TABAYYUN.CO.ID,GORONTALO – Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan, terutama beras, agar masyarakat berpenghasilan rendah tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan hariannya. Upaya tersebut dilakukan melalui pengendalian inflasi dan penyediaan beras dengan harga terjangkau.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, M.Stat., menjelaskan bahwa narasi pemerintah mengenai kenaikan harga beras lebih mengarah pada kelompok beras premium.
Sementara itu, masyarakat berpenghasilan rendah masih memiliki akses terhadap beras dengan harga yang lebih terjangkau melalui berbagai skema intervensi pemerintah.
Menurut Agus, penghitungan garis kemiskinan tidak hanya melihat kelompok masyarakat miskin semata, tetapi mengacu pada pola pengeluaran penduduk secara umum, termasuk alokasi belanja untuk kebutuhan pangan seperti beras.
“Yang perlu dipahami adalah pemerintah berupaya memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap dapat membeli beras dengan harga yang terjangkau. Karena itu, ketika yang mengalami kenaikan adalah beras premium, pemerintah tetap menjaga agar tersedia alternatif beras yang dapat diakses oleh masyarakat miskin,” ujar Agus. Rabu,05/08/26.
Ia menjelaskan, apabila harga beras yang dikonsumsi masyarakat miskin ikut meningkat tanpa adanya intervensi, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi pola konsumsi rumah tangga.
Masyarakat dengan pendapatan terbatas, kata dia, cenderung akan mengurangi jumlah beras yang dibeli agar pengeluarannya tetap sesuai kemampuan. Kondisi itu berpotensi menurunkan kecukupan konsumsi kalori harian.
“Kalau pendapatan tetap, sementara harga beras naik, pilihan masyarakat biasanya mengurangi volume pembelian beras atau mengurangi pembelian lauk seperti telur dan ikan. Akibatnya, asupan energi harian bisa menurun dan berada di bawah standar kebutuhan minimum,” jelasnya.
Agus menambahkan, konsep tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah terus mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan strategis seperti beras, telur, ikan, dan bahan pokok lainnya.
Menurutnya, stabilitas harga bukan hanya bertujuan menjaga inflasi, tetapi juga memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori setiap hari.
“Pemerintah menjaga harga pangan agar masyarakat dengan pendapatan kecil tetap dapat mengonsumsi pangan sebagaimana bulan-bulan sebelumnya. Jadi bukan hanya beras, tetapi juga telur, ikan, dan berbagai komoditas lain yang berpengaruh terhadap kecukupan gizi,” katanya.
Agus menilai, sosialisasi mengenai kebijakan tersebut perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa pengendalian harga pangan lebih ditujukan untuk melindungi kelompok rentan.
“Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan lebih tinggi mungkin dampaknya tidak terlalu terasa karena mereka tetap mampu membeli beras dengan harga berapa pun. Namun bagi masyarakat berpenghasilan rendah, stabilitas harga sangat menentukan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari,” tutup Agus.












