Sains Ungkap Kemungkinan di Balik Kisah Nabi Musa Membelah Laut

Tabayyun.co.id, JAKARTA — Sejumlah ilmuwan mencoba mengkaji kemungkinan penjelasan ilmiah di balik kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah, sebuah peristiwa yang diyakini terjadi sekitar 3.500 tahun lalu.

Dalam berbagai penelitian, peristiwa tersebut disebut dapat dijelaskan melalui fenomena alam tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penjelasan supranatural. Para peneliti menyoroti kombinasi faktor cuaca ekstrem dan kondisi geografis sebagai kemungkinan utama.

Simulasi komputer menunjukkan bahwa angin kencang dengan kecepatan sekitar 100 kilometer per jam dapat mendorong air laut hingga membuka jalur selebar beberapa kilometer di perairan dangkal. Ketika angin berhenti, air akan kembali dengan cepat, menyerupai gelombang besar yang berpotensi menenggelamkan apa pun di jalurnya.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Terombang-ambing, Ini Prediksi Level Aman dan Risiko

Carl Drews dari National Center for Atmospheric Research menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hasil interaksi antara kondisi alam dan momentum waktu yang tepat.

Dalam kisah kitab suci, Nabi Musa memimpin kaumnya keluar dari Mesir dan terjebak di antara laut dan pasukan Firaun. Setelah menunggu semalam, laut dikisahkan terbelah, membuka jalan bagi mereka untuk menyeberang.

Sejumlah peneliti awalnya mengaitkan peristiwa ini dengan Teluk Aqaba, yang dikenal memiliki kedalaman hingga ratusan meter. Namun, kajian terbaru lebih mengarah ke Teluk Suez yang lebih dangkal dan memiliki dasar laut relatif datar.

Baca Juga :  Kereta Kerakyatan Hadir untuk Mudik, Tiket Lebih Terjangkau dan Nyaman

Lokasi ini dinilai lebih memungkinkan untuk fenomena surut ekstrem yang memungkinkan penyeberangan. Catatan sejarah juga menunjukkan kejadian serupa pernah dialami pasukan Napoleon Bonaparte pada 1789, saat hampir tersapu air pasang setelah menyeberangi wilayah tersebut.

Sementara itu, Bruce Parker menyebut bahwa pengetahuan tentang pasang surut bisa menjadi faktor penting dalam peristiwa tersebut.

“Musa pernah tinggal di padang gurun sekitar wilayah itu, ia tahu lokasi kafilah menyeberang saat air surut. Ia juga paham langit malam serta metode kuno untuk memprediksi pasang surut, berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya,” kata Parker dalam tulisannya.

Pendapat lain disampaikan Nathan Paldor yang menjelaskan bahwa angin kuat yang bertiup dalam waktu lama mampu mendorong air laut menjauh dan membuka daratan sementara.

Baca Juga :  Rayuan Palsu Berujung Pidana, Pemuda Cabuli Gadis dengan Modus Nikah

Meski demikian, sejumlah ilmuwan tetap melihat kisah ini tidak hanya dari sudut pandang ilmiah semata. Drews menilai bahwa sains dan kepercayaan dapat berjalan beriringan.

“Bagi saya pribadi, sebagai seorang Lutheran, saya selalu percaya bahwa iman dan sains dapat berjalan beriringan. Sudah sepatutnya seorang ilmuwan menelaah aspek-aspek alamiah dari kisah ini,” ujarnya.

Kajian ini menunjukkan bahwa fenomena alam dapat memberikan perspektif baru terhadap kisah-kisah kuno, tanpa harus menghilangkan makna spiritual yang diyakini oleh banyak orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *