Hasyim Djojohadikusumo Puji SMSI, Tapi Ingatkan Media Soal Informasi Menyesatkan

TABAYYUN.CO.ID, JAKARTA — Pengusaha sekaligus penasihat ekonomi Presiden Prabowo Subianto, Hasyim S. Djojohadikusumo, mengingatkan insan pers agar menyajikan informasi secara utuh dan tidak menyesatkan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Hasyim saat menjadi keynote speaker dalam Dialog Nasional yang digelar usai pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta.

Hasyim mengaku sengaja hadir dalam kegiatan tersebut karena memiliki kepercayaan terhadap SMSI dan program Jaga Desa yang digagas organisasi konstituen Dewan Pers itu.

“Saya percaya SMSI, saya mengapresiasi kegiatan ini karena itu saya datang,” ujar Hasyim.

Menurut Hasyim, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menunjukkan kondisi Jakarta di tengah beredarnya berbagai informasi mengenai eskalasi aksi demonstrasi.

Ia memastikan situasi di Jakarta tetap aman dan kondusif.

“Ini bukan hanya konfirmasi, tetapi testemoni nyata di sini (Jakarta-red) aman dan kondusif. Selamat SMSI, ini kegiatan positif, dan sangat bagus,” ucap Hasyim.

Baca Juga :  Dasco Dukung Putusan MK soal Kuota 30 Persen Caleg Perempuan

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa melibatkan lima provinsi yang menjadi wilayah percontohan atau pilot project SMSI. Kelima daerah tersebut yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Ketua Umum SMSI Pusat Firdaus mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis untuk mendorong media ikut mengawal pembangunan desa.

“Saya setuju Desa menjadi garda depan dan etalase negara, tidak menjadi entitas yang dinomorduakan,” ujar Firdaus.

Ia menjelaskan, setelah lima provinsi tersebut menjadi pilot project, SMSI akan melakukan konsolidasi agar program Jaga Desa dapat diterapkan secara serentak di seluruh provinsi.

Di hadapan peserta, Hasyim juga menekankan pentingnya tanggung jawab media dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” tegas Hasyim.

Ia menyoroti fenomena penyebaran informasi yang dilepaskan dari konteks. Menurutnya, informasi semacam itu dapat menimbulkan persepsi keliru dan mendistorsi kebijakan pemerintah yang tengah menjadi prioritas.

Baca Juga :  Kejagung Ungkap Dugaan Korupsi MBG, Dari Yayasan Afiliasi hingga Pengadaan Fiktif

Karena itu, Hasyim menyebut pihaknya telah mengagendakan dialog dengan sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), di antaranya BEM Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung.

Masukan dari kalangan kampus tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan rekomendasi kepada pemerintah.

“Sebagai penasehat Presiden masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hasyim juga merespons persoalan kondisi Gedung Dewan Pers yang dinilai sudah kurang representatif untuk menunjang aktivitas insan pers.

Ketua Umum SMSI Firdaus sebelumnya menyampaikan bahwa gedung tersebut memiliki posisi penting karena menjadi pusat berbagai kegiatan Dewan Pers dan organisasi konstituen pers.

“Di tempat ini Dewan Pers bermarkas, segala kegiatan Dewan Pers digerakkan dari gedung ini, tetapi konstituen belum bisa diakomodir. Jadi mereka (Konsituen) terpisah-pisah sesuai dengan kondisi masing-masing,” ujar Firdaus.

Baca Juga :  Prabowo Buka Istana Negara untuk Umum saat Idulfitri, Targetkan 5.000 Pengunjung

Hasyim menyambut positif masukan tersebut. Ia bahkan menyatakan akan membawa persoalan renovasi Gedung Dewan Pers dalam komunikasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

“Sayang saya baru dapat masukan ini sekarang, kemarin baru saja bertemu dan dialog panjang lebar dengan Mekomdigi, Meutya Hafid,” kata Hasyim.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan dari peserta yang hadir dalam kegiatan.

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa dan dialog nasional tersebut diikuti lebih dari 100 peserta serta undangan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dialog nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk Prof. Dr. Achmad Riyad U.B., PhD, Dewan Penasehat SMSI Jawa Timur, serta pakar ekonomi dan perbankan.

Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan pandangan kritis dari peserta. Diskusi tersebut dipandu Prof. Dr. Albertus Wahyu Rudhanto, guru besar dari PTIK.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *