Lampung Jadi Tuan Rumah PENAS 2027, Provinsi yang Dua Kali Menangkan Jokowi

TABAYYUN.CO.ID, NASIONAL– Estafet penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan resmi berpindah dari Provinsi Gorontalo ke Provinsi Lampung.

Keputusan tersebut ditetapkan melalui forum Rembug Utama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tahun 2026 yang digelar di Kabupaten Gorontalo dan dihadiri perwakilan petani, nelayan, penyuluh, serta pengurus KTNA dari seluruh Indonesia.

Penetapan itu sekaligus menandai berakhirnya rangkaian penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo yang dinilai berlangsung sukses.

Dalam forum tersebut, seluruh peserta menyepakati Lampung sebagai tuan rumah PENAS XVIII yang akan diselenggarakan pada periode berikutnya, sehingga provinsi di ujung selatan Pulau Sumatera itu kini mulai bersiap menerima estafet penyelenggaraan ajang terbesar bagi petani dan nelayan Indonesia.

Keputusan memilih Lampung tidak hanya menjadi agenda pergantian tuan rumah, tetapi juga menjadi bagian dari strategi KTNA dalam memperkuat pembangunan sektor pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan nasional.

Forum Rembug Utama turut menghasilkan berbagai rekomendasi penting mengenai penguatan kelembagaan KTNA, peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani dan nelayan, pengembangan inovasi pertanian, hingga penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pelaku utama sektor pangan.

Bagi Provinsi Gorontalo, penyelenggaraan PENAS XVII menjadi salah satu momentum terbesar dalam sejarah pembangunan pertanian daerah. Selama beberapa hari pelaksanaan, ribuan peserta dari seluruh Indonesia memadati berbagai lokasi kegiatan untuk mengikuti temu teknis, pameran inovasi, temu usaha, diskusi ilmiah, hingga demonstrasi penerapan teknologi pertanian dan perikanan modern.

Baca Juga :  Wagub Gorontalo Tegaskan Perombakan OPD Berbasis Kompetensi, Bukan Kedekatan

Ajang tersebut tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarpetani dan nelayan dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi media pertukaran pengalaman mengenai praktik pertanian terbaik, pemanfaatan teknologi tepat guna, hilirisasi produk pertanian, digitalisasi sektor pangan, hingga pengembangan jaringan pemasaran hasil produksi.

Keberhasilan Gorontalo sebagai tuan rumah mendapat apresiasi dari berbagai peserta karena dinilai mampu menghadirkan penyelenggaraan yang tertata, melibatkan masyarakat secara luas, serta memperkenalkan potensi daerah kepada peserta dari seluruh Indonesia. Dampak ekonomi juga dirasakan oleh pelaku UMKM, sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga industri kreatif yang memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas selama penyelenggaraan PENAS.

Kini, tanggung jawab tersebut beralih kepada Provinsi Lampung yang memiliki karakteristik daerah agraris dengan sektor pertanian yang telah berkembang cukup pesat.

Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional sekaligus penghasil berbagai komoditas strategis, seperti padi, jagung, singkong, kopi robusta, tebu, lada, kakao, hingga aneka hortikultura.

Selain sektor pertanian tanaman pangan, Lampung juga memiliki potensi besar di bidang peternakan, perkebunan, dan perikanan. Posisinya yang strategis sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera menjadikan provinsi tersebut memiliki akses logistik yang baik untuk mendukung distribusi hasil pertanian maupun penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.

Baca Juga :  Cerita di Balik Layar, Jasin Mohammad dan Dedikasi untuk Kadin Gorontalo

Dengan berbagai potensi tersebut, Lampung dinilai memiliki modal yang kuat untuk melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan PENAS yang sebelumnya berlangsung di Gorontalo.

Persiapan infrastruktur, akomodasi, lokasi kegiatan, hingga koordinasi lintas sektor diperkirakan akan mulai dilakukan dalam waktu dekat agar pelaksanaan PENAS XVIII dapat berjalan optimal.

Di luar sektor pertanian, Lampung juga beberapa kali menjadi perhatian dalam dinamika politik nasional. Pada Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, pasangan Joko Widodo memperoleh suara mayoritas di provinsi tersebut, sehingga Lampung kerap disebut sebagai salah satu basis dukungan elektoral Jokowi.

Namun, capaian politik tersebut tidak memiliki hubungan dengan penetapan Lampung sebagai tuan rumah PENAS XVIII.

Penunjukan provinsi tersebut sepenuhnya merupakan hasil keputusan organisasi KTNA melalui mekanisme musyawarah nasional yang melibatkan seluruh peserta Rembug Utama.

Sebagai forum tertinggi petani dan nelayan Indonesia, PENAS bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan ini telah berkembang menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, nelayan, penyuluh pertanian, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam membangun sektor pangan nasional.

Baca Juga :  HUT RI ke-80, IGTKI Kecamatan Kota Timur Hidupkan Kebersamaan Lewat Aneka Lomba

Melalui forum ini, berbagai inovasi pertanian diperkenalkan kepada petani, mulai dari mekanisasi pertanian, penggunaan benih unggul, teknologi irigasi, pertanian presisi berbasis digital, pengolahan hasil panen, hingga strategi memperluas akses pasar. Di sektor perikanan, peserta juga berbagi pengalaman mengenai budidaya modern, peningkatan produktivitas nelayan, pengolahan hasil laut, serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat pesisir.

PENAS juga menjadi ruang lahirnya berbagai rekomendasi kebijakan yang diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan. Isu regenerasi petani, ketahanan pangan nasional, adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern menjadi bagian penting dalam setiap pembahasan.

Dengan berpindahnya estafet penyelenggaraan ke Lampung, harapan besar kembali disematkan agar ajang nasional tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi momentum mempercepat transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Keberhasilan Gorontalo menjadi tuan rumah PENAS XVII diharapkan menjadi inspirasi bagi Lampung untuk menghadirkan penyelenggaraan yang lebih inovatif sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris yang mampu membangun ketahanan pangan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *