maka akan ada nama yang mengklaim masjid tersebut dibangun atas satu nama yakni Gubernur,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan GIC bukan hanya ditopang oleh pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat.
“Padahal, faktanya untuk pembangunan masjid tersebut bukan hanya pemerintah yang memberikan kontribusi, tetapi juga masyarakat melalui open donasi,” katanya.

Max juga meminta panitia Yayasan Islamic Center Gorontalo memastikan keterbukaan informasi sejak tahap awal hingga konstruksi selesai.
“Publik menginginkan agar panitia secara transparan menyampaikan informasi setiap progres perkembangan secara transparan,” katanya.
Ketua Yayasan Islamic Center Gorontalo, Wahyudin Katili, dalam laporan resmi menyebut kawasan GIC dirancang berdiri di area 40 hektar. Selain masjid utama, rencana pengembangan mencakup pusat dakwah, ruang wisata, sport center, dan area UMKM.
“Untuk lahan awal yang sudah dibebaskan saat ini seluas 1,6 hektar yang menjadi lokasi peletakan batu pertama, terdiri dari sembilan persil dan sudah kami sudah bayarkan senilai Rp2.035.479.000. Dari sembilan persil lahan ini, satu persil dibayarkan langsung oleh donatur,” jelas Wahyudin.









