TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat tingkat inflasi pada Juni 2026 mencapai 2,11 persen.
Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan, dengan cabai rawit menjadi penyumbang terbesar.
Selain cabai rawit, tekanan inflasi juga berasal dari kenaikan harga bawang merah, tomat, dan beras. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang paling besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen pada periode tersebut.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan lonjakan harga cabai rawit menjadi faktor yang paling dominan. Bahkan, harga komoditas tersebut tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut Agus, peningkatan permintaan bahan pangan tidak terlepas dari penyelenggaraan Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) 2026 di Gorontalo. Aktivitas masyarakat yang meningkat selama agenda berskala nasional itu mendorong konsumsi berbagai kebutuhan pokok.
Meski terjadi kenaikan harga, BPS menilai laju inflasi Gorontalo secara umum masih berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan pemerintah. Namun demikian, inflasi tahun kalender (year-to-date) yang sudah mencapai 3,27 persen perlu menjadi perhatian karena mendekati batas atas target nasional sebesar 3,5 persen.
Di tengah meningkatnya inflasi, sektor pertanian justru mencatat perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo pada Juni 2026 naik 7,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pendapatan petani mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pengeluaran rumah tangga mereka.
BPS berharap pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah pengendalian harga pangan. Upaya itu dinilai penting agar inflasi bulanan tetap terkendali dan tidak melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah.






