GORONTALO — Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi membuka Program Studi Pendidikan Dokter sebagai bagian dari program percepatan spesialis dan subspesialis, Selasa (3/3/2026). Peluncuran berlangsung di Ballroom TC Damhil UNG dan menjadi momentum penting bagi penguatan layanan kesehatan di kawasan Timur Indonesia.
Program ini turut menggandeng Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado sebagai mitra strategis. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas akses pendidikan dokter spesialis sekaligus menjawab kebutuhan tenaga medis rujukan di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Gorontalo, Bupati Gorontalo Utara, Wakil Bupati Pohuwato, pimpinan perguruan tinggi, dekan, guru besar, serta kalangan dokter. Peluncuran ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap agenda nasional Asta Cita, khususnya penguatan sumber daya manusia di sektor kesehatan.
Rektor UNG dalam sambutannya menyoroti tantangan serius pemenuhan dokter spesialis di kawasan Timur Indonesia yang masih terbatas.
“Kita ketahui bersama, selama ini kawasan Timur yang dikenal dengan istilah Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua) masih sangat terbatas dalam penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis. Sepengetahuan saya, baru Universitas Hasanuddin dan Universitas Sam Ratulangi yang lebih dahulu menyelenggarakannya,” ujar Rektor UNG.
Menurutnya, sinergi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Kementerian Kesehatan menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan spesialis di luar Pulau Jawa.
UNG kini dipercaya membuka Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Anestesi. Rektor mengungkapkan bahwa dalam waktu yang cukup lama, layanan anestesi di Gorontalo bahkan pernah hanya ditangani satu dokter spesialis.
“Insya Allah ke depan, bukan hanya terjadi penambahan jumlah tenaga, tetapi kita mampu menghasilkan dokter spesialis anestesi dari daerah sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengakui bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan pendidikan kedokteran masih dibayangi keterbatasan anggaran.
“Saat kami mulai menjabat, fiskal Gorontalo sekitar Rp1,9 triliun. Setelah efisiensi menjadi Rp1,7 triliun, tahun 2025 sekitar Rp1,5 triliun, dan 2026 tentu tantangannya lebih besar lagi. Karena itu kita perlu duduk bersama, termasuk dengan DPRD dan dunia usaha, agar akses pendidikan kedokteran semakin terbuka,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara UNG dan Unsrat Manado untuk memperkuat sistem layanan kesehatan rujukan di kawasan Timur Indonesia.
Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus Thomas Mopili turut memberikan apresiasi terhadap pembukaan program tersebut.
“Kami di DPRD tentu memberikan dukungan penuh terhadap pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter dan akselerasi spesialis ini. Ini bukan hanya kebanggaan bagi UNG, tetapi juga menjadi jawaban atas kebutuhan riil masyarakat Gorontalo terhadap layanan kesehatan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, DPRD akan tetap mengawal kebijakan anggaran agar sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas, meski kondisi fiskal daerah terbatas.
“Memang benar, kondisi fiskal kita terbatas. Tetapi dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi semua pihak, termasuk dukungan CSR dari dunia usaha, kami optimistis akses anak-anak Gorontalo untuk menjadi dokter dan dokter spesialis akan semakin terbuka,” tambahnya.
DPRD juga berharap lulusan program ini dapat mengabdi di daerah sendiri sehingga ketergantungan terhadap tenaga medis dari luar daerah dapat dikurangi secara bertahap.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter dan akselerasi spesialis–subspesialis ini diharapkan menjadi tonggak baru pemerataan layanan kesehatan serta penguatan kualitas SDM medis di Gorontalo dan kawasan Timur Indonesia.















