Jasin Mohammad: Hari Pangan Sedunia Momentum Perkuat Ketahanan Pangan, Bertepatan dengan HUT ke-75 Presiden Prabowo

 TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Ketahanan pangan nasional tidak cukup diukur dari tingginya produksi dan besarnya cadangan beras, dan jagung, Kesejahteraan petani, kepastian harga jual hasil panen, serta keterjangkauan pangan bagi masyarakat juga harus menjadi indikator keberhasilan kebijakan pangan Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Perkumpulan Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad, di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Sabtu (17/10/2026).

Jasin berharap peringatan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kedaulatan pangan sekaligus mendorong kebijakan pertanian yang berpihak kepada petani komoditas dan konsumen.

“Peringatan Hari Pangan Sedunia harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Indonesia memiliki potensi pertanian yang besar, tetapi potensi tersebut harus dikelola secara berkelanjutan agar petani semakin sejahtera dan masyarakat memperoleh pangan yang cukup, bergizi, serta terjangkau,” ujar Jasin Mohammad.

Produksi Meningkat, Tantangan Pangan Belum Berakhir

Sejumlah indikator produksi menunjukkan perkembangan positif. Namun, capaian tersebut tetap perlu diikuti dengan penguatan distribusi, stabilitas harga, dan keberlanjutan produksi agar manfaatnya dirasakan secara merata.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi nasional selama Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Meski demikian, produksi padi pada Agustus 2026 tercatat sebesar 5,46 juta ton GKG, turun 2,94 persen dibandingkan Agustus 2025. Produksi beras untuk konsumsi penduduk pada bulan yang sama diperkirakan mencapai 3,15 juta ton, turun 2,90 persen secara tahunan.

Baca Juga : 

Di sisi lain, Perum Bulog mencatat realisasi pengadaan beras hingga 8 Oktober 2026 mencapai 4.115.014 ton atau 102,88 persen dari target penugasan sebesar 4 juta ton. Stok beras yang dikelola Bulog juga dilaporkan sempat mencapai puncak 5,4 juta ton pada 2026.

Capaian tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketersediaan cadangan pangan pemerintah. Namun, menurut Jasin, penguatan stok perlu diimbangi dengan distribusi yang efektif dan perlindungan terhadap pendapatan petani.

“Angka produksi dan besarnya cadangan beras merupakan capaian penting. Namun, keberhasilan ketahanan pangan juga harus terlihat dari kondisi di lapangan: petani memperoleh harga jual yang layak, biaya produksi terkendali, distribusi berjalan lancar, dan masyarakat mampu membeli kebutuhan pangan sehari-hari,” tegasnya.

Proyeksi Surplus Harus Berdampak bagi Petani

Pemerintah melalui proyeksi neraca pangan 2026 menyebut delapan komoditas telah mencapai kondisi swasembada, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.

Produksi delapan komoditas tersebut diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sebesar 68,22 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi surplus agregat sekitar 4,69 juta ton.

Angka tersebut merupakan proyeksi pemerintah dan tidak berarti seluruh komoditas memiliki surplus yang sama atau seluruh hasil produksi tersedia sebagai stok siap digunakan.

Baca Juga :  Pinogu dan Peringatan Hari Kemerdekaan

Jasin menilai proyeksi itu perlu diikuti pembenahan tata kelola pertanian dari hulu hingga hilir. Dukungan terhadap akses pupuk, benih berkualitas, teknologi, pembiayaan, fasilitas penyimpanan, dan kepastian pasar dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi.

Menurutnya, peningkatan produksi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila petani masih menghadapi tingginya biaya usaha tani dan ketidakpastian harga ketika panen tiba.

“Jangan sampai produksi meningkat, tetapi petani masih kesulitan memperoleh keuntungan yang layak. Ketahanan pangan yang kuat harus memberikan kepastian kepada petani sekaligus melindungi masyarakat dari beban harga pangan yang terlalu tinggi,” katanya.

Gorontalo Punya Peran dalam Penguatan Pangan Nasional

Sebagai daerah yang memiliki potensi pertanian jagung, Gorontalo dinilai dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung kemandirian pangan nasional.

Jasin berharap pengembangan pertanian di daerah tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga mendorong pengolahan hasil, memperluas jaringan pemasaran, dan menciptakan nilai tambah bagi komoditas pertanian.

Menurutnya, dukungan terhadap petani daerah perlu mencakup kepastian penyerapan hasil panen, akses pasar yang lebih luas, serta tata niaga yang mampu memberikan keuntungan wajar kepada produsen.

Upaya tersebut juga membutuhkan sinergi pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, organisasi pertanian, serta kelompok tani agar potensi produksi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Baca Juga :  Dewan Hakim PPIB ke-10 Ditambah, Panitia Perketat Penilaian Peserta

HUT ke-75 Prabowo Jadi Momentum Evaluasi Kebijakan Pangan

Menjelang HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto, Jasin berharap kebijakan pangan nasional semakin konsisten dalam memperkuat produksi dalam negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor pertanian.

Ia menilai pembangunan pertanian membutuhkan perencanaan jangka panjang, perlindungan lahan produktif, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan perhatian terhadap regenerasi petani.

“Menjelang HUT ke-75 Presiden Prabowo Subianto, harapan kami adalah Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Kebijakan pemerintah perlu terus memperkuat produksi dalam negeri, melindungi petani, memperbaiki distribusi, dan menjaga agar pangan tetap terjangkau bagi masyarakat,” ungkap Jasin.

Ia menegaskan, kedaulatan pangan bukan semata-mata tentang kemampuan menghasilkan komoditas dalam jumlah besar. Lebih dari itu, keberhasilan pembangunan pangan harus tercermin pada kemampuan negara menjamin ketersediaan pasokan, menjaga stabilitas harga, dan memberikan kehidupan yang layak bagi petani.

“Harapan kita sederhana, tetapi sangat mendasar: petani sejahtera, produksi berkelanjutan, cadangan pangan kuat, distribusi merata, dan masyarakat tidak kesulitan mendapatkan pangan. Itulah makna ketahanan pangan yang sesungguhnya bagi Indonesia,” tutup Jasin Mohammad.

Melalui momentum Hari Pangan Sedunia 2026, Pejagindo Provinsi Gorontalo berharap penguatan sektor pangan nasional semakin berorientasi pada kemandirian bangsa, kesejahteraan petani, dan pemerataan akses masyarakat terhadap pangan yang cukup, bergizi, serta terjangkau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *