TABAYYUN.CO.ID, MAROKO – Pemerintah Maroko menunjuk Fouzi Lekjaa, Ketua Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko, untuk memimpin portofolio ekonomi dan keuangan negara. Penunjukan tersebut berlangsung ketika Maroko menghadapi tekanan anggaran, meningkatnya kebutuhan belanja sosial, serta persiapan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2030.
Mengutip Bloomberg, Minggu (18/10/2026), keputusan penunjukan Lekjaa ditetapkan oleh Raja Mohammed VI pada Jumat pekan ini. Ia dipercaya menangani urusan ekonomi, keuangan, dan efisiensi publik dalam pemerintahan Perdana Menteri Fatima Ezzahra El Mansouri.
Lekjaa bukan sosok baru dalam pemerintahan Maroko. Pria berusia 56 tahun tersebut pernah menjabat sebagai menteri anggaran dan memiliki latar belakang sebagai insinyur agronomi serta inspektur pajak.
Sebelum memasuki pemerintahan baru, Lekjaa juga bergabung dengan Partai Keaslian dan Modernitas atau Authenticity and Modernity Party yang dipimpin El Mansouri.
Penunjukan tersebut menjadi perhatian karena Maroko tengah menghadapi tantangan ekonomi sekaligus menyiapkan berbagai kebutuhan pembangunan menjelang Piala Dunia 2030 yang akan digelar bersama Spanyol dan Portugal.
Janji Tambah Belanja Pemerintah
Lekjaa menghadapi pekerjaan besar dalam menjaga keseimbangan keuangan negara. Ia sebelumnya berkomitmen meningkatkan belanja pemerintah sebesar 70 miliar dirham Maroko per tahun, atau sekitar 7,2 miliar dollar AS, hingga 2031.
Rencana tersebut mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan upah dan pensiun, serta upaya menekan biaya hidup masyarakat.
Namun, pelaksanaan agenda tersebut menghadapi tantangan setelah Maroko kehilangan akses terhadap mekanisme pembiayaan inovatif yang telah dimanfaatkan sejak 2019 untuk mengurangi ketergantungan pada utang.
Skema tersebut dilakukan melalui penjualan aset negara kepada dana lokal dengan pengaturan pembayaran sewa. Mekanisme itu menghasilkan sekitar 4,2 miliar dollar AS pada 2025.
Di tengah perubahan sumber pembiayaan tersebut, pemerintah Maroko dijadwalkan mengumumkan rancangan anggaran 2027 pada pekan berikutnya.
Tekanan Energi dan Kesejahteraan Masyarakat
Tantangan fiskal Maroko turut dipengaruhi kondisi eksternal. Sebagai negara pengimpor bersih bahan bakar fosil, Maroko menghadapi dampak kenaikan harga energi di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang di Timur Tengah.
Bank sentral Maroko bahkan telah menaikkan proyeksi defisit transaksi berjalan tahun ini menjadi lebih dari dua kali lipat sejak perang di Iran pecah pada Februari 2026.
Dana Moneter Internasional (IMF) pada pekan ini juga mendesak Maroko memperkuat ketahanan ekonominya. Lembaga tersebut menekankan pentingnya penyelarasan dan konsolidasi kebijakan fiskal untuk menghadapi kenaikan harga energi serta tekanan eksternal lainnya.
Di dalam negeri, persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi perhatian. Lembaga perencanaan dan statistik Maroko, HCP, melaporkan bahwa sekitar 76 persen rumah tangga menilai standar hidup mereka memburuk selama 12 bulan hingga September 2026.
Lebih dari separuh rumah tangga juga memperkirakan kondisi kehidupan mereka akan semakin memburuk hingga akhir kuartal III 2027.
Situasi tersebut menempatkan Lekjaa pada posisi strategis sekaligus penuh tantangan. Pemerintah perlu memenuhi kebutuhan sosial masyarakat dan mendukung pembangunan nasional, sementara ruang fiskal dan sumber pembiayaan negara menghadapi tekanan.












