TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai mematangkan persiapan menghadapi visitasi Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 September 2026.
Visitasi tersebut menjadi bagian dari proses penilaian terhadap kesiapan destinasi, fasilitas, serta layanan pariwisata yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim di Gorontalo.
Persiapan dibahas melalui rapat koordinasi yang melibatkan Bank Indonesia (BI), Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Provinsi Gorontalo, KDEKS, PJPH, Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Bone Bolango.
Dalam rapat itu, pemerintah mengevaluasi sejumlah catatan dari penilaian IMTI 2025. Salah satu aspek yang dinilai masih perlu diperkuat adalah aksesibilitas serta konektivitas menuju destinasi dan fasilitas pendukung pariwisata.
Selain itu, tentative kunjungan kembali disesuaikan. Penyesuaian meliputi lokasi yang akan dikunjungi tim IMTI serta penentuan person in charge (PIC) yang akan bertanggung jawab di setiap lokasi.
Ada pula penambahan Universitas Islam Negeri (UIN) dalam daftar lokasi kunjungan. Kehadiran UIN diarahkan untuk memperkuat kolaborasi dengan sektor akademisi.
UIN juga memiliki Halal Center yang diproyeksikan mengembangkan sejumlah program pada 2027. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem pariwisata ramah muslim di Gorontalo.
Untuk kunjungan ke Zona Khas Perintis dan destinasi Hiu Paus Botubarani, tim IMTI nantinya akan didampingi Dinas Pariwisata Kabupaten Bone Bolango.
Sementara untuk visitasi Bandara Djalaluddin, pendampingan akan dilakukan langsung oleh Kepala Bandara. Kegiatan tersebut dijadwalkan diawali dengan entry briefing di ruang VIP.
Kepala Disparekrafpora Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, memastikan pemerintah daerah siap mendukung seluruh rangkaian visitasi.
“Kita ingin memastikan seluruh aspek yang menjadi indikator penilaian dapat dipersiapkan dengan baik. Kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar pelayanan ramah muslim di Gorontalo semakin kuat,” ujar Sultan.
Menurut dia, kesiapan tidak hanya berkaitan dengan destinasi wisata. Fasilitas penunjang seperti akomodasi juga perlu mendapat perhatian agar memberikan kenyamanan selama proses visitasi.
Sultan menyarankan Grand Q Hotel menjadi salah satu pilihan akomodasi bagi tim IMTI. Pertimbangannya, hotel tersebut memiliki fasilitas musala yang dinilai terawat dan mudah diakses.
“Kita juga harus memastikan fasilitas pendukung, termasuk hotel, memberikan kenyamanan bagi tim selama berada di Gorontalo,” tambahnya.
Persiapan lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat posisi Gorontalo dalam penilaian IMTI 2026 sekaligus mendorong peningkatan kualitas layanan pariwisata yang semakin inklusif bagi wisatawan muslim.










