Inflasi Gorontalo Tembus 4,44 Persen hingga September 2026, Cabai Rawit Jadi Biang Kerok

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Dampak fenomena El Niño yang memicu kekeringan berkepanjangan mulai dirasakan sektor pertanian di Gorontalo. Produksi cabai rawit yang menurun akibat minimnya curah hujan turut mendorong kenaikan harga dan menjadi penyumbang utama inflasi daerah pada September 2026.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, menjelaskan inflasi kumulatif atau year-to-date (ytd) Gorontalo sejak Januari hingga September 2026 mencapai 4,44 persen.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok pangan bergejolak atau volatile food menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan inflasi. Pada September 2026, cabai rawit tercatat sebagai komoditas utama penyumbang inflasi di Provinsi Gorontalo,” ucap Bambang. Rabu,28/10/26.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik konsumsi masyarakat Gorontalo yang cukup tinggi terhadap cabai rawit. Padahal, daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil cabai rawit dengan varietas lokal Samia yang memiliki tingkat kepedasan khas dan diminati konsumen di luar daerah.

Namun, kondisi cuaca ekstrem mengganggu produksi komoditas tersebut. Kekeringan yang berlangsung sejak pertengahan Juni berdampak pada sejumlah sentra produksi cabai rawit, termasuk wilayah Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo.

Baca Juga :  GKK 2026 Tutup Sejumlah Ruas Jalan, Jalur Ambulans dan Damkar Tetap Dibuka

Berkurangnya pasokan dari petani lokal membuat ketersediaan cabai rawit di pasar tertekan. Situasi ini kemudian memicu kenaikan harga dan menambah tekanan inflasi di daerah.

TPID Datangkan Cabai dari Sulawesi Selatan

Untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mengendalikan kenaikan harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Gorontalo menempuh sejumlah langkah, salah satunya mendatangkan cabai rawit dari Sulawesi Selatan.

Langkah tersebut menjadi upaya jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ketika produksi lokal belum mampu mencukupi permintaan pasar.

“Meski pasokan dari luar daerah memiliki harga yang relatif lebih tinggi, tambahan pasokan diharapkan dapat membantu meredam tekanan harga,” ujarnya.

Selain itu, upaya pengembangan varietas cabai rawit lokal juga menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan pasokan. Penanaman varietas lokal di wilayah Sulawesi Utara turut dijajaki untuk memperkuat kerja sama antardaerah dalam memenuhi kebutuhan komoditas tersebut.

Baca Juga :  Peserta Nilai GHM Berpotensi Dipolitisasi, Medali dan Jersey Jadi Sorotan

TPID juga menggelar operasi pasar dan gerakan pangan murah sebagai langkah untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

Peremajaan Tanaman hingga Kerja Sama Antardaerah

Tidak hanya berfokus pada penanganan jangka pendek, pengendalian inflasi juga diarahkan pada penguatan produksi dan distribusi pangan dalam jangka menengah.

Salah satu langkah yang didorong ialah peremajaan tanaman cabai rawit agar produktivitas dapat kembali meningkat setelah terdampak kekeringan.

Kerja sama antardaerah juga diperkuat untuk menjaga kelancaran pasokan berbagai komoditas pangan, termasuk bawang merah. Strategi ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap produksi lokal ketika terjadi gangguan cuaca maupun penurunan hasil panen.

Di sisi lain, masyarakat didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus mengurangi tekanan permintaan terhadap pasokan cabai di pasar.

Harga Sejumlah Komoditas Relatif Stabil

Baca Juga :  GoHM 2026 Bidik Pelari Sulawesi Utara, Tebar Diskon Rp50 Ribu di Tiga Daerah

Di tengah tekanan inflasi pangan, sejumlah komoditas lain seperti beras, daging ayam, dan ikan relatif menunjukkan kondisi harga yang stabil.

Meski demikian, TPID tetap mewaspadai potensi kenaikan harga komoditas hortikultura lainnya. Tomat, misalnya, mulai mengalami kenaikan harga yang juga dipengaruhi oleh kondisi kekeringan.

Karena itu, pemantauan pasokan dan harga pangan terus diperlukan agar kenaikan harga pada satu komoditas tidak meluas dan membebani daya beli masyarakat.

Bambang menjelaskan bahwa angka inflasi kumulatif hingga September belum menjadi gambaran akhir inflasi sepanjang 2026. Perkembangan inflasi pada Oktober, November, dan Desember masih akan menentukan posisi inflasi pada akhir tahun.

Melalui penguatan pasokan dari luar daerah, operasi pasar, gerakan pangan murah, perbaikan produksi, serta edukasi kepada masyarakat, TPID bersama BI berharap tekanan inflasi di Gorontalo dapat dikendalikan hingga akhir tahun.

Upaya tersebut menjadi penting agar ketersediaan pangan tetap terjaga dan kenaikan harga komoditas strategis tidak semakin membebani masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *