TABAYYUN. C.O.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Pelemahan mata uang Garuda ini dipengaruhi sentimen negatif dari dalam negeri, terutama kekhawatiran pasar terhadap potensi perubahan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah ditutup pada posisi Rp 18.027 per dolar AS. Angka tersebut melemah Rp 89 atau 0,50% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Dalam periode sepekan, rupiah tercatat terkoreksi 0,71% dari posisi Rp 17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026).
Tekanan serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI). Kurs Jisdor melemah Rp 104 atau 0,58% dalam sehari menjadi Rp 18.052 per dolar AS.
Secara mingguan, nilai tukar berdasarkan Jisdor turun 0,94% dibandingkan posisi Rp 17.884 per dolar AS pada pekan sebelumnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu sentimen negatif dari pasar domestik. Kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia turut memperburuk kondisi tersebut.
“Perlemahan ini murni sentimen negatif domestik, indeks dolar AS sendiri terpantau menurun oleh meredanya sell off obligasi global,” ungkap Lukman kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Kekhawatiran pasar berkaitan dengan evaluasi MSCI terhadap transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Penilaian tersebut dinilai belum menunjukkan perbaikan yang memadai sejak Februari 2026.
Kondisi itu memunculkan risiko perubahan klasifikasi Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Jika terealisasi, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Rupiah Pekan Depan Masih Dibayangi Tekanan
Memasuki pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih rentan terhadap tekanan. Lukman menilai arah mata uang domestik akan bergantung pada respons investor dan pemerintah terhadap perkembangan isu MSCI.
Dari faktor eksternal, tidak ada rilis data ekonomi utama yang dijadwalkan pada pekan mendatang. Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Keputusan BI mengenai suku bunga acuan menjadi salah satu faktor penting yang dicermati investor, terutama dalam kaitannya dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar.
Lukman memperkirakan BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan untuk meredam gejolak rupiah. Langkah tersebut menjadi salah satu opsi kebijakan yang dapat diperhitungkan dalam menghadapi tekanan terhadap mata uang domestik.
Untuk pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.250 per dolar AS. Perkembangan sentimen MSCI dan respons kebijakan pemerintah serta bank sentral akan menjadi faktor yang patut dicermati pasar.











