Oleh: Nadia Pobela (Ketua Kohati Cabang Tondano)
Tabayyun.co.id, – Jika ada satu daerah di Indonesia yang sejak awal dikenal “lebih dulu maju” dalam pendidikan, maka Minahasa adalah salah satunya. Namun, keunggulan ini bukan muncul begitu saja.
Ia adalah hasil dari sejarah panjang yang dimulai sejak masa kolonial, berkembang dalam semangat lokal, hingga kini menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks.
Pada abad ke-19, fondasi pendidikan di Minahasa mulai terbentuk melalui kehadiran misionaris Kristen.
Bersamaan dengan penyebaran agama, mereka mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan baca-tulis dan bahasa Belanda.
Fakta pentingnya: pendidikan Barat di Minahasa berkembang jauh lebih awal dibanding banyak wilayah lain di Indonesia.
Bahkan, pada akhir masa kolonial, terjadi persaingan antara pemerintah Belanda dan lembaga zending dalam mendirikan sekolah.
Dampaknya signifikan: tingkat pendidikan masyarakat Minahasa menjadi salah satu yang tertinggi di Hindia Belanda, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Namun, pendidikan pada masa itu tidak netral. Ia melayani kepentingan kolonial: mencetak tenaga administrasi, tentara, dan pekerja terdidik bagi pemerintah Belanda.
Meski begitu, masyarakat Minahasa mampu memanfaatkan peluang ini. Mereka menjadi kelompok yang relatif cepat beradaptasi dengan modernitas sebuah modal sosial yang bertahan hingga hari ini.
Memasuki awal abad ke-20, pendidikan di Minahasa mengalami perluasan makna. Tidak lagi sekadar alat kolonial, tetapi mulai menjadi alat emansipasi.
Salah satu tokoh penting adalah Maria Walanda Maramis, yang memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Ia mendirikan organisasi PIKAT dan sekolah keterampilan bagi wanita sejak 1917, mendorong perempuan Minahasa untuk mandiri dan terdidik.
Di sini terlihat perubahan besar: pendidikan mulai dipahami sebagai hak sosial, bukan privilese.
Perempuan yang sebelumnya terbatas pada ranah domestik mulai memiliki akses terhadap pengetahuan dan keterampilan.
Setelah kemerdekaan Indonesia, semangat pendidikan di Minahasa tidak surut. Justru berkembang ke jenjang yang lebih tinggi.
Berdirinya perguruan tinggi seperti Universitas Pinaesaan pada 1954 yang kemudian menjadi bagian dari Universitas Sam Ratulangi menjadi tonggak penting pendidikan tinggi di kawasan Indonesia Timur.
Selain itu, kehadiran Universitas Negeri Manado (UNIMA) sejak 1955 menunjukkan komitmen kuat daerah ini dalam mencetak tenaga pendidik dan sumber daya manusia berkualitas.
Namun, di balik sejarah gemilang ini, pendidikan Minahasa hari ini menghadapi tantangan yang tidak kalah serius.
Pertama, kesenjangan kualitas. Tidak semua wilayah di Minahasa dan Sulawesi Utara menikmati kualitas pendidikan yang merata. Sekolah di kota seperti Manado atau Tomohon jauh lebih maju dibanding daerah pedesaan.
Kedua, relevansi pendidikan. Sistem pendidikan masih sering berorientasi pada teori, sementara kebutuhan dunia kerja terus berubah cepat. Lulusan tidak selalu siap menghadapi realitas ekonomi modern.
Ketiga, globalisasi dan digitalisasi. Di satu sisi membuka peluang besar, tetapi di sisi lain menuntut kualitas pendidikan yang jauh lebih tinggi. Tanpa pembaruan sistem, keunggulan historis Minahasa bisa terkikis.
Ironisnya, daerah yang dahulu menjadi pelopor pendidikan di Indonesia Timur kini justru harus berjuang agar tidak tertinggal.
Dalam prespektif Kohati Untuk “Membangun pendidikan berbasis karakter dan kearifan lokal yang terintegrasi dengan teknologi modern.” Yang mana Pendidikan di Minahasa harus tetap mengikuti perkembangan zaman melalui teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi tidak boleh kehilangan jati diri. Oleh karena itu, sistem pendidikan perlu menggabungkan pembelajaran digital dengan penanaman nilai-nilai budaya lokal, etika, dan karakter.
Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya menjadi pintar secara akademis, tetapi juga memiliki identitas, moral, dan kepedulian sosial yang kuat.
Peran mahasiswa dan organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam juga penting dalam mengawal proses ini melalui pembinaan, edukasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
pelajaran terpenting dari sejarah pendidikan Minahasa adalah: kemajuan tidak pernah bersifat permanen.
Ia harus terus diperjuangkan dan diperbarui. Dulu, masyarakat Minahasa mampu memanfaatkan pendidikan kolonial menjadi alat kemajuan. Hari ini, tantangannya berbeda tetapi prinsipnya sama: pendidikan harus relevan, inklusif, dan berorientasi masa depan.
Jika tidak, Minahasa hanya akan hidup dalam nostalgia sebagai “daerah yang dulu maju dalam pendidikan” tanpa benar-benar memimpin lagi di masa kini.











