Oleh: Mohamad Rizki Kakilo, S.Pi/Pemerhati Kelautan dan Perikanan
TABAYYUN.CO.ID, Opini – Kepulauan Togean tidak kekurangan alasan untuk menjadi salah satu wajah utama pariwisata bahari Tojo Una-Una. Gugusan pulau, terumbu karang, kehidupan bawah laut, serta masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut merupakan modal yang membuat kawasan ini memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi.
Namun, di balik potensi tersebut terdapat persoalan yang tidak boleh dipandang sebagai masalah sektor perikanan semata: illegal fishing dan destructive fishing.
Persoalannya menjadi semakin penting ketika pemerintah terus mendorong pengembangan pariwisata dan konektivitas menuju Kepulauan Togean. Sebab, wisata bahari pada dasarnya menjual pengalaman yang bersumber dari laut. Ketika laut mengalami kerusakan, yang dipertaruhkan bukan hanya stok ikan, tetapi juga masa depan destinasi wisata itu sendiri.
Ketika laut menjadi daya tarik sekaligus sumber kehidupan
Togean bukan sekadar kumpulan pulau dengan panorama yang indah. Bagi masyarakat pesisir, laut merupakan ruang hidup dan sumber penghasilan. Pada saat yang sama, ekosistem laut menjadi bagian penting dari daya tarik wisata.
Publikasi BPS Kabupaten Tojo Una-Una secara khusus mencatat pariwisata, transportasi, pertanian, kondisi sosial, hingga berbagai aspek ekonomi daerah. BPS juga menerbitkan Kabupaten Tojo Una-Una Dalam Angka 2026 sebagai
salah satu rujukan statistik untuk monitoring, evaluasi, dan kebijakan pembangunan daerah.
Artinya, pariwisata dan perikanan tidak seharusnya dipandang sebagai dua kepentingan yang berdiri sendiri. Keduanya bertemu pada satu fondasi yang sama: kesehatan ekosistem laut.
Di sinilah illegal fishing menjadi persoalan yang lebih besar daripada sekadar pelanggaran hukum.
Illegal fishing masih menjadi persoalan aktual
Pada Juni 2026, Kepala Dinas Perikanan Tojo Una-Una menyampaikan bahwa praktik illegal fishing masih ditemukan di perairan Kepulauan Togean. Menurutnya, sebagian besar pelaku berasal dari luar daerah, meskipun terdapat pula keterlibatan pihak lokal dalam membantu aktivitas tersebut. Luasnya wilayah perairan Togean disebut menjadi salah satu tantangan dalam pengawasan.
Persoalan tersebut bukan sekadar informasi administratif.
Pada 23 Juli 2026, Satpolairud Polres Tojo Una-Una menggagalkan dugaan praktik destructive fishing menggunakan bahan peledak di perairan Desa Pautu, Kecamatan Talatako. Tiga orang diamankan dan petugas menyita lima bom ikan aktif, perahu, mesin katinting, kompresor, serta sejumlah perlengkapan lainnya.
Perkara tersebut kemudian berlanjut ke proses hukum. Pada Agustus 2026, kepolisian menyerahkan dua tersangka beserta barang bukti kepada Kejaksaan Negeri Tojo Una-Una setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21.
Rangkaian fakta tersebut menunjukkan bahwa ancaman destructive fishing di Togean bukan sekadar kekhawatiran hipotetis. Aparat masih menemukan dan menangani kasus nyata di lapangan.
Yang rusak bukan hanya ikan
Dalam perdebatan mengenai illegal fishing, perhatian sering berhenti pada jumlah ikan yang hilang atau pelanggaran terhadap aturan penangkapan.
Padahal, penggunaan bahan peledak membawa persoalan yang jauh lebih panjang.
Kerusakan ekosistem laut dapat memengaruhi habitat berbagai biota, mengurangi kualitas kawasan perairan, dan pada akhirnya mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Laporan Japesda pada Desember 2025, misalnya, mencatat adanya dugaan pengeboman ikan di Desa Kadoda, Kecamatan Talatako. Menurut laporan tersebut, praktik serupa ditemukan dua kali dalam kurun enam bulan. Pada lokasi yang sama, kelompok nelayan juga menjalankan penutupan sementara wilayah tangkap gurita sebagai upaya menjaga keberlanjutan sumber daya.
Fakta ini menarik karena memperlihatkan dua wajah pengelolaan laut.
Di satu sisi, masih terdapat praktik yang berpotensi merusak sumber daya. Di sisi lain, masyarakat sendiri telah memiliki inisiatif untuk mengatur pemanfaatan wilayah tangkap dan memberikan waktu bagi sumber daya untuk pulih.
Artinya, masyarakat bukan sekadar bagian dari masalah. Mereka juga dapat menjadi bagian penting dari solusi.
Pariwisata tidak boleh hanya menghitung jumlah kunjungan
Di sinilah hubungan antara illegal fishing dan masa depan pariwisata Togean menjadi penting.
Keberhasilan pariwisata biasanya mudah dilihat melalui jumlah wisatawan, akomodasi, transportasi, usaha kuliner, jasa pemandu, hingga perputaran ekonomi.
Namun, ada indikator yang sering kurang terlihat: apakah aset alam yang menjadi alasan wisatawan datang masih terjaga?
Jika terumbu karang mengalami kerusakan, ikan semakin sulit ditemukan, kualitas lingkungan menurun, dan pengalaman wisata bahari berkurang, maka pertumbuhan pariwisata tidak memiliki fondasi yang kuat.
Karena itu, membangun pariwisata Togean tidak cukup dengan memperbaiki akses transportasi, mempromosikan destinasi, atau meningkatkan fasilitas wisata. Pengembangan pariwisata harus berjalan bersamaan dengan perlindungan ekosistem yang menjadi modal utamanya.
Tantangan pengawasan tidak sederhana
Pemerintah daerah sendiri mengakui bahwa luasnya kawasan perairan Togean menjadi tantangan dalam pengawasan. Dinas Perikanan menyebut keterbatasan personel dan anggaran sebagai salah satu kendala, sehingga masyarakat nelayan turut dilibatkan dalam pengawasan. Pendekatan tersebut patut diperhatikan.
Tidak mungkin seluruh pengawasan laut hanya bergantung pada patroli aparat. Masyarakat pesisir berada lebih dekat dengan wilayah aktivitas sehari-hari dan memiliki pengetahuan lokal mengenai kondisi perairan.
Karena itu, kelompok masyarakat pengawas, kelompok nelayan, pemerintah desa, aparat penegak hukum, Dinas Perikanan, dan Balai Taman Nasional perlu ditempatkan dalam satu ekosistem pengawasan yang saling terhubung.
Yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak patroli, tetapi juga mekanisme pelaporan yang mudah, respons yang cepat, perlindungan bagi pelapor, serta tindak lanjut hukum yang konsisten.
Konservasi dan ekonomi masyarakat harus berjalan bersama
Balai Taman Nasional Kepulauan Togean pada Juni 2026 juga menegaskan bahwa pengelolaan kawasan dilakukan melalui sistem zonasi. Masyarakat tetap diberikan ruang untuk memanfaatkan zona tertentu, termasuk zona tradisional dan zona pemanfaatan wisata, dengan catatan pemanfaatannya dilakukan secara legal dan tidak merusak lingkungan.
Pendekatan ini penting. Konservasi tidak seharusnya dimaknai sebagai menutup seluruh ruang pemanfaatan masyarakat. Sebaliknya, masyarakat juga tidak dapat menganggap laut sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas.
Keduanya membutuhkan titik temu: laut tetap produktif, masyarakat tetap memperoleh penghidupan, dan ekosistem tetap memiliki kesempatan untuk pulih dan bertahan.
Masa depan pariwisata Togean ditentukan oleh kesehatan laut
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah Togean memiliki potensi pariwisata. Potensinya sudah jelas. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa lama potensi tersebut dapat dipertahankan?
Pemerintah daerah saat ini memiliki tantangan ganda. Di satu sisi, konektivitas dan aktivitas ekonomi pariwisata perlu dikembangkan. Di sisi lain, sumber daya alam yang menjadi fondasi kegiatan tersebut harus dijaga.
Jika laut dijaga, pariwisata memiliki fondasi ekologis untuk berkembang. Nelayan memiliki peluang mempertahankan sumber penghidupan. Masyarakat pesisir memiliki alasan untuk terus terlibat dalam perlindungan lingkungan.
Sebaliknya, jika illegal fishing dan destructive fishing dibiarkan menjadi persoalan berulang, biaya yang harus dibayar bukan hanya biaya penegakan hukum. Masyarakat dapat kehilangan sumber penghidupan, ekosistem dapat mengalami tekanan, dan destinasi wisata dapat kehilangan sebagian daya tariknya.
Karena itu, pemberantasan illegal fishing seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan pariwisata Tojo Una-Una. Promosi Togean tidak boleh berhenti pada keindahan pantai dan bawah laut. Promosi harus disertai dengan cerita bahwa lautnya dijaga, masyarakatnya dilibatkan, dan pemanfaatannya dilakukan secara berkelanjutan.
Togean tidak membutuhkan sekadar lebih banyak orang yang datang.
Togean membutuhkan lebih banyak alasan agar orang ingin datang kembali.
Dan alasan itu hanya akan bertahan jika laut yang menjadi jantung pariwisatanya tetap hidup.
Sebab, masa depan pariwisata Togean pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah lautnya hari ini, tetapi oleh seberapa serius kita menjaganya untuk esok.











