Tabayyun.co.id, YOGYAKARTA – Seorang mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah menuai perhatian publik setelah kontennya membeli iPhone 13 viral di media sosial. Bukan pujian yang diterima, melainkan hujan kritik dan tudingan pamer.
Mahasiswa bernama Al Barr (19), asal Aceh, mengunggah ceritanya di media sosial tentang perjuangan kuliah sambil membangun bisnis kecil. Usahanya itu akhirnya membuahkan hasil yang cukup untuk membeli sebuah iPhone 13 bekas.
Namun, sebagian warganet justru merespons negatif. Mereka menilai gaya hidup Al Barr tidak mencerminkan kondisi mahasiswa penerima bantuan pendidikan dari pemerintah.
“iPhone 13 itu bukan kebutuhan primer, kalau memang dirasa mampu ya ngundurin diri aja dari KIP Kuliah,” tulis akun @sep***** dalam kolom komentar.
Al Barr mengaku memaklumi munculnya reaksi publik yang beragam terhadap keputusannya membeli ponsel tersebut. Ia menyadari bahwa keberadaan iPhone sering dikaitkan dengan simbol kemapanan.
Namun, menurut Al Barr, iPhone tersebut dibeli bukan untuk gengsi, melainkan sebagai alat bantu untuk menunjang usahanya di bidang promosi dan konten visual.
Latar Belakang Keluarga Sederhana
Al Barr bukan berasal dari keluarga berada. Sang ayah bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp500 ribu per bulan, sedangkan ibunya adalah guru honorer dengan gaji serupa.
Meski terbatas secara finansial, Al Barr memiliki tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Setelah gagal di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), ia lolos di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
“Ayah tiri aku tidak mendukung sama sekali. Hanya ibuku yang ikut membantu dengan doa,” ujar Al Barr saat dihubungi Mojok, Senin (25/8/2025).
Ia baru mengetahui keberadaan program KIP Kuliah menjelang batas akhir pendaftaran. Meski waktu mepet, ia tetap mengurus segala persyaratan hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima bantuan.
Bertahan Hidup di Perantauan
Meski mendapatkan beasiswa, Al Barr tetap harus menanggung kebutuhan hidupnya sendiri selama semester pertama, karena pencairan dana KIP Kuliah baru dilakukan setelah perkuliahan berjalan.
Untuk bertahan, ia mulai berjualan aneka produk seperti tas, kue, buket balon, hingga gelang handmade. Dari situ, ia mengumpulkan modal awal untuk merantau ke Yogyakarta.
Sesampainya di sana, tantangan baru muncul. Ia harus membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas, dan mencari penghasilan tambahan.
“Setidaknya, aman–sesuai standar penerima beasiswa KIP Kuliah,” jelasnya.
Usaha berjualan gelang sempat menurun, hingga akhirnya ia mencoba menjual bunga. Momen Hari Girlfriend Day membuat penjualannya melonjak tajam dan memberi keuntungan besar.
iPhone untuk Investasi Bisnis
Melihat peluang tersebut, Al Barr memutuskan membeli iPhone 13 second seharga Rp7 juta. Ia menilai kualitas kamera gawai itu dapat mendongkrak penjualan produk melalui promosi visual yang lebih menarik.
“Aku masih Al Barr yang sering begadang untuk bungkusin paket, aku masih Al Barr yang nganterin paket ke ekspedisi naik sepeda dengan jarak 2 kilometer,” kata dia.
Ia menegaskan bahwa kepemilikan iPhone bukan bentuk pamer, melainkan bagian dari upaya untuk berkembang secara profesional.
“Aku berharap lewat cerita ini, orang-orang nggak menyerah karena keadaan karena justru dari sini aku punya kekuatan,” ujar Al Barr.






