Tabayyun.co.id, GORONTALO — Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Gorontalo menggelar diskusi bersama pelaku usaha komoditas jagung sebagai bagian dari penguatan kajian kebijakan ekonomi daerah. Kegiatan ini berlangsung di Kantor BPKP Gorontalo, Kamis (18/12/2025).
Diskusi tersebut dipimpin langsung Kepala Perwakilan BPKP Gorontalo, Mohammad Riyanto, dan menghadirkan pelaku usaha jagung yang diwakili Jasin Mohammad dari PT Gorontalo Pangan Lestari.
Mohammad Riyanto menjelaskan, diskusi ini selaras dengan arah kebijakan RPJMD Provinsi Gorontalo 2025–2029 yang menitikberatkan pada transformasi ekonomi daerah. Fokus utamanya adalah penguatan hilirisasi berbasis sumber daya alam, riset, inovasi, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.
Sejalan dengan itu, BPKP Gorontalo tengah melakukan kajian atas visi dan misi Gubernur Gorontalo, khususnya Program Agromaritim. Hasil kajian tersebut akan dituangkan dalam Laporan Eksekutif Daerah Tahun 2025.
“Melalui diskusi ini, kami ingin memperoleh gambaran langsung dari pelaku usaha terkait efektivitas kebijakan dan intervensi pemerintah daerah di sektor jagung,” ungkap Mohammad Riyanto.
Dalam forum tersebut, Jasin Mohammad yang juga menjabat Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Provinsi Gorontalo, memaparkan data perkembangan transaksi jagung di daerah.
Pada 2024, total transaksi jagung di Gorontalo mencapai 538.395 ton dengan nilai Rp2,66 triliun. Dari jumlah itu, ekspor ke Filipina tercatat sebesar 31.850 ton dengan nilai devisa USD 9,67 juta, sementara distribusi antar pulau mencapai 506.547 ton.
Adapun pada periode Januari hingga September 2025, volume transaksi tercatat 417.862 ton dengan nilai Rp2,29 triliun. Distribusi terbesar dilakukan ke Jakarta, Surabaya, Medan, Banjarmasin, Padang, Lampung, dan Cirebon.
Jasin juga memaparkan perkembangan harga beli jagung di tingkat petani. Pada 2024, harga acuan nasional berada di angka Rp5.000 per kilogram. Sementara pada 2025, pemerintah menetapkan harga Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18–20 persen dan Rp6.400 per kilogram untuk kadar air 14 persen dengan aflatoksin di bawah 50 ppm.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 11 perusahaan jagung di Gorontalo yang telah memiliki fasilitas pengering dengan kapasitas 200 hingga 800 ton per hari.
Selain itu, Jasin yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Provinsi Gorontalo mengungkap rencana Pemerintah Provinsi Gorontalo pada 2026 untuk mengembangkan program hilirisasi ayam terintegrasi. Program tersebut meliputi pembangunan pabrik pakan, pembibitan, penetasan telur, cold storage, hingga Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) di Kecamatan Anggrek, Gorontalo Utara, bekerja sama dengan BPI Danantara.
“Pada dasarnya kami mendukung. Semakin banyak pilihan bagi peternak, terutama peternak mandiri, tentu akan semakin baik. Kehadiran pabrik pakan ternak juga dapat membuka peluang agar peternak tidak terlalu bergantung pada integrator-integrator besar,” tutup Jasin.












