Pelabuhan Gorontalo Mulai Padat, Pejagindo dan Pelindo Bahas Solusi Percepatan Bongkar Muat

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Asosiasi Pedagang dan Produsen Jagung Indonesia (Pejagindo) Provinsi Gorontalo menyoroti persoalan bongkar muat dan kepadatan lapangan penumpukan di Pelabuhan Gorontalo.

Hal itu disampaikan Ketua Pejagindo Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad, saat melakukan kunjungan silaturahmi ke PT Pelindo Cabang Gorontalo, Selasa (11/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Jasin menyampaikan sejumlah keluhan yang selama ini dirasakan pelaku usaha, khususnya terkait lamanya waktu kapal berada di Pelabuhan Gorontalo.

Menurut dia, waktu yang dibutuhkan untuk proses bongkar muat di Pelabuhan Gorontalo dinilai relatif lama dibandingkan sejumlah pelabuhan lain.

“Bagi kami, persoalan ini perlu dibicarakan bersama. Kalau di pelabuhan lain prosesnya bisa lebih cepat, di sini bisa sampai berhari-hari. Ini tentu berpengaruh terhadap kelancaran logistik dan aktivitas usaha,” kata Jasin.

Ia mengatakan, keterlambatan tersebut tidak hanya berdampak pada perusahaan pelayaran, tetapi juga dapat berimbas terhadap pelaku usaha yang membutuhkan kepastian waktu dalam distribusi barang.

Jasin menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari kapasitas depo, lapangan penumpukan hingga kondisi fasilitas dermaga.

“Tujuan saya datang ke sini sebenarnya untuk silaturahmi sekaligus mencari gambaran. Kami ingin tahu apa persoalannya dan bagaimana solusi yang bisa kita dorong bersama dengan Pelindo maupun pihak terkait,” ujarnya.

Jasin berharap komunikasi antara asosiasi pengusaha, Pelindo, pelayaran dan instansi terkait dapat diperkuat agar persoalan logistik di Pelabuhan Gorontalo tidak terus berulang.

Pelindo Akui Kapasitas Mulai Penuh

General Manager PT Pelindo Cabang Gorontalo, Hardin Hasjim, menyambut baik kunjungan Pejagindo tersebut.

Baca Juga :  Dua Tahun Mengabdi, PPPK Bawaslu se-Gorontalo Rayakan Syukuran dengan Berbagi ke Panti Asuhan

Hardin mengatakan, peningkatan lalu lintas kargo di Pelabuhan Gorontalo merupakan indikator adanya pertumbuhan aktivitas ekonomi di daerah.

Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan fasilitas pelabuhan.

“Traffic yang meningkat berarti ada pertumbuhan di daerah. Ini menjadi tugas kita bersama untuk mendorong kelancaran dan meningkatkan perekonomian,” kata Hardin.

Menurutnya, kondisi lapangan penumpukan dan depo saat ini memang sudah mendekati bahkan melampaui kapasitas ideal.

Pelindo, kata dia, telah menyiapkan sejumlah rencana untuk meningkatkan kapasitas. Namun, penambahan fasilitas membutuhkan proses dan waktu.

Untuk jangka pendek, Pelindo akan melakukan pembenahan kualitas lapangan serta menyiapkan peralatan dengan kapasitas lebih besar sehingga barang dapat ditumpuk lebih optimal.

“Kita akan membenahi kualitas lapangan dan menginstal alat yang kapasitasnya lebih besar. Targetnya, paling cepat awal tahun depan sudah bisa digunakan,” jelasnya.

Selain itu, Pelindo juga merencanakan penimbunan lahan belakang dermaga 4 di sekitar area pelabuhan untuk menambah kapasitas lapangan penumpukan.

Hardin mengatakan, pihaknya juga tengah menjajaki pemanfaatan lahan yang saat ini belum digunakan secara optimal bersama sejumlah mitra.

Namun, rencana tersebut menghadapi sejumlah persoalan, termasuk keberadaan permukiman warga di sekitar area yang akan dikembangkan.

Menurutnya, penanganan persoalan tersebut harus melibatkan pemerintah daerah agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.

“Kami berharap penanganannya tidak sendiri-sendiri. Harus komprehensif dan ada komitmen bersama, termasuk pemerintah daerah, sehingga programnya tetap mengikuti peraturan yang ada dan tidak ada yang salah langkah,” katanya.

Baca Juga :  Suzuki Satria F150 MY 2026 Kepergok Tes Jalan, Mau Meluncur di Indonesia

Produktivitas Bongkar Muat Menurun

Sementara itu, Manager Operasi dan Teknik Pelindo Cabang Gorontalo, Mursito, mengungkapkan adanya penurunan produktivitas bongkar muat kontainer di pelabuhan.

Jika sebelumnya produktivitas dapat mencapai sekitar 16 hingga 20 kontainer per jam, saat ini hanya berada di kisaran 10 hingga 13 kontainer per jam.

Ketua Pejagindo Provinsi Gorontalo, Jasin Mohammad, bersama jajaran PT Pelindo Cabang Gorontalo usai melakukan pertemuan dan silaturahmi untuk membahas kelancaran bongkar muat, kepadatan depo, serta solusi peningkatan layanan logistik di Pelabuhan Gorontalo, Selasa (11/8/2026).

Menurut Mursito, kondisi tersebut terjadi ketika lalu lintas kargo justru mengalami peningkatan.

Di sisi lain, jumlah kontainer yang keluar dan masuk ke pelabuhan mengalami penurunan. Dari kondisi normal sekitar 160 kontainer per hari, kini hanya berkisar 100 hingga 120 kontainer per hari.

“Traffic bertambah, sementara kegiatan keluar dan masuk (delivery/receiving) yang biasanya normal sekitar 160 per hari turun menjadi sekitar 100 sampai 120 kontainer per hari,” ujar Mursito.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang menyebabkan lapangan penumpukan semakin padat adalah kontainer yang telah dibongkar dari kapal tetapi belum segera diambil oleh pemilik barang.

Kondisi tersebut semakin terasa pada hari Minggu ketika aktivitas pengambilan kontainer lebih rendah dibandingkan hari biasa.

Akibatnya, kontainer yang seharusnya segera keluar masih menumpuk di area pelabuhan, dan pelabuhan dijadikan depo oleh pelayaran.

Mursito menyebut kapasitas terpasang lapangan penumpukan petikemas adalah 1.868 TEUs. Namun, jumlah kontainer yang menumpuk mulai Januari -Juli 2026 rata2 di angka 1.800-2.000 TEUs , dengan YoR rata-rata 98%.

“Kapasitas kita 1.868 TEUs. Hari ini stok Petikemas 1.727 TEUs, atau YoR 92% , yang didominasi oleh Petikemas Empty 1.067 TEUs, sehingga sudah melebihi kapasitas normal,” katanya.

Baca Juga :  Daftar Anggaran Kementerian yang Bakal Dipangkas pada 2026

Dwelling Time Didorong Maksimal Lima-Enam Hari

Untuk mengatasi kepadatan tersebut, Pelindo mendorong percepatan dwelling time, yakni waktu kontainer berada di area pelabuhan sejak dibongkar hingga keluar menuju pemilik atau depo.

Pelindo menargetkan kontainer yang telah dibongkar dapat segera dikeluarkan dalam waktu sekitar lima hingga enam hari.

Mursito mengatakan, pihak pelayaran juga didorong untuk segera merelokasi kontainer Empty karena melebihi kapasitas dan tidak dapat ditampung di Pelabuhan Gorontalo ke pelabuhan lain seperti Surabaya maupun Jakarta.

Selain itu, Pelindo juga tengah membahas kemungkinan mendatangkan kapal kosong ( deviasi) dari pelabuhan lain untuk membantu mengangkut kontainer empty yang menumpuk di Gorontalo.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi kepadatan lapangan sekaligus memperlancar aktivitas bongkar muat.

Mursito menegaskan, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan kerja sama antara Pelindo, perusahaan pelayaran, pemilik barang, asosiasi pengusaha dan pemerintah daerah.

“Kita sudah menyiapkan beberapa solusi. Untuk jangka pendek, dwelling time harus dipercepat. Peti kemas yang sudah turun diusahakan lima sampai enam hari harus keluar,” ujarnya.

Pertemuan antara Pejagindo dan Pelindo tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dalam mencari solusi atas persoalan logistik di Pelabuhan Gorontalo.

Bagi pelaku usaha, kelancaran bongkar muat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga efisiensi distribusi barang dan mendukung aktivitas ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *