Karang Taruna Meranti Kritik Desakan Pencopotan Camat Tapa, Nilai KNPI Minim Peran Nyata

Tabayyun.co.id, KABUPATEN BONE BOLANGO – Karang Taruna Desa Meranti menanggapi keras pernyataan Ketua KNPI Kecamatan Tapa, Rival Kidamu, yang meminta Bupati Bone Bolango mencopot Camat Tapa. Desakan tersebut dinilai tidak proporsional dan lebih menonjolkan drama dibandingkan kontribusi konkret bagi pemuda di tingkat desa.

Organisasi kepemudaan tingkat desa itu menilai tuntutan pencopotan jabatan hanya karena persoalan pelibatan agenda pemerintahan mencerminkan sikap reaktif dan kurang dewasa dalam menyikapi dinamika komunikasi organisasi.

Ketua Karang Taruna Desa Meranti, Sofyan Ishak, menegaskan bahwa persoalan koordinasi antara organisasi pemuda dan pemerintah kecamatan seharusnya diselesaikan melalui dialog yang sehat, bukan dengan tekanan politik yang diumbar ke ruang publik.

“Permasalahan komunikasi harus diselesaikan dengan komunikasi, bukan dengan ancaman politik murahan. Meminta camat dicopot hanya karena tidak dilibatkan dalam kegiatan tertentu adalah sikap yang dramatis dan kekanak-kanakan” ujar Sofyan Ishak, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga :  Politisi, Akademisi, dan Insan Pers Bedah KUHP–KUHAP Baru Bersama GASS

Sofyan menilai, klaim KNPI sebagai representasi pemuda di tingkat kecamatan tidak serta-merta menjadi legitimasi untuk menuntut keterlibatan dalam seluruh agenda pemerintahan.

Menurutnya, representasi sejati harus tercermin melalui program yang berkelanjutan, aktivitas yang konsisten, serta manfaat yang dirasakan langsung oleh pemuda di desa.

“Struktur organisasi tidak otomatis melahirkan relevansi. Yang paling penting adalah dampaknya. Sejauh ini, kalau kami pemuda di Desa Meranti justru tidak merasakan kehadiran KNPI sebagai unsur yang seharusnya paling aktif memberi kontribusi terhadap kepemudaan,” tegasnya.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa dalam berbagai kegiatan kepemudaan, Karang Taruna Desa Meranti lebih sering bergerak secara mandiri tanpa dukungan atau koordinasi dari KNPI Kecamatan.
“Faktanya, ketika kami ingin berbuat sesuatu untuk pemuda di desa, kami malah bergerak sendiri. Tidak ada koordinasi, tidak ada dorongan program, dan tidak ada dampak nyata yang kami rasakan dari KNPI di tingkat kecamatan,” katanya.

Baca Juga :  Amdal Tambang Emas Gorontalo Minerals Dikawal Ketat Pemkab Bone Bolango

Di sisi lain, Sofyan menyampaikan penilaian berbeda terhadap kepemimpinan Camat Tapa. Berdasarkan pengalaman Karang Taruna di lapangan, camat dinilai cukup terbuka dan responsif terhadap inisiatif kepemudaan yang jelas dan terukur.

Ia menyebut, dalam sejumlah kegiatan yang digagas Karang Taruna Desa Meranti, Camat Tapa kerap memberikan dukungan langsung, baik secara kehadiran, fasilitasi, maupun dukungan moral.
“Beberapa kegiatan kepemudaan yang kami laksanakan sering kali mendapat dukungan langsung dari Camat Tapa. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak anti pemuda, justru responsif terhadap inisiatif yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Baca Juga :  Aldi Andalan Uloli: Dinamika Coffee Strategis dan Nyaman, Cocok untuk Nongkrong dan Bertukar Ide

Sofyan juga mengingatkan agar narasi yang dibangun KNPI Tapa tidak menggiring opini seolah pemerintah kecamatan menutup ruang partisipasi pemuda, karena hal tersebut dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.

“Jangan membangun citra seolah-olah pemerintah kecamatan memusuhi pemuda. Pengalaman kami menunjukkan hal yang sebaliknya. Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang sehat dan kerja nyata, bukan kegaduhan,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kemitraan antara pemuda dan pemerintah seharusnya dibangun melalui kolaborasi, bukan ultimatum politik.

“Pemuda seharusnya menjadi penggerak solusi, bukan hanya penuntut legitimasi. Kritik itu penting, tetapi harus disampaikan secara proporsional dan berbasis kerja nyata, bukan emosi, dan terlebih lagi bukan untuk melayani kepentingan tertentu,” pungkas Sofyan Ishak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *