Aktivis Desak Bank Mega Gorontalo Hormati Pedagang Kopi, Dorong Wali Kota Bertindak

Tabayyun.co.id, Gorontalo – Aktivis Gorontalo, Fikri Palawa, menyoroti tindakan Bank Mega Cabang Gorontalo yang melarang pedagang kopi berjualan di area depan kantor bank tersebut. Kritik itu mencuat setelah munculnya pengumuman resmi dari pihak bank yang berisi larangan bagi masyarakat untuk “berjualan/nongkrong di halaman bank”.

Fikri menilai kebijakan itu tidak berpihak pada pelaku usaha kecil. Ia mengatakan, para pedagang yang berjualan di area tersebut hanya berupaya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak mengganggu aktivitas bank.

Baca Juga :  Apresiasi Dedikasi Guru, Pemkot Gorontalo Terapkan Jam Kerja Baru Mulai April 2026

“Seharusnya, pihak Bank harus mengerti dengan para pelaku usaha, mereka (pedagang) mencari rezeki untuk menafkahi keluarga,” ucap Fikri, Selasa (14/10/25).

Menurut Fikri, larangan tersebut juga bertentangan dengan kebijakan Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea yang sebelumnya telah memberikan izin kepada pedagang untuk berjualan di sepanjang trotoar Jalan Panjaitan.

Baca Juga :  Street Food Jilid II Cetak Omzet Rp495 Juta, UMKM Kota Gorontalo Panen Keuntungan

Ia menegaskan bahwa lokasi tersebut sudah dikenal strategis dan diminati masyarakat tanpa menimbulkan hambatan terhadap lalu lintas maupun kegiatan perbankan.

“Sebelumnya, area tersebut terinformasi banyak disukai pengunjung dan dinilai strategis, tanpa mengganggu aktivitas perbankan maupun arus lalu lintas di sekitarnya,” ujarnya.

Fikri kemudian meminta pihak Bank Mega agar tidak melarang pedagang berjualan pada malam hari, sebab aktivitas ekonomi itu dilakukan setelah jam operasional bank berakhir.

Baca Juga :  Jelang Idul Fitri, Warga Dungingi Berbondong-bondong Datangi Kediaman Totok Bachtiar

“Dimana, sudah tidak ada lagi aktivitas perbankan,” sambungnya.

Aktivis Gorontalo Fikri Palawa

Ia menambahkan, dalam kondisi ekonomi yang menantang saat ini, semua pihak seharusnya menunjukkan empati dan memberikan ruang bagi masyarakat kecil untuk tetap bertahan.

“Di tengah-tengah efisiensi, seluruh stakeholder harus memahami keadaan yang ada,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *