BMKG: Indonesia Masuk Fase El Nino Kuat, Waspadai Kekeringan dan Karhutla

TABAYYUN.CO.ID, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa Indonesia telah memasuki fase El Nino kuat, sebuah fenomena iklim yang diperkirakan membawa dampak berupa musim kemarau yang lebih panjang, suhu udara lebih panas, hingga meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kondisi tersebut usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

“Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” kata Faisal.

Ia menjelaskan, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal. Kondisi tersebut memengaruhi pola cuaca global, termasuk di Indonesia.

“El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat Celsius. Jika sudah melewati batas itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif. Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya,” ujarnya.

Baca Juga :  IM3 Platinum Hadirkan Bundling Eksklusif iPhone 17, Traveling Bebas Roaming di Dua Negara

Menurut BMKG, intensitas El Nino tahun ini diperkirakan lebih kuat dibandingkan kejadian pada 2023. Bahkan, sejumlah pakar iklim memproyeksikan peningkatan suhu global akibat fenomena tersebut dapat melampaui 2 derajat Celsius.

Sebelumnya, El Nino dengan kategori sangat kuat pernah terjadi pada 1997 dan 2015. Tahun ini, intensitasnya diperkirakan berpotensi melampaui kedua peristiwa tersebut.

Kemarau Diprediksi Lebih Panjang

BMKG memperkirakan dampak utama El Nino adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Akibatnya, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Selain meningkatkan risiko kekeringan, fenomena tersebut juga berpotensi mengganggu sektor pertanian, mengurangi ketersediaan air bersih, serta meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung pada September 2026 dengan cakupan sekitar 25,41 persen wilayah.

Baca Juga :  Anniversary ke-3 TikTok Gembel Gorontalo, Aldi Uloli Dorong Kreator Perkuat Jejaring
Pemerintah Siapkan Mitigasi

Untuk mengurangi dampak El Nino, BMKG bersama pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.

Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) guna mengisi waduk sebagai cadangan air selama musim kemarau.

Selain itu, TMC juga akan digunakan untuk membasahi kawasan-kawasan yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran hutan dan lahan.

“Ada pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan lain sebagainya juga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan lahan-lahan yang mudah terbakar,” kata Faisal.

Enam provinsi menjadi fokus utama mitigasi karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BMKG juga mengingatkan bahwa setelah musim kemarau berakhir, pemerintah perlu bersiap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah yang dapat terjadi saat musim hujan kembali.

Baca Juga : 

“Jadi, tidak hanya terkait dengan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga bencana-bencana hidrometeorologi basah,” ujarnya.

Imbauan bagi Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas selama El Nino berlangsung.

Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari ketika suhu udara berada pada titik tertinggi.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, BMKG menyarankan penggunaan topi atau payung, kacamata hitam, tabir surya, masker medis, pakaian berwarna terang yang mudah menyerap keringat, serta alas kaki yang nyaman.

Selain itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih, buah, dan sayuran yang mengandung banyak cairan guna mencegah dehidrasi.

Apabila mulai merasakan gejala seperti pusing, lemas, atau haus berlebihan, masyarakat diimbau segera beristirahat dan mencari tempat yang lebih sejuk untuk mencegah gangguan kesehatan akibat paparan panas yang berkepanjangan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *