Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo Pantau Dampak Kemarau di Tapadaa, Warga Masih Aman

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Ancaman kekeringan akibat musim kemarau menjadi perhatian Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo.

Legislator memilih turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi masyarakat sekaligus kesiapan pemerintah desa menghadapi potensi dampak kemarau.

Monitoring dilakukan di Desa Tapadaa, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Rabu (16/9/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Fadli Poha. Rombongan diterima Kepala Desa Tapadaa, Risden Pakaya.

Dalam pertemuan itu, Komisi I menggali kondisi terkini masyarakat, terutama menyangkut ketersediaan air bersih serta langkah antisipasi pemerintah desa apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Baca Juga :  El Madrasah Drum Corps MTsN 1 Gorontalo Sabet Juara Umum TMC Sulut, DPRD Provinsi Beri Apresiasi

Kepala Desa Tapadaa Risden Pakaya mengatakan, Pemerintah Kabupaten Boalemo telah menginstruksikan pemerintah kecamatan dan desa untuk melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak musim kemarau.

“Pendataan dilakukan untuk mengetahui masyarakat yang terdampak, baik terkait kebutuhan air bersih maupun persoalan lain yang disebabkan kekeringan,” jelas Risden.

Meski kondisi Desa Tapadaa masih relatif aman, Fadli meminta pemerintah desa tetap waspada. Menurutnya, kondisi cuaca dan dampak kemarau di sejumlah wilayah perlu terus dipantau karena belum dapat dipastikan kapan berakhir.

“Kita harus terus memantau situasi dan kondisi masyarakat. Jangan sampai kita lengah. Masyarakat juga perlu saling mengingatkan, terutama tidak membakar rumput atau lahan sembarangan dan menghemat penggunaan air bersih,” tegas Fadli.

Baca Juga :  Sekretariat DPRD Provinsi Gorontalo Angkat Tonggobi, Hidupkan Kembali Warisan Musik Tradisional di GKK 2026

Hasil monitoring Komisi I menunjukkan kebutuhan air bersih masyarakat Tapadaa sejauh ini masih tercukupi. Aktivitas warga juga belum mengalami gangguan berarti.

Fadli menyebut masyarakat Tapadaa memiliki pola aktivitas yang menyesuaikan dengan kondisi musim. Saat kemarau, sebagian warga memilih melaut untuk mencari ikan, sementara pada musim penghujan mereka kembali menjalankan aktivitas pertanian.

“Alhamdulillah, informasi dari pemerintah desa, kondisi masyarakat Tapadaa masih aman. Saat kemarau banyak masyarakat yang melaut mencari ikan, sedangkan ketika musim penghujan mereka kembali ke ladang untuk bercocok tanam,” ujar Fadli.

Baca Juga :  dr. Sri Darsianti Tuna Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Bantuan UEP dan PEKKA

Komisi I meminta kondisi tersebut tetap dipertahankan dengan pemantauan secara berkala. Pemerintah desa juga diminta segera berkoordinasi apabila mulai muncul persoalan akibat kemarau.

Terutama jika terjadi peningkatan kebutuhan air bersih atau kekeringan mulai berdampak terhadap aktivitas dan perekonomian masyarakat.

Bagi Komisi I, kesiapsiagaan sejak dini menjadi penting agar kondisi yang masih aman tidak berubah menjadi persoalan ketika kemarau semakin panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *