Hampir Sebulan Tanpa Hujan, Sawah Huidu Mengering, H. Suyuti Bergerak Cepat Pakai Dana Pribadi

TABAYYUN.CO.ID, LIMBOTO – Kekhawatiran gagal panen sempat menghantui para petani di Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Di tengah musim tanam, puluhan hektare sawah justru menghadapi persoalan serius. Pasokan air ke areal pertanian terhenti setelah jaringan irigasi penghubung dipenuhi sedimentasi lumpur pekat dan material padat yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Kondisi tersebut diperparah cuaca panas yang berlangsung hampir sebulan. Minimnya pasokan air dari jaringan irigasi, ditambah teriknya cuaca, membuat lahan pertanian warga semakin cepat mengering.

Akibatnya, aliran air menuju areal persawahan terhenti. Sedikitnya 40 hektare lahan produktif terdampak kondisi tersebut.

Bagi petani, persoalan itu bukan sekadar saluran air yang tersumbat. Terhentinya irigasi di tengah cuaca panas berarti tanaman yang sudah ditanam berada dalam ancaman.

Aktivitas perawatan sawah ikut terganggu, sementara potensi kerugian semakin besar jika kondisi tersebut tidak segera ditangani.

Kekeringan yang meluas bahkan mulai membayangi keberlangsungan musim tanam. Para petani berada dalam situasi serba sulit karena tanaman membutuhkan air, sementara saluran yang menjadi jalur utama distribusi justru tidak mampu mengalirkan pasokan secara optimal.

Baca Juga :  UMGO Cetak 337 Lulusan Baru, Rektor Prof. Dr. H. Abdul Kadim Masaong: Kampus Kini Masuki Fase “Excellent and Leading University

Persoalan tersebut kemudian mengemuka dalam agenda reses untuk menyerap aspirasi masyarakat. Mendapati kondisi yang dihadapi petani, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Suyuti, bersama Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo, Asni Menu, turun langsung ke lokasi pada Senin (27/7/2026).

Di lapangan, keduanya melihat langsung kondisi jaringan irigasi yang dipenuhi endapan sedimentasi.

Situasi tersebut dinilai membutuhkan penanganan segera. Sebab, jika saluran tetap tersumbat sementara cuaca panas terus berlangsung, ancaman terhadap tanaman padi dan keberlangsungan musim tanam akan semakin besar.

Namun, pengerukan saluran tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Pemerintah daerah menghadapi keterbatasan anggaran, terutama di tengah kebijakan efisiensi belanja.

Bagi petani, waktu menjadi persoalan penting. Setiap hari tanpa pasokan air dapat memperbesar risiko kerusakan tanaman dan kerugian ekonomi.

Melihat kondisi itu, H. Suyuti mengambil langkah cepat. Ia menginisiasi pembiayaan pembersihan saluran menggunakan anggaran pribadi atau APRS untuk mendatangkan alat berat jenis ekskavator.

Alat berat tersebut kemudian dikerahkan ke titik-titik yang mengalami penumpukan material paling parah.

Baca Juga :  ​ZAMRUD Soroti Tata Kelola RTH Telaga Park, Desak Pemda Lakukan Evaluasi

Pengerukan dilakukan dengan menyasar endapan lumpur pekat yang telah mengeras di sepanjang saluran utama. Sedimentasi yang selama bertahun-tahun mempersempit sekaligus mendangkalkan saluran dibersihkan agar kapasitas aliran air dapat kembali normal.

“Kalau saluran ini tidak segera dibersihkan, petani akan mengalami gagal panen. Karena itu kami bergerak cepat agar air bisa kembali mengalir dan para petani dapat melanjutkan aktivitas pertanian mereka,” ujar H. Suyuti.

Upaya tersebut akhirnya memberikan hasil. Setelah pengerukan selesai, material sedimentasi yang sebelumnya menjadi penghalang berhasil disingkirkan.

Air yang sempat terhenti kembali mengalir melalui saluran menuju areal persawahan. Di tengah cuaca panas yang telah berlangsung hampir sebulan, kembalinya aliran air menjadi angin segar bagi petani.

Lahan pertanian yang sebelumnya mulai mengering kembali mendapatkan pasokan air. Bagi para petani, air yang kembali mengalir bukan sekadar kabar baik, tetapi juga membuka peluang untuk menyelamatkan tanaman dan mempertahankan musim tanam.

“Alhamdulillah, air sudah kembali mengalir. Ini menjadi harapan baru bagi para petani untuk melanjutkan musim tanam dan menghindari gagal panen,” kata H. Suyuti.

Baca Juga :  Ulang Tahun Bernilai Promosi, Rakhmatiyah Deu Kenalkan Potensi Pentadio Resort

Persoalan di Desa Huidu sekaligus menjadi gambaran bahwa infrastruktur irigasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian.

Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, H. Suyuti, memantau langsung proses pengerukan saluran irigasi menggunakan alat berat di Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Pengerukan dilakukan untuk mengatasi sedimentasi dan mengembalikan kelancaran aliran air menuju areal persawahan petani.

Ketika saluran air terganggu, dampaknya tidak berhenti pada infrastruktur. Rantai produksi pangan, pendapatan petani, hingga keberlangsungan musim tanam ikut dipertaruhkan.

Terlebih ketika gangguan irigasi bertepatan dengan periode cuaca panas berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap pemeliharaan jaringan pengairan menjadi semakin mendesak.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya turun ketika persoalan sudah muncul. Pemeliharaan jaringan irigasi secara berkala dinilai perlu menjadi perhatian serius.

Petani juga mendorong adanya alokasi anggaran rutin untuk pengerukan sedimentasi dan perawatan saluran. Dengan begitu, persoalan serupa tidak terus berulang dan lahan produktif masyarakat tetap dapat memperoleh pasokan air secara optimal.

Bagi warga Desa Huidu, aliran air yang kembali mengalir bukan sekadar persoalan teknis. Di balik air yang kembali membasahi persawahan, ada harapan agar tanaman tetap tumbuh, musim tanam dapat diselamatkan, dan ancaman gagal panen tidak menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *