Tabayyun.co.id, GORONTALO — Lonjakan produksi jagung di Provinsi Gorontalo memicu kekhawatiran baru. Di tengah panen raya, harga di tingkat petani justru menjadi sorotan karena dinilai belum stabil.
Situasi ini mendorong pemerintah daerah bersama pelaku usaha menggelar rapat koordinasi guna mencari solusi konkret.
Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin (13/4/2026) di Kantor Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Provinsi Gorontalo.
Rapat ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, ke kawasan transmigrasi Desa Bukit Aren, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Rabu (8/4/2026). Dalam kunjungan itu, gubernur menyerap langsung keluhan warga terkait rendahnya harga jagung.
“Kalau dari saya pak harga jagung. Jagung di sini pak hanya dihargai 4.000-an per kilo,” kata Taufik Antu, warga Desa Bukit Aren.
“Harga jagung itu ditentukan oleh tingkat kekeringannya. Punya bapak dijemur?” tanya gubernur memberi respon.
Petani setempat diketahui lebih memilih membiarkan jagung mengering di pohon hingga empat bulan. Dengan kadar air sekitar 17 persen, harga jual bisa mencapai Rp5.500 per kilogram.
“Jadi musti ada yang mengawasi harga ya? Baik saya tampung aspirasinya,” tegasnya.
Di sisi lain, menurut data dari Pejagindo triwulan pertama 2026 menunjukkan perdagangan jagung Gorontalo mengalami peningkatan signifikan. Total distribusi mencapai 111.249 ton dengan nilai transaksi sekitar Rp611,8 miliar.
Sebagian besar jagung dikirim ke Jakarta sebanyak 87.210 ton. Distribusi lainnya meliputi Padang 8.000 ton, Surabaya 5.525 ton, Banjarmasin 5.513 ton, Medan 1.950 ton, Cirebon 1.946 ton, dan Makassar 1.105 ton.
Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo), Jasin Mohammad, menilai kondisi ini perlu penanganan serius agar tidak merugikan petani.
“Momentum panen ini harus dikelola dengan baik. Jangan sampai produksi melimpah, tetapi harga di tingkat petani justru jatuh. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan industri,” ujar Jasin.
Ia menjelaskan, harga jagung dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keseimbangan pasokan dan permintaan hingga kualitas hasil panen.
Saat ini, harga pembelian jagung di Gorontalo berada di kisaran Rp5.500–Rp5.600 per kilogram dengan kadar air 15 persen. Sementara di tingkat industri pakan di Pulau Jawa dan Sumatra, harga mencapai Rp6.400 per kilogram dengan kadar air 14 persen.
Selain itu, biaya produksi seperti benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja turut menentukan harga di tingkat petani.
“Kita juga harus memperhatikan kebijakan pemerintah, termasuk terkait impor dan ekspor. Ini sangat berpengaruh terhadap harga di pasar lokal,” kata Jasin.
Ia juga menyoroti faktor cuaca ekstrem yang kerap mempengaruhi produktivitas dan pemicu fluktuasi harga.
Dalam rantai distribusi, pemerintah berperan melalui regulasi, sementara petani, pedagang, dan industri saling terkait dalam menentukan dinamika harga.
Permintaan dari pabrik pakan ternak menjadi salah satu penentu utama.
Jasin berharap, rapat koordinasi yang digelar dapat menghasilkan langkah konkret, mulai dari penyerapan hasil panen hingga penguatan distribusi.
“Harapannya ada solusi nyata, baik dalam penyerapan hasil panen, penguatan distribusi, maupun pengendalian harga. Semua pihak harus bergerak bersama agar jagung Gorontalo tetap kompetitif,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo menjelaskan bahwa harga jagung di tingkat masyarakat tidak selalu sama dengan harga di pabrik. Perbedaan ini dipicu oleh sejumlah faktor teknis dan distribusi.
Ia mengungkapkan, salah satu penyebab utama adalah kadar air jagung yang berbeda antara pengukuran di masyarakat dan di pabrik. Peralatan di pabrik telah dikalibrasi, sehingga hasilnya lebih akurat dibandingkan pengukuran manual di lapangan.
Menurutnya, fluktuasi harga jagung juga dipengaruhi faktor eksternal seperti kondisi cuaca serta pasokan dari daerah lain, termasuk Pulau Jawa. Hal ini menyebabkan harga dapat berubah dalam waktu singkat, bahkan dalam hitungan minggu.
Ia menambahkan, selisih harga antara tingkat petani dan pabrik bukanlah hal baru. Kondisi tersebut sudah sering terjadi, meski biasanya tidak menjadi perhatian besar di masyarakat.
Untuk mengurangi selisih harga, pemerintah menghimbau petani, khususnya yang memiliki lahan luas, agar menjual hasil panen langsung ke pabrik tanpa melalui perantara.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan keuntungan petani sekaligus menekan perbedaan harga yang selama ini terjadi di lapangan.







