Jasin Mohammad: Dari Jagung ke Ayam Terintegrasi, Arah Baru Industri Perunggasan

Tabayyun.co.id, GORONTALO- Pemerintah mendorong hilirisasi perunggasan nasional untuk memperkuat pasokan protein hewani sekaligus mengurangi ketimpangan pusat produksi antar wilayah.

Kebijakan ini diarahkan membangun industri ayam terintegrasi yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga memperluas peran peternak rakyat dan pelaku usaha lokal.

Pengembangan industri terintegrasi mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penyediaan pakan, pembibitan, budidaya, hingga pengolahan hasil. Skema ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.

Bagi peternak rakyat, hilirisasi dipandang membuka peluang usaha yang lebih berkelanjutan. Kepastian pasar dan distribusi hasil produksi menjadi lebih terjamin karena berada dalam satu ekosistem industri.

Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Perwakilan Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad, mengatakan kebijakan tersebut dirancang untuk menyeimbangkan kepentingan industri dan peternak rakyat.

“Negara telah hadir untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkeadilan. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, regulator, dan pengawal agar industri perunggasan tumbuh merata, tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa tetapi juga daerah termasuk Provinsi Gorontalo,” ucap Jasin. Jumat (09/01/26).

Baca Juga :  Ngabuburit Edukatif, Imigrasi Gorontalo Sosialisasikan Hukum Keimigrasian ke Anak Panti

Menurut Jasin, keterlibatan aktif negara menjadi kunci agar industri ayam terintegrasi tidak hanya dikuasai pemain besar. Peternak kecil dan menengah di daerah harus menjadi bagian dari rantai nilai yang sama.

Ia menilai model terintegrasi akan memberikan manfaat langsung berupa peningkatan efisiensi usaha, kepastian harga, serta terbukanya lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan distribusi. Dampak lanjutan dari penguatan rantai pasok ini adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat daerah.

Selain itu, hilirisasi perunggasan juga diproyeksikan mendorong penyerapan jagung lokal sebagai bahan baku utama pakan ternak, sekaligus menggerakkan ekonomi pertanian di daerah sentra produksi.

”Pertama adalah penyerapan jagung saat musim panen. Dengan hadirnya pabrik, akan ada kompetisi penyerapan jagung lokal yang bisa memicu petani menanam lebih banyak komoditas ini, serta akan mendongkrak kemajuan perunggasan. Kelebihan produksi pakan ternak, telur, dan ayam yang dihasilkan bisa didistribusikan ke daerah tetangga yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Kalimantan, dan Papua,” jelas Jasin yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Provinsi Gorontalo.

Baca Juga :  Hamzah Idrus Desak Aksi Nyata untuk Pinogu, Bukan Sekadar Retorika
Gubernur Gusnar Ismail bersama Wagub Idah Syahidah Rusli Habibie saat meresmikan panen raya serentak di Desa Tunggulo Selatan, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (8/1/2026). (Foto : Mila)

Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie sebelumnya juga menyatakan harapannya agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke depan dapat memanfaatkan bahan pangan hasil produksi lokal, termasuk jagung dari petani Gorontalo.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan produksi jagung mencapai 1,5 juta ton pada 2026. Target ini menjadi bagian dari kontribusi daerah dalam mendukung swasembada pangan nasional.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady Mario, mengatakan capaian tersebut akan ditopang oleh optimalisasi lahan dan peningkatan intensitas tanam. Pernyataan itu disampaikan saat panen raya jagung serentak yang digelar Polri di 36 polda se-Indonesia, Kamis (8/1/2026).

Panen raya tersebut diikuti secara daring oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Kapolda Gorontalo Irjen Pol Widodo, serta Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie.

Muljady menjelaskan, kerja sama antara pemerintah daerah dan Polri merupakan tindak lanjut dari perjanjian antara Kementerian Pertanian dan Mabes Polri yang diterapkan hingga ke daerah.

Baca Juga :  Aliansi Merah Putih Desak Tanggung Jawab Pejabat Gorontalo

“Pada tahun 2025, Gorontalo mendapat target pengembangan areal tanam baru sekitar 27 ribu hektare yang telah kami eksekusi bersama Polda Gorontalo. Dari luas areal panen sekitar 259.490 hektare, produksi jagung Gorontalo berhasil mencapai 1,2 juta ton ,” ujar Muljady.

Ia menambahkan, hampir seluruh produksi jagung Gorontalo selama ini disalurkan ke sentra pakan ternak di berbagai wilayah Indonesia. Pada 2026, peningkatan produksi akan difokuskan pada pemulihan lahan yang terdampak banjir dan kekeringan.

Dalam waktu dekat, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan pembangunan fasilitas industri perunggasan terintegrasi, mulai dari pabrik pakan ternak, pembibitan, penetasan telur, cold storage, hingga rumah potong hewan unggas.

Program ini merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo dan dikembangkan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Pembangunan fisik akan dilaksanakan oleh PTPN III (Holding), dengan Provinsi Gorontalo ditetapkan sebagai klaster perdana pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *