TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk lokal, tetapi turut membuka akses pasar, pembiayaan hingga peluang ekspor bagi pelaku UMKM di Gorontalo.
Festival yang berlangsung selama tiga hari itu mencatat total transaksi sekitar Rp5,66 miliar dengan melibatkan sekitar 450 UMKM, termasuk pelaku usaha street food di sepanjang Jalan Andalas.
Jumlah pengunjung juga mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya. HARFEST 2026 diperkirakan dikunjungi sekitar 13.200 orang, atau meningkat 38,95 persen.
Peningkatan kunjungan tersebut memperbesar peluang pelaku UMKM berinteraksi langsung dengan konsumen sekaligus memperkenalkan produk mereka kepada pasar yang lebih luas.
Dampak ekonomi HARFEST juga terlihat dari rangkaian business matching yang mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan, buyer dan mitra usaha.
Dari agenda tersebut tercatat komitmen pembiayaan bersama perbankan sebesar Rp2,91 miliar. Sementara transaksi penjualan antara UMKM dengan buyer dan mitra usaha mencapai sekitar Rp820 juta.
Capaian tersebut dinilai menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas jaringan pasar setelah festival berakhir.
Produk Gorontalo Mulai Dilirik Pasar Jepang
Peluang lebih besar datang dari sektor ekspor. Kopi Liberika Cempaka Putih asal Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, yang dipasarkan melalui Dellacious Coffee, mendapatkan kesempatan business matching ekspor dengan Three United dari Shibuya, Tokyo, Jepang.
Nilai business matching tersebut mencapai USD5.680.
Kesepakatan itu menjadi salah satu indikasi bahwa produk lokal Gorontalo memiliki peluang untuk masuk ke pasar internasional apabila didukung kualitas, kesinambungan produksi dan akses pasar yang memadai.
HARFEST 2026 juga mempertemukan unsur pemerintah, perbankan dan pelaku usaha dalam satu ekosistem pengembangan ekonomi daerah.
Kolaborasi tersebut diperkuat melalui sinergi dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam penyelenggaraan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK).
Perpaduan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif dan UMKM menjadi bagian dari strategi untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada transaksi selama festival.
Libatkan Generasi Muda
Aspek pelestarian budaya turut menjadi perhatian dalam HARFEST 2026 melalui Mo Karawo Kolosal.
Ratusan pelajar dilibatkan untuk mengenal secara langsung proses menyulam Karawo. Kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan warisan budaya Gorontalo kepada generasi muda.
Selain itu, HARFEST menghadirkan sejumlah kompetisi yang menyasar kreativitas anak muda, mulai dari Dance Cover Competition, Mobile Legends: Bang Bang, HARFEST Knowledge Battle, Lomba Menggambar dan Mewarnai, hingga Latte Art Competition.
Festival tersebut juga dilengkapi seminar nasional yang menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif.
Salah satu potensi yang mengemuka dalam forum tersebut adalah pemanfaatan serat daun pisang sebagai material alternatif untuk dikembangkan menjadi produk kain wastra daerah.
Rangkaian kegiatan HARFEST 2026 menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya membutuhkan ruang promosi, tetapi juga akses pembiayaan, buyer, inovasi dan jaringan pasar yang lebih luas.
Dengan dukungan Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan dan berbagai mitra strategis, HARFEST diharapkan dapat terus berkembang sebagai ruang kolaborasi yang memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya Gorontalo.












