Tabayyun.co.id, INTERNASIONAL- Wafatnya Ali Khamenei menandai berakhirnya lebih dari tiga dekade kepemimpinannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Televisi pemerintah mengumumkan kabar tersebut pada Minggu (01/03) dan menyatakan Amerika Serikat serta Israel bertanggung jawab atas kematiannya.
Dalam siaran resmi, pembawa acara membacakan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC). Momentum wafatnya Khamenei disebut sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.”
Khamenei adalah pemimpin tertinggi kedua Iran setelah Ruhollah Khomeini. Ia menduduki jabatan tersebut sejak 1989, menjadikannya figur paling lama berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Dari Mashhad ke Pusat Kekuasaan
Lahir di Mashhad pada 1939, Khamenei berasal dari keluarga ulama Syiah. Pendidikan agamanya dimulai sejak kecil dan ia telah memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun. Namun kiprahnya lebih menonjol di ranah politik ketimbang spiritual.
Sebagai orator yang dikenal lantang, ia aktif mengkritik Shah Iran sebelum revolusi. Ia beberapa kali ditangkap, disiksa, dan diasingkan oleh aparat keamanan kerajaan.
Setelah Revolusi Islam 1979, Khomeini mengangkatnya sebagai imam salat Jumat di Teheran. Khotbahnya yang disiarkan secara nasional memperkuat posisinya dalam struktur kekuasaan baru.
Presiden di Tengah Perang
Pada 1981, Khamenei terpilih sebagai presiden. Masa jabatannya berlangsung saat perang Iran-Irak berkecamuk. Konflik delapan tahun itu memperdalam sikap curiganya terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat yang dinilai memberi dukungan kepada Irak.
Sebelum menjabat presiden, ia juga selamat dari upaya pembunuhan lewat bom yang disembunyikan dalam alat perekam suara. Ledakan itu menyebabkan cedera permanen pada lengan kanannya.
Ketika Khomeini wafat pada 1989, Majelis Ahli memilih Khamenei sebagai penerus. Dalam pidato awalnya, ia berkata, “Saya adalah pribadi dengan banyak kekurangan, sungguh hanya seorang santri yang rendah hati.”
“Namun, sebuah tanggung jawab telah diletakkan di pundak saya, dan saya akan menggunakan seluruh kemampuan serta iman saya kepada Yang Maha Kuasa untuk menjalankan beban tugas yang berat ini.”
Menguatkan Aparat dan Menekan Oposisi
Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memegang otoritas tertinggi negara sekaligus panglima militer, termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia memiliki hak veto atas kebijakan publik dan peran penting dalam seleksi kandidat pejabat.
Di bawah kepemimpinannya, demonstrasi mahasiswa 1999, protes pemilu 2009, hingga gelombang unjuk rasa 2019 dan 2022 ditindak keras. Ia mengakui ribuan orang tewas, namun menyatakan pihak asing berada di balik kerusuhan.
“Mereka yang terhubung dengan Israel dan Amerika Serikat menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang,” ujarnya.
Program Nuklir dan Ketegangan Global
Khamenei pernah mengeluarkan fatwa yang menyatakan senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam. Namun program nuklir Iran tetap memicu kecurigaan Barat.
Pada 2015, Iran menandatangani kesepakatan pembatasan nuklir dengan sejumlah negara besar. Akan tetapi, Presiden AS saat itu, Donald Trump, menarik negaranya dari perjanjian tersebut.
Ketegangan meningkat setelah AS menewaskan perwira tinggi Iran, Qasem Soleimani, pada 2020. Sejak itu, Iran semakin mendekat ke Rusia dan China.
Sorotan pada Keluarga
Khamenei memiliki enam anak dari pernikahannya dengan Mansoureh Khojasteh Baqerzadeh. Putra keduanya, Mojtaba Khamenei, kerap disebut sebagai figur berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan.
Meski spekulasi tentang suksesi mengemuka, sistem Republik Islam tidak mengenal pewarisan takhta secara otomatis. Namun, pengaruh keluarga tetap menjadi faktor penting dalam dinamika politik Teheran.
Wafatnya Khamenei membuka babak baru bagi Iran. Transisi kepemimpinan di tengah tekanan ekonomi, konflik regional, dan ketegangan global akan menjadi ujian besar bagi stabilitas Republik Islam.









