Buntut Penonaktifan Kades Toto Utara, Menelisik Jejak Ismet Mile: Dari Panglima Pemekaran hingga Pernah Mendekam di Penjara Jadi Perbincangan

TABAYYUN.CO.ID, BONE BOLANGO – Keputusan Bupati Bone Bolango Ismet Mile menonaktifkan sementara Kepala Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila, Ramla Djafar, memunculkan perbincangan luas di tengah masyarakat.

Polemik tersebut tidak hanya berkaitan dengan keputusan administratif terhadap seorang kepala desa. Di ruang publik, rekam jejak Ismet Mile kembali menjadi bahan pembicaraan, termasuk perjalanan panjangnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah terbentuknya Kabupaten Bone Bolango.

Ismet Mile dikenal sebagai Bupati Bone Bolango pertama setelah daerah tersebut berdiri sebagai kabupaten hasil pemekaran. Ia memimpin Bone Bolango pada periode 2005-2010 dan kembali dipercaya masyarakat untuk memimpin daerah itu bersama Risman Tolingguhu pada periode 2025-2030.

Pasangan Ismet Mile-Risman Tolingguhu dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 20 Februari 2025. Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menyebut Ismet sebagai sosok yang turut meletakkan pondasi awal pembangunan daerah.

Dari Birokrasi hingga Pemekaran Bone Bolango

Sebelum masuk ke panggung politik daerah, Ismet Mile memiliki pengalaman panjang di pemerintahan dan organisasi.

Ia pernah menjalani sejumlah jabatan birokrasi, termasuk sebagai pembantu bupati di wilayah Tapa, Kabila, Suwawa dan Bone Pantai. Pemerintah Kabupaten Bone Bolango juga mencatat pengalaman Ismet sebagai Wakil Bupati Gorontalo dan Penjabat Bupati Bone Bolango sebelum kemudian menjadi bupati definitif pertama daerah tersebut.

Perjalanan Ismet dalam memperjuangkan pemekaran Bone Bolango kemudian membuat namanya melekat dengan julukan “Panglima Pemekaran.”

Dalam berbagai kesempatan, Ismet menceritakan bahwa perjuangan membentuk Bone Bolango bukanlah proses yang mudah. Bahkan, dalam sebuah kegiatan literasi pada 2025, ia kembali mengisahkan perjuangannya bersama sejumlah tokoh untuk mewujudkan daerah otonom tersebut.

Baca Juga :  Ditekan Kinerja, Tapi Tak Digaji: Suara Kritik untuk BUMDes

Karena itu, Ismet tidak hanya dipandang sebagai mantan kepala daerah, tetapi juga sebagai figur yang dianggap memiliki bagian penting dalam sejarah awal pembangunan Bone Bolango.

Pernah Tersandung Kasus Korupsi

Namun, perjalanan politik Ismet Mile juga tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Nama Ismet pernah terseret perkara korupsi terkait proyek pengendalian banjir di Bone Bolango. Dalam perkara tersebut, ia dijatuhi hukuman pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan.

Status tersebut tercatat secara resmi dalam berbagai dokumen penyelenggara pemilu dan putusan pengadilan. Dokumen Mahkamah Konstitusi menyebut Ismet sebagai mantan terpidana yang telah selesai menjalani pidananya pada 3 Desember 2014.

Dengan demikian, istilah yang tepat secara hukum untuk menggambarkan status Ismet saat ini adalah mantan terpidana, bukan narasi yang seolah-olah ia masih menjalani hukuman.

Dalam proses pencalonannya pada Pilkada Bone Bolango 2024, status tersebut juga telah menjadi bagian dari dokumen dan pembahasan terkait persyaratan pencalonan. Mahkamah Konstitusi mencatat bahwa Ismet telah mengumumkan kepada publik statusnya sebagai mantan terpidana melalui media cetak.

Jejak hukum itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Ismet: dari tokoh yang memperjuangkan pemekaran Bone Bolango, kemudian memimpin daerah, tersandung perkara hukum, hingga akhirnya kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk memimpin Bone Bolango.

Dari “Panglima Pemekaran” hingga “Gembala Sapi”

Di sisi lain, Ismet Mile juga memiliki rekam jejak program pemberdayaan masyarakat yang cukup melekat di ingatan publik.

Salah satu program yang identik dengan kepemimpinannya adalah bantuan ternak sapi kepada masyarakat. Program tersebut kemudian membuat Ismet dikenal dengan julukan “Si Gembala Sapi.”

Program peternakan itu menjadi salah satu narasi yang kembali muncul ketika Ismet maju bersama Risman Tolingguhu dalam Pilkada Bone Bolango 2024.

Baca Juga :  Ismet Mile Salurkan 45 Ton Benih Padi, Genjot Produksi dan Perkuat Ketahanan Pangan Bone Bolango

Dalam pemberitaan Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, masyarakat bahkan pernah menyampaikan harapan agar janji kampanye terkait bantuan sapi dapat direalisasikan pemerintahan Ismet-Risman.

Penonaktifan Kades Toto Utara Jadi Sorotan

Kini, nama Ismet kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Desa Toto Utara, Ramla Djafar, dinonaktifkan sementara dari jabatannya.

Keputusan tersebut menjadi perhatian publik setelah muncul polemik terkait persoalan administrasi tanah milik pemerintah daerah di Desa Toto Utara. Berdasarkan pemberitaan yang memuat salinan keputusan, Bupati Ismet Mile menetapkan pemberhentian sementara Ramla Djafar dan menunjuk Jusri Utiarahman sebagai Penjabat Kepala Desa Toto Utara. Keputusan itu ditetapkan pada 24 Juli 2026.

Peristiwa tersebut kemudian berkembang di media sosial.

Salah satu unggahan Facebook dari akun Gtlo Karlota menampilkan gambar Ismet Mile dengan narasi yang mengaitkan dirinya dengan perkara hukum masa lalu

Namun, alih-alih hanya membahas persoalan hukum tersebut, sejumlah warganet justru mengarahkan pembicaraan kepada janji kampanye Ismet-Risman mengenai program bantuan sapi.

Kolom komentar pun dipenuhi pertanyaan mengenai realisasi program tersebut.

“Wey mana sapi,” tulis akun Harto Nggule.

Komentar itu kemudian mendapat tanggapan dari warganet lain.

“So ada ng p saki? ,” tulis akun IndahOlii sembari menandai akun Ainunkumisi.

Sementara akun jhokojo menanggapi singkat dengan kalimat, “sapi Palemba”.

Pertanyaan serupa juga disampaikan akun Indah Suleman.

“Info yang so dapa sapi?” tulisnya.

Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa di tengah polemik penonaktifan kepala desa, publik tidak hanya memperbincangkan keputusan Bupati Ismet Mile, tetapi juga mulai mengingat kembali program yang pernah dijanjikan pasangan IRIS saat Pilkada Bone Bolango 2024.

Baca Juga :  Distribusi MBG Molor di SPPG Dutohe Barat, Siswa Diminta Kembali ke Sekolah Jelang Sore

Ketika Janji Kampanye Ditagih

Program bantuan sapi menjadi salah satu janji yang cukup dikenal dalam kampanye Ismet Mile-Risman Tolingguhu.
Pemerintah daerah sebelumnya juga menyebut bahwa program pemberdayaan masyarakat melalui peternakan merupakan bagian dari gagasan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Karena itu, pertanyaan mengenai realisasi bantuan sapi bukan sekadar percakapan di media sosial. Bagi sebagian masyarakat, program tersebut merupakan bagian dari ekspektasi terhadap pemerintahan IRIS setelah memperoleh mandat untuk memimpin Bone Bolango selama lima tahun.

Ismet dan Ujian Babak Kedua

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menyatakan bahwa pemerintahan IRIS memiliki sejumlah prioritas pembangunan, termasuk percepatan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kini, perjalanan Ismet Mile memasuki babak baru.

Sosok yang pernah dikenal sebagai “Panglima Pemekaran”, pernah memimpin Bone Bolango pada periode pertama, kemudian berstatus mantan terpidana, dan akhirnya kembali terpilih sebagai bupati, kembali berada di tengah sorotan publik.

Penonaktifan Kepala Desa Toto Utara menjadi salah satu ujian politik dan pemerintahan bagi kepemimpinan Ismet-Risman.

Sementara itu, pertanyaan warga mengenai janji bantuan sapi juga memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya menilai pemerintah dari keputusan-keputusan administratif, tetapi juga dari seberapa jauh janji yang disampaikan saat kampanye dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, sejarah panjang Ismet Mile akan terus menjadi bagian dari perjalanan Bone Bolango. Namun, bagi masyarakat hari ini, ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya pada catatan masa lalu, melainkan juga pada kemampuan menghadirkan program yang dijanjikan dan menjawab persoalan yang mereka hadapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *