Tabayyunn.co.id, SURABAYA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap perekonomian daerah, termasuk Jawa Timur. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi global.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur Adik Dwi Putranto menilai dinamika geopolitik tersebut dapat memengaruhi ekonomi daerah melalui beberapa jalur, mulai dari kenaikan harga energi hingga meningkatnya biaya logistik internasional.
“Dampak utama konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur setidaknya datang dari dua arah, yakni hubungan dagang langsung dengan kawasan tersebut serta efek berantai melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global,” ujar Adik di Surabaya pada Selasa (03/03/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat rentan terhadap gangguan keamanan. Jika ketegangan meningkat, harga minyak mentah global berpotensi melonjak bersamaan dengan naiknya premi asuransi pelayaran internasional.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan biaya pengangkutan barang serta distribusi logistik, termasuk yang masuk ke Indonesia. Dampak lanjutan juga dapat dirasakan oleh berbagai sektor industri di daerah.
Menurut Adik, sektor pangan yang bergantung pada bahan baku impor diperkirakan menjadi salah satu yang paling terdampak. Komoditas kedelai menjadi perhatian utama karena Indonesia masih mengandalkan impor sekitar 2,5 hingga 3 juta ton per tahun, dengan nilai impor dari Amerika Serikat mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS.
Jawa Timur sendiri dikenal sebagai pusat produksi tempe dan tahu di Indonesia, sehingga sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku tersebut. Jika harga energi dan ongkos pengiriman meningkat, biaya masuk kedelai diprediksi ikut naik.
“Pelaku UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak, opsi yang tersisa bisa berupa kenaikan harga jual, penyusutan ukuran produk, atau bahkan penghentian produksi sementara,” kata Adik.
Selain kebutuhan pangan, kedelai juga berperan penting dalam industri pakan ternak melalui produk turunan bungkil kedelai. Kenaikan harga bahan baku ini dikhawatirkan akan berdampak pada biaya produksi pakan yang kemudian memengaruhi harga komoditas seperti ayam dan telur.
Dampak tersebut berpotensi memicu kenaikan harga pangan di tingkat daerah jika tidak diantisipasi dengan baik.
Biaya Energi Berpotensi Tekan Ekspor
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Kadin Jawa Timur Tommy Kaihatu menyebutkan kinerja ekspor provinsi tersebut sejauh ini masih menunjukkan tren positif.
“Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan lebih dari 800 juta dolar AS, dan sekitar 10 persen di antaranya ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah,” ujar Tommy.
Namun, ia mengingatkan bahwa sektor ekspor Jatim yang didominasi produk manufaktur, agroindustri, serta industri pengolahan sangat sensitif terhadap lonjakan biaya energi dan logistik.
“Eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor. Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus. Di sisi lain, ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar tujuan ekspor,” jelasnya.
Menurut Tommy, ancaman terbesar bukan hanya potensi penurunan volume ekspor, tetapi juga melemahnya daya saing produk akibat meningkatnya biaya produksi dan fluktuasi nilai tukar.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, ia mendorong adanya langkah cepat melalui koordinasi antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan importir. Salah satu langkah yang disarankan adalah memastikan ketersediaan cadangan kedelai untuk kebutuhan satu hingga dua bulan ke depan.
“Transparansi data stok dan distribusi melalui koperasi produsen penting untuk mencegah spekulasi harga. Di sektor industri dan ekspor, fasilitasi pembiayaan modal kerja jangka pendek bagi UMKM pangan, serta pendampingan manajemen risiko kurs dan freight surcharge bagi eksportir juga perlu diperkuat,” tutur Tommy.
Di sisi lain, Adik juga menekankan pentingnya strategi jangka menengah dengan memperluas sumber impor kedelai agar tidak bergantung pada satu negara. Selain itu, peningkatan efisiensi energi industri serta perluasan pasar ekspor ke wilayah yang tidak terdampak konflik juga menjadi langkah strategis.
Ia menilai fondasi ekonomi Jawa Timur masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global. Namun, koordinasi lintas sektor dan respons cepat tetap dibutuhkan agar gejolak eksternal tidak berdampak besar pada stabilitas ekonomi daerah.
“Kita memang tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama,” pungkas Adik.














