Antrean BBM Mengular, Pertalite Eceran Tembus Rp20 Ribu: Ada Apa di Gorontalo?

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Gorontalo mulai memberikan dampak langsung terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) yang dibeli masyarakat secara eceran.

Puluhan kendaraan tampak mengular di sejumlah SPBU untuk mendapatkan BBM. Kondisi ini membuat sebagian warga memilih membeli bensin eceran agar tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari.

Harga Pertalite eceran di sejumlah titik di Kota Gorontalo kini mencapai Rp19.000 hingga Rp20.000 untuk sekitar 1,5 liter. Harga tersebut naik dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp18.000.

Kondisi tersebut menjadi pilihan bagi warga yang tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu dalam antrean panjang di SPBU.

Bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, mengantar anak sekolah maupun menjalankan usaha, antrean panjang berarti tambahan waktu sekaligus pengeluaran.

Situasi itu menunjukkan persoalan ketersediaan BBM tidak hanya berhenti pada panjangnya antrean kendaraan. Dampaknya mulai terasa pada harga yang harus dibayar konsumen ketika mendapatkan BBM melalui jalur eceran.

Baca Juga :  Fraksi PKS Tegaskan Transparansi dan Tanggung Jawab dalam Kasus Mustafa Yasin

Persoalan antrean BBM di Gorontalo sebelumnya juga mendapat sorotan dari tokoh masyarakat asal Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Sehan Salim Landjar.

Sehan meminta Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengambil langkah lebih tegas dengan turun langsung ke lapangan. Ia juga mendorong gubernur melibatkan Kapolda Gorontalo dan Danrem Gorontalo untuk melihat kondisi distribusi BBM secara langsung.

Menurut Sehan, persoalan tersebut tidak semestinya terus dijelaskan hanya melalui isu distribusi maupun fenomena panic buying.

Ia menyebut antrean solar bahkan telah berlangsung hampir dua tahun. Kini, persoalan serupa mulai terlihat pada Pertalite.

“Gubernur harus turun gunung. Jangan hanya melihat persoalan ini dari laporan. Ajak Kapolda dan Danrem, turun langsung ke lapangan. Lihat sendiri apa yang terjadi di SPBU dan telusuri dari mana persoalan ini bermula. Kalau memang ada permainan, bongkar. Kalau ada pelanggaran, tindak,” tegas Sehan Selasa (06/10/2026).

Mantan Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo dua periode itu menilai antrean BBM sudah tidak tepat jika dipandang sebagai persoalan biasa.

Baca Juga :  Dari Warkop Ajama ke Bursa Kadin, Ramdan Datau Buka Peluang Maju

Menurut dia, ketersediaan BBM memiliki kaitan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama solar yang digunakan kendaraan pengangkut barang.

Truk pengangkut hasil pertanian, perkebunan, kebutuhan pokok dan berbagai komoditas membutuhkan solar untuk menjalankan aktivitas distribusi.

Ketika pasokan terganggu, kata Sehan, dampaknya dapat merembet ke biaya angkutan hingga harga barang yang diterima masyarakat.

“Jangan melihat antrean ini hanya sebagai kendaraan yang menunggu di SPBU. Di belakang kendaraan itu ada barang, ada hasil bumi masyarakat, ada kebutuhan pokok, ada aktivitas ekonomi. Kalau truk tidak jalan karena solar sulit, dampaknya ke mana-mana. Harga angkutan naik, distribusi terganggu dan pada akhirnya masyarakat juga yang membayar mahal,” ujar Mantan Bupati Bolaang Mongondow Timur dua Periode ini.

Sehan juga mempertanyakan anggapan bahwa antrean panjang hanya dipicu panic buying.

Menurutnya, alasan tersebut tidak cukup untuk menjelaskan antrean yang disebutnya telah berlangsung dalam waktu panjang.

Baca Juga :  Benny Rhamdani dan Istri Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Utang Rp10 Miliar Saat Pilkada Kotamobagu

“Kalau panic buying, pertanyaannya kenapa antrean solar sudah berlangsung hampir dua tahun? Sekarang Pertalite ikut antre. Jadi jangan semua persoalan dilempar kepada masyarakat dengan alasan panic buying. Pemerintah harus berani mencari akar masalahnya,” katanya.

Ia bahkan meminta aparat penegak hukum menelusuri kemungkinan adanya penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi di Gorontalo.

Sehan menduga terdapat pihak tertentu yang memainkan distribusi BBM. Namun, ia menekankan dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui penyelidikan.

“Saya mencurigai ada mafia BBM yang bermain. Karena kalau tidak ada yang bermain, mengapa persoalan ini terus berulang dan masyarakat yang membutuhkan justru harus antre berjam-jam? Ini harus dibuktikan melalui penyelidikan, bukan sekadar dibantah dengan pernyataan,” tegasnya.

Di tengah antrean yang masih terjadi, masyarakat berharap pemerintah segera memastikan pasokan BBM kembali normal.

Kepastian distribusi dinilai penting agar antrean di SPBU dapat berkurang sekaligus menekan kenaikan harga BBM di tingkat eceran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *