Jejak Panjang Kk Tiu Indrawaty Gobel: Dari Cita-cita Thayeb Gobel hingga Perjuangan NasDem Gorontalo

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Hj. Indrawaty Gobel, yang akrab disapa Kk Tiu, bukan sekadar bagian dari keluarga besar Gobel.

Di balik sosoknya, tersimpan perjalanan panjang yang mempertemukan warisan industri keluarga, pendidikan di Swiss, hingga pengabdian sosial dan politik di tanah kelahirannya, Gorontalo.

Kk Tiu lahir pada 21 Agustus 1963. Ia merupakan putri keenam pasangan almarhum Drs. Thayeb Mohammad Gobel dan almarhumah Annie Nento.

Ia juga merupakan adik kandung almarhum Dr. Rachmat Gobel atau RG, tokoh nasional asal Gorontalo yang dikenal luas melalui kiprahnya di dunia usaha maupun politik.

Sebagai bagian dari keluarga Gobel, perjalanan hidup Kk Tiu tidak dapat dilepaskan dari pemikiran besar sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel.

Thayeb dikenal sebagai sosok yang memiliki visi jauh ke depan dalam membangun industri nasional.

Salah satu gagasan yang pernah ia cita-citakan adalah membawa teknologi pembuatan jam tangan dari Swiss ke Indonesia dan mengembangkan industri jam tangan di Tanah Air.

Baca Juga :  Fun Run UMGO Warnai HUT Patriotik 23 Januari, Diikuti 2.300 Peserta

Cita-cita tersebut kemudian ikut membentuk perjalanan pendidikan Kk Tiu.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Bulungan, Jakarta, pada 1982, Kk Tiu melanjutkan pendidikan ke Swiss.

Negara tersebut dipilih karena memiliki tradisi panjang dan reputasi dunia dalam industri pembuatan jam tangan.

Selama kurang lebih dua tahun, Kk Tiu menimba ilmu sekaligus mempelajari teknologi pembuatan jam tangan di Neuchâtel, Swiss.

Pilihan Neuchâtel bukan tanpa alasan. Wilayah yang berada di kawasan Pegunungan Jura tersebut merupakan salah satu pusat tradisi industri jam Swiss.

Dari kawasan itu lahir berbagai keahlian yang berkaitan dengan pembuatan jam, mulai dari mekanik presisi, pembuatan komponen, pengukiran hingga pengerjaan perhiasan.

Di negeri bersalju itu, Kk Tiu ditempa untuk menguasai teknologi yang pada zamannya tergolong maju.

Pendidikan tersebut sekaligus menjadi bagian dari amanah sang ayah. Ia diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan dan teknologi yang diperolehnya di Swiss untuk ikut mewujudkan cita-cita membangun industri jam tangan di Indonesia.

Baca Juga :  Kalender Hijriah Hari Ini, Sabtu 2 Agustus 2025

Namun, mewujudkan gagasan tersebut ternyata bukan perkara mudah.

Industri jam tangan Indonesia harus berhadapan dengan persaingan produk impor, terutama dari Jepang dan kemudian China, yang mampu hadir di pasar dengan harga lebih kompetitif.

Meski cita-cita industri tersebut belum berkembang sebagaimana yang diharapkan, pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Kk Tiu.

Semangat untuk berkarya tidak berhenti ketika gagasan industri jam menghadapi tantangan. Perjalanan Kk Tiu kemudian semakin dekat dengan aktivitas sosial, kemasyarakatan dan perjuangan keluarga Gobel di Gorontalo.

Mendampingi Perjuangan RG dan NasDem di Gorontalo

Dalam perjalanan berikutnya, Kk Tiu semakin aktif mendampingi perjuangan almarhum Rachmat Gobel.

Kedekatan sebagai kakak-adik sekaligus kesamaan visi dalam melihat pembangunan Gorontalo membuat Kk Tiu berada dalam lingkungan perjuangan yang sama dengan RG.

Bagi keluarga Gobel, keterlibatan di Gorontalo bukan sekadar aktivitas politik. Ada keterikatan sejarah, keluarga dan tanggung jawab moral untuk terus memberikan kontribusi bagi daerah.

Baca Juga :  Fraksi Gerindra DPRD Gorontalo Sambut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya Daerah

Kk Tiu kemudian dikenal sebagai salah satu sosok yang berada di sekitar perjalanan politik dan sosial keluarga Gobel, termasuk dalam dinamika Partai NasDem di Gorontalo.

Perjalanan tersebut semakin menemukan momentum setelah RG dipercaya memimpin dan membesarkan kekuatan NasDem di Gorontalo.

Kini, setelah RG berpulang, perhatian terhadap sosok Kk Tiu kembali mengemuka.

Warisan yang ditinggalkan keluarga Gobel bukan hanya berupa nama besar dalam dunia usaha, tetapi juga gagasan tentang pentingnya membangun manusia, industri dan daerah.

Dari ruang pendidikan di Swiss hingga dinamika sosial-politik Gorontalo, perjalanan Kk Tiu memperlihatkan satu benang merah: menjaga amanah keluarga sembari mencari ruang pengabdian yang lebih luas.

Bagi Gorontalo, nama Gobel bukan sekadar nama keluarga. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan ekonomi, sosial dan politik daerah.

Dan Kk Tiu kini berada di salah satu mata rantai perjalanan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *