Jelang Festival Karawo, Syarifuddin Bano Soroti Kesejahteraan Pengrajin Pulubala yang Masih Bergantung pada Vendor

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Di balik keindahan kain sulam karawo yang kerap tampil dalam berbagai kegiatan besar di Gorontalo, masih tersimpan persoalan kesejahteraan para pengrajinnya.

Hal itu ditemukan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Daerah Pemilihan (Dapil) Boliyohuto, Syarifuddin Bano, saat mengunjungi sentra pengrajin karawo di Desa Bukit Aren, Kecamatan Pulubala, Senin (7/9/2026).

Kunjungan dilakukan menjelang pelaksanaan Festival Karawo. Syarifuddin melihat langsung proses pembuatan karawo sekaligus berdialog dengan komunitas pengrajin yang mayoritas merupakan ibu-ibu.

Ia mengapresiasi para pengrajin yang tetap mempertahankan keterampilan menyulam secara manual meski menghadapi tantangan perkembangan zaman.

Bagi Syarifuddin, karawo tidak hanya memiliki nilai sebagai warisan budaya Gorontalo.

Kerajinan tersebut juga menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila dikelola dengan sistem produksi dan pemasaran yang lebih baik.

“Ini adalah warisan budaya yang patut kita kembangkan bersama. Di tengah tantangan global dan modernisasi, masyarakat kita, khususnya komunitas ibu-ibu di Pulubala, masih mampu mempertahankan tradisi menjahit dan menganyam pola karawo secara manual, baik motif burung, ikan, maupun motif khas Gorontalo lainnya,” ujar politisi Partai Demokrat tersebut.

Baca Juga :  Wamen Transmigrasi Tiba di Gorontalo, Disambut Adat Mopotilolo dan Soroti Sinergi Pembangunan

Dalam pertemuan dengan para pengrajin, persoalan pemasaran menjadi salah satu keluhan utama.

Para pengrajin di Pulubala masih bergantung pada pihak ketiga atau vendor untuk mendapatkan pekerjaan.

Mereka umumnya menerima bahan atau pola yang telah ditentukan, kemudian mengerjakannya secara manual dengan imbalan berdasarkan tingkat kerumitan motif.

Kondisi tersebut dinilai membuat pengrajin belum memiliki posisi yang kuat dalam menentukan harga maupun mengembangkan pasar sendiri.

Padahal, permintaan terhadap produk karawo dinilai cukup tinggi, termasuk ketika berlangsung kegiatan pemerintahan maupun agenda besar seperti Penas.

Persoalannya, tingginya permintaan belum otomatis meningkatkan pendapatan pengrajin secara signifikan.

Para pengrajin menyebut upah pengerjaan satu pola berkisar Rp35.000 hingga Rp100.000, bergantung pada tingkat kesulitan motif.

Syarifuddin menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah karena proses pengerjaan karawo membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak singkat.

“Metode pemasaran mereka selama ini belum bisa mandiri karena sifatnya hanya menerima barang dan diberi upah oleh vendor untuk menyelesaikan gambar yang ditentukan. Padahal, pengerjaannya rumit dan memakan waktu,” jelas Syarifuddin.

Baca Juga :  Komisi 1 DPRD Provinsi Gorontalo Tinjau Lahan Gerai KDMP di Bulotalangi, Pastikan Status Aset dan Serap Aspirasi Warga

Syarifuddin meminta Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui organisasi perangkat daerah terkait memberikan perhatian lebih serius terhadap komunitas pengrajin karawo.

Menurut dia, pembinaan tidak cukup hanya diarahkan pada kemampuan menghasilkan produk.

Pengrajin juga perlu didampingi agar mampu mengelola usaha secara mandiri.

Aspek yang perlu diperkuat antara lain pemasaran, akses permodalan, pengembangan produk, kelembagaan dan perluasan pasar.

Ia juga mendorong organisasi yang memiliki program pemberdayaan masyarakat, termasuk Dharma Wanita, ikut mengambil peran dalam pembinaan para pengrajin.

Dengan pendampingan tersebut, pengrajin diharapkan tidak selamanya berada pada posisi sebagai penerima pekerjaan dari vendor.

Mereka perlu didorong memiliki produk sendiri, membangun merek, menentukan harga dan menjangkau konsumen secara langsung.

“Ke depan, hal ini harus dipikirkan bersama oleh pemerintah. Bagaimana para pengrajin karawo ini bisa mendapatkan bantuan langsung dan pemberdayaan yang layak, sehingga kesejahteraan mereka bisa meningkat sepadan dengan karya seni luar biasa yang mereka hasilkan,” pungkasnya.

Baca Juga :  HUT ke-25, Indriani Dunda Soroti Kemajuan Gorontalo dan Tantangan Ekonomi yang Masih Mengemuka

Syarifuddin menilai Festival Karawo dapat menjadi momentum untuk memperluas promosi kain sulam khas Gorontalo tersebut.

Menurut dia, festival seharusnya tidak hanya menjadi ajang menampilkan karawo sebagai identitas budaya.

Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan pengrajin dengan pasar, pelaku usaha, komunitas dan calon pembeli.

Ia berharap promosi yang lebih luas diikuti dengan pembinaan yang berkelanjutan sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh para pengrajin.

Karawo, kata dia, memiliki peluang untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif Gorontalo apabila ekosistem pengrajinnya diperkuat.

Karena itu, pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan pengrajin dinilai harus berjalan beriringan.

Dukungan pemerintah, akses pasar dan penguatan kapasitas usaha menjadi bagian penting agar keterampilan yang diwariskan lintas generasi tersebut tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga mampu menjadi sumber penghidupan yang lebih layak bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *