Penyaluran Bantuan Pangan Capai 56,9 Persen, Bulog Gorontalo Pastikan Stok Beras Aman hingga Desember

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Perum Bulog Kantor Cabang Gorontalo memastikan ketersediaan beras di Provinsi Gorontalo tetap aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir 2026. 

Hal itu disampaikan di tengah berlangsungnya penyaluran bantuan pangan beras periode Juli–September 2026.

Pemimpin Cabang Bulog Gorontalo, Firmansyah, SH, mengatakan bantuan pangan periode tersebut menyasar 174.897 Penerima Bantuan Pangan (PBP) yang tersebar di enam kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan data Bulog per 8 September 2026, total pagu bantuan pangan beras mencapai 5.246.910 kilogram. 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.983.500 kilogram telah disalurkan atau mencapai 56,9 persen, sementara 2.263.410 kilogram masih tersisa.

Firmansyah menjelaskan, bantuan pangan untuk alokasi tiga bulan tersebut diberikan dengan total 30 kilogram beras untuk setiap penerima, atau 10 kilogram per bulan.

“Untuk tiga bulan itu masing-masing warga terima tiga puluh kilo satu kali penyaluran tiga bulan,” ujar Firmansyah.

Penyaluran bantuan pangan tersebut juga mendapat pemantauan pemerintah daerah. Monitoring dilakukan bersama Gubernur Gorontalo, Bupati Gorontalo, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi maupun kabupaten, hingga jajaran kecamatan dan kelurahan.

Dalam kegiatan monitoring, penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di sejumlah wilayah. 

Baca Juga :  Dua Tahun Yummi Place, Ummi Kalsum Mohammad: Kepercayaan Pelanggan Jadi Energi untuk Terus Berkembang

Desa Hunggaluwa tercatat memiliki 860 Penerima Bantuan Pangan (PBP) dengan kuantum tiga alokasi sebanyak 25.800 kilogram beras.

Sementara Desa Tenilo memiliki 300 PBP dengan kuantum tiga alokasi mencapai 9.000 kilogram beras.

“Desa Hunggaluwa beras 25.800 kilogram dan Desa Tenilo 9.000 kilogram,” kata Firmansyah.

Stok Beras Dipastikan Aman

Selain memastikan penyaluran bantuan pangan berjalan, Bulog juga memastikan ketersediaan stok beras di Gorontalo mencukupi hingga Desember 2026.

Firmansyah mengatakan stok yang tersedia masih ditambah dengan pasokan dari luar daerah, termasuk dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

“Jadi secara kecukupan stok cukup, perjalanan kita juga masih tunggu dua ratus lima puluh ton, itu pengiriman dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Tambahan pasokan tersebut diharapkan semakin memperkuat ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat, termasuk program bantuan pangan dan stabilisasi harga.

SPHP Capai 1.718 Ton

Untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog Gorontalo mencatat realisasi penyaluran mencapai 1.718 ton sejak Januari hingga 8 September 2026.

Angka tersebut merupakan penyaluran beras stabilisasi yang dilakukan Bulog melalui berbagai saluran distribusi untuk menjaga ketersediaan sekaligus membantu mengendalikan harga beras di masyarakat.

Baca Juga :  Dipercaya Lagi, Irianto Ahmad Lanjutkan Nahkoda SMSI Gorontalo Hingga 2030

“Realisasi beras stabilisasi SPHP 1.718 ton dari Januari sampai dengan 8 September 2026,” ujar Firmansyah.

Penyaluran SPHP dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari pasar rakyat, pengecer, outlet mitra Bulog hingga jaringan Rumah Pangan Kita (RPK).

Antisipasi Kemarau Panjang

Bulog juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga menjelang musim hujan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat distribusi beras SPHP dengan penyaluran sekitar 150 ton per minggu.

“Kita memang sudah antisipasi karena memprediksi dari BMKG, perkiraan nanti di November untuk sebelum ada hujan kemarau panjang ini pun yang pertama kami sudah menyalurkan bantuan pangan tiga bulan untuk bulan Juli Agustus September. SPHT kita kucurkan kurang lebih satu ratus lima puluh ton per minggu,” ujar Firmansyah.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembelian beras secara berlebihan karena stok pemerintah masih tersedia dan distribusi terus berjalan.

“Kita imbau warga Provinsi Gorontalo jangan panik,” tegasnya.

Penyalur SPHP Melanggar Bisa Diputus

Bulog bersama Dinas Ketahanan Pangan Provinsi maupun kabupaten/kota juga melakukan monitoring secara rutin terhadap penyaluran beras SPHP.

Baca Juga :  Nikmati Sensasi Wisata Hiu Paus di Gorontalo Hanya 28 Menit dari Aston Gorontalo

Pengawasan dilakukan untuk memastikan beras stabilisasi harga benar-benar dijual sesuai ketentuan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

“Tujuannya apa untuk memastikan bahwa mitra-mitra penyalur beras stabilisasi harga ini SPHP ini betul-betul berkomitmen menyalurkan beras stabilisasi sesuai dengan ketentuan HET yang berlaku yang ditetapkan oleh pemerintah,” jelasnya.

Firmansyah menegaskan, Bulog tidak akan membiarkan adanya mitra yang menjual beras SPHP di atas ketentuan harga. 

Jika ditemukan pelanggaran dalam monitoring, kerja sama dengan penyalur akan dievaluasi dan dapat dihentikan.

“Kalau pada saat monitoring ditemukan terdapat rekanan yang menjual di atas HET, langsung kami evaluasi dan kami lakukan pemutusan kerjasama,” tegasnya.

Untuk tahap berikutnya, penyaluran bantuan pangan akan berlanjut pada alokasi Oktober–Desember 2026 dengan jumlah penerima yang masih mengacu pada alokasi Juli–September, yakni sekitar 174.897 penerima.

Dengan berbagai langkah tersebut, Bulog Gorontalo memastikan pasokan beras tetap tersedia sekaligus menjaga agar harga beras di tingkat masyarakat tetap terkendali, terutama menghadapi potensi kemarau panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *