Kisah Dua Anak Muda di Balik Wajah Baru Pasar Sentral Gorontalo: Dari Ide Murni ke Polemik Birokrasi Pemkot

Tabayyun.co.id, KOTA GORONTALO – Di tengah padatnya geliat pembangunan yang sering kali tak berpihak pada masyarakat kecil, dua anak muda Gorontalo muncul membawa ide sederhana: menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat melalui sentuhan kreatif. Mereka adalah Jefry (Ijep) dan Syaiful Mantu (Ipul), dua nama yang kini ramai diperbincangkan di lorong-lorong Pasar Sentral.

Awalnya, keduanya hanya ingin membuka usaha kuliner kecil di kawasan Jalan Nani Wartabone. Namun karena ruang di sana kian sempit, mereka memutuskan pindah ke Pasar Sentral. Tak disangka, langkah sederhana itu justru menjadi titik awal perubahan besar di kawasan yang dulu identik dengan kekumuhan itu.

Booth-booth kuliner yang semula berantakan mereka tata ulang. Pencahayaan ditambah agar lebih hangat, kursi dan meja diatur dengan rapi, dan area publik dibersihkan. Hasilnya, wajah Pasar Sentral berubah total — lebih hidup dan tertib tanpa harus menunggu proyek besar pemerintah.

Baca Juga :  Golkar Kota Gorontalo Buka Tahun 2026 dengan Pasar Murah Bersubsidi bagi Warga

Namun, perjalanan dua anak muda ini tak semulus yang dibayangkan. Di balik semangat membangun, muncul aroma birokrasi dan politik yang perlahan menekan idealisme mereka.

Dari Ide Murni ke Bayang-Bayang Kepentingan

Jefry dan Syaiful sempat dipanggil oleh Dinas Perindagkop Kota Gorontalo. Keduanya berharap ide mereka akan mendapat dukungan resmi dari pemerintah kota. Bahkan mereka diminta menyiapkan proposal kerja sama sebagai pengelola kawasan UMKM Mandiri Pasar Sentral.

Harapan tumbuh, tetapi kenyataan berkata lain. Proposal mereka tak pernah ditindaklanjuti, sementara konsep yang mereka gagas justru diambil alih oleh pihak dinas. Lebih ironis lagi, gagasan yang berbasis kemandirian rakyat itu kini berubah arah menjadi program yang kental dengan intervensi birokrasi.

“Kami bukan ingin proyek, kami hanya ingin ide kami dijalankan sebagaimana mestinya,” kata salah satu dari mereka kepada sejumlah pelaku UMKM.

Alih-alih menjadi fasilitator, Dinas Perindagkop justru tampak mendominasi. Peran mereka bergeser dari pengayom menjadi pengendali. Akibatnya, kawasan Pelataran Sentral yang tadinya tertata mulai kehilangan arah. Penataan kembali kacau, sistem pengelolaan tak konsisten, dan semangat pelaku UMKM kian luntur.

Baca Juga :  Operasi Zebra Otanaha 2025 Resmi Berjalan, Polresta Gorontalo Kota Tegaskan Penindakan Humanis

“Syurga Telinga” dan Informasi yang Tak Utuh

Ironi makin terasa ketika kabar di lapangan tak sepenuhnya sampai ke telinga Wali Kota Gorontalo. Banyak pihak menilai bahwa laporan yang diterima sang wali kota hanya berisi “syurga telinga”—laporan manis yang menutupi kondisi sesungguhnya di lapangan.

Sementara di bawah, para pelaku UMKM dan pemuda penggagas ide justru diliputi kekecewaan. Mereka merasa ide yang mereka perjuangkan dicuri dan diklaim sebagai prestasi pejabat.

Kini, desakan audiensi langsung dengan Wali Kota Gorontalo semakin menguat. Para penggerak muda Pasar Sentral ingin bicara tanpa filter, mengurai persoalan yang selama ini terbungkus rapi dalam laporan administratif.

Pasar Sentral dan Simbol Kemandirian Rakyat

Baca Juga :  Ribuan Karton Miras Ilegal Disita di Pasar Jajan, Satu Toko Jadi Sasaran Razia

Bagi mereka, Pasar Sentral bukan sekadar pusat jual beli. Ia adalah simbol kemandirian ekonomi rakyat. Jika pemerintah sungguh ingin membangun ekonomi kreatif yang berkelanjutan, maka transparansi dan penghargaan terhadap gagasan masyarakat harus menjadi pijakan.

Dua anak muda itu telah membuktikan bahwa perubahan bisa lahir dari niat tulus dan aksi nyata. Namun ketika semangat itu dibungkus oleh kepentingan, hasilnya adalah eksploitasi ide, bukan kolaborasi.
Birokrasi lokal, seperti yang tampak dalam kasus ini, tampak lebih cepat mengklaim ketimbang memberi apresiasi.

Pasar Sentral memang hidup kembali, tapi mereka yang menyalakan apinya justru tercecer di tepi jalan. Kini, tinggal menunggu apakah pemerintah kota mau membuka ruang dialog yang jujur—karena di luar sana, masih banyak anak muda seperti Ijep dan Ipul yang ingin berbuat untuk kotanya, asal tidak dipadamkan oleh tangan-tangan yang hanya ingin menuai nama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *