Tabayyun.co.id, GORONTALO — Komoditas jagung di Provinsi Gorontalo terus menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah. Nilai transaksi yang mencapai triliunan rupiah mempertegas posisi strategis sektor ini.
Data tersebut disampaikan dalam Forum Dulohupa dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Provinsi Gorontalo yang berlangsung, Selasa (14/04/2026), di Hulonthalo Ballroom.
Dalam pemaparannya, Gubernur Gorontalo menyebut bahwa perhatian perusahaan global terhadap komoditas jagung kini mulai mengarah ke Serambi Madina Gorontalo. Hal ini kemudian diperkuat oleh Perwakilan Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad.
Jasin mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, perdagangan jagung mencatat capaian besar dengan volume mencapai 521.662 ton dan nilai transaksi sebesar Rp2.869.141.000.000.
Capaian ini menunjukkan bahwa jagung tetap menjadi komoditas unggulan yang menggerakkan aktivitas ekonomi, mulai dari petani hingga sektor industri pengolahan.
Memasuki tahun 2026, tren tersebut masih berlanjut. Pada triwulan pertama, Januari hingga Maret, volume transaksi tercatat 111.249 ton dengan nilai Rp611.869.500.000.
Permintaan pasar terhadap jagung Gorontalo pun dinilai tetap stabil, bahkan cenderung meningkat.
“Perdagangan jagung Gorontalo masih sangat potensial. Tahun 2025 kita mencatat transaksi sebanyak 521.662 ton dengan nilai Rp2,8 triliun lebih. Sementara di triwulan pertama 2026 sudah mencapai 111.249 ton dengan nilai lebih dari Rp611 miliar,” ujar Jasin.
Distribusi jagung tidak hanya menyasar pasar lokal, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Pada April 2026, direncanakan pengiriman dalam jumlah besar ke sejumlah pulau.
“Untuk April ini, kami merencanakan pemuatan sekitar 38.200 ton yang akan dikirim ke Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar luar daerah terhadap jagung Gorontalo masih sangat tinggi,” lanjutnya.

Tak hanya di pasar domestik, jagung Gorontalo juga telah menembus pasar internasional. Sejumlah perusahaan luar negeri tercatat menjadi pembeli aktif, di antaranya Ameropa Asia PTE. LTD dan Peter Cremer PTE. LTD.
Selain itu, pasar Filipina menjadi salah satu tujuan utama ekspor dengan berbagai perusahaan yang menyerap komoditas ini, seperti Cagayan Corn Products Corporation dan General Milling Corporation.
Di Malaysia, pembeli jagung Gorontalo antara lain Heng Say Properties SDN BHD, Wha Hung Trading SDN BHD, dan QL Feedingstuffs SDN BHD.
Sementara di Vietnam, distribusi menjangkau Gad Vietnam Joint Stock Company.
Kehadiran buyer dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa daya saing jagung Gorontalo di pasar global semakin terbuka dan menjanjikan.
Menurut Jasin, keberlanjutan sektor jagung sangat bergantung pada dukungan pemerintah, terutama dalam hal infrastruktur, stabilitas harga, serta akses distribusi yang lancar.
Ia berharap sektor pertanian, khususnya jagung, tetap menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah.
Selain itu, sinergi antara petani, pelaku usaha, dan pemerintah dinilai penting untuk menjaga kesinambungan produksi serta meningkatkan kualitas komoditas.
Lebih lanjut, Jasin menilai langkah Pemerintah Provinsi Gorontalo mencerminkan keseriusan dalam mendorong hilirisasi komoditas jagung.
Ia menyebut aktivitas perdagangan jagung dari Gorontalo ke Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan terus menunjukkan peningkatan signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi.
Forum Dulohupa dan Musrenbang RKPD ini pun menjadi momentum strategis dalam merumuskan arah pembangunan daerah, terutama dalam memperkuat sektor unggulan yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.









