TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Isu dugaan pecah kongsi antara Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah mulai mengusik perhatian publik.
Menariknya, isu tersebut muncul di tengah mulai berkembangnya wacana politik Adhan Dambea–Idah Syahidah untuk menghadapi Pilgub Gorontalo mendatang.
Situasi ini kemudian memunculkan tanggapan beragam dari warga. Salah satunya datang dari warga Bone Bolango, Noldi Katili. Pria yang akrab disapa Noka ini mengingatkan agar publik tidak terlalu cepat menarik kesimpulan.
Menurutnya, politik memang penuh kalkulasi. Tetapi kalau setiap wacana politik langsung dianggap sebagai tanda keretakan pemerintahan, maka politik bisa berubah menjadi sinetron yang episodenya tidak pernah selesai.
Ia menilai, munculnya wacana Adhan–Idah memang tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik Gorontalo. Namun, wacana politik tetaplah wacana sampai benar-benar menjadi keputusan politik.
“Adhan–Idah itu baru wacana politik. Jangan karena ada wacana, lalu semua gerak Gusnar dan Idah dibaca sebagai kode-kode perpisahan. Lama-lama bukan lagi politik yang dianalisis, tetapi ekspresi wajah pejabat yang dianalisis,” ujarnya.
Noka juga mengingatkan bahwa pada 26 Agustus 2026, Gusnar dan Idah masih terlihat bersama memimpin rapat pimpinan Pemprov Gorontalo.
“Jadi yang harus dibedakan itu fakta dengan tafsir. Kalau masih bekerja bersama, ya biarkan bekerja. Jangan karena Pilgub masih jauh, kita sudah sibuk membagi pasangan,” katanya.
Menurut Noka, rakyat justru membutuhkan pemerintah yang fokus bekerja, bukan elite yang terlalu cepat masuk dalam pertarungan politik berikutnya.
Ia pun melontarkan kritik tajam terhadap kegaduhan politik yang tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Rakyat tidak makan dari isu pecah kongsi. Rakyat juga tidak mendapatkan pekerjaan dari perang pernyataan siapa calon Gubernur berikutnya. Yang rakyat butuhkan adalah ekonomi bergerak, pembangunan berjalan, pelayanan publik membaik, dan pemerintah hadir,” katanya.
Noka pun dengan tegas mengingatkan para elite politik agar tidak tambrus (tambah-tambah urusan, red).
“Politik boleh dimainkan, tetapi rakyat jangan dijadikan penonton. Kalau elite sibuk mengurus kekuasaan, sementara rakyat sibuk mengurus kehidupan, itu namanya bukan lagi dinamika politik. Itu sudah tambrus,” pungkasnya.










