Oleh: Faisal Hasania ( Jurnalis Tabayyun.co.id)
TABAYYUN.CO.ID,-Sejarah tidak sekadar menyimpan cerita tentang masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai, perjuangan, dan pemikiran yang tetap relevan untuk menjawab persoalan manusia pada masa kini.
Empat abad sejak kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi momentum untuk kembali merenungkan warisan pemikiran seorang ulama, pejuang, dan tokoh yang perjalanan hidupnya melintasi batas wilayah, budaya, serta bangsa.
Syekh Yusuf Al-Makassari, yang lahir di Gowa pada 1626, dikenal sebagai ulama besar Nusantara yang memiliki pengaruh hingga ke luar Indonesia.
Perjuangannya melawan kolonialisme dan keteguhannya dalam memegang prinsip menjadikan sosoknya bukan hanya bagian dari sejarah Islam, melainkan juga simbol keberanian mempertahankan martabat manusia di tengah ketidakadilan.
Dalam konteks refleksi 400 tahun ini, keteladanan Syekh Yusuf layak dibaca melalui perspektif kemanusiaan dan kesetaraan global.
Dunia modern memang mengalami kemajuan dalam teknologi, komunikasi, dan ekonomi. Namun, kemajuan tersebut belum sepenuhnya menghapus diskriminasi, konflik, kemiskinan, serta ketimpangan yang memisahkan manusia berdasarkan asal-usul, identitas, keyakinan, dan status sosial.
Kemanusiaan yang melampaui batas identitas
Salah satu pelajaran penting dari perjalanan Syekh Yusuf adalah bahwa nilai kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan.
Identitas agama, suku, bangsa, dan kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan atau menyingkirkan kelompok lain.
Dalam masyarakat yang semakin terhubung, perbedaan justru menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari. Tantangannya bukan bagaimana menghilangkan perbedaan, melainkan membangun ruang bersama agar setiap orang memperoleh penghormatan dan kesempatan yang setara.
Pesan tersebut terasa penting ketika berbagai belahan dunia masih menghadapi konflik, kebencian terhadap kelompok tertentu, dan perlakuan diskriminatif. Kesetaraan tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa setiap manusia memiliki hak.
Kesetaraan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari akses terhadap pendidikan, perlindungan hukum, kesempatan ekonomi, hingga kebebasan menjalankan keyakinan tanpa ancaman.
Keteladanan Syekh Yusuf mengingatkan bahwa keyakinan dan nilai spiritual seharusnya mendorong manusia untuk memperjuangkan keadilan, bukan membenarkan penindasan.
Keimanan yang hidup dalam tindakan semestinya melahirkan kepedulian terhadap penderitaan sesama dan keberanian untuk berdiri di pihak mereka yang diperlakukan tidak adil.
Melawan ketidakadilan sebagai tanggung jawab moral
Perjalanan hidup Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung dalam keadaan yang mudah. Perlawanan terhadap kekuasaan kolonial membuatnya mengalami pembuangan hingga ke Sri Lanka dan kemudian Tanjung Harapan, wilayah yang kini menjadi bagian dari Afrika Selatan.
Meskipun jauh dari tanah kelahirannya, pengaruh keilmuan dan spiritualnya tetap tumbuh di tengah masyarakat yang berbeda latar belakang.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa gagasan dan nilai perjuangan dapat melampaui batas geografis. Seseorang mungkin dipisahkan dari tanah asalnya, tetapi pemikirannya tetap dapat hidup selama memberi makna bagi kehidupan orang lain.
Dalam konteks global saat ini, ketidakadilan dapat hadir dalam beragam bentuk. Ada masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik, kelompok yang sulit memperoleh pendidikan karena kemiskinan, pekerja yang tidak mendapatkan perlindungan memadai, serta warga yang haknya terabaikan karena identitas atau kedudukan sosialnya.
Menghadapi kenyataan tersebut, sikap diam bukan selalu pilihan yang netral. Ketika ketidakadilan dibiarkan tanpa kritik, ketimpangan berpotensi semakin mengakar. Karena itu, keberanian menyampaikan kebenaran, membela hak kelompok rentan, dan mengawasi kekuasaan merupakan bagian dari tanggung jawab moral warga dunia.
Warisan Syekh Yusuf tidak harus dimaknai dengan meniru seluruh konteks perjuangannya secara harfiah. Yang lebih penting adalah mengambil nilai dasarnya: keteguhan prinsip, keberanian menghadapi penindasan, kedalaman pengetahuan, serta kesediaan menanggung risiko demi mempertahankan martabat manusia.
Kesetaraan global harus dimulai dari tindakan nyata
Istilah kesetaraan global kerap terdengar besar dan abstrak. Padahal, penerapannya dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat.
Menghormati orang yang berbeda keyakinan, menolak perundungan, memberikan kesempatan yang adil kepada perempuan dan laki-laki, serta tidak melakukan diskriminasi terhadap kelompok tertentu merupakan langkah konkret dalam membangun masyarakat yang setara.
Pemerintah dan lembaga publik juga memiliki tanggung jawab besar. Kesetaraan tidak akan terwujud hanya melalui seruan moral apabila kebijakan masih menyisakan hambatan bagi masyarakat miskin, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya.
Pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, serta kesempatan kerja harus dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat secara adil.
Di tingkat internasional, semangat kemanusiaan menuntut negara-negara untuk tidak mengukur martabat manusia berdasarkan kekuatan ekonomi atau politik. Hak hidup, keamanan, kebebasan, dan perlindungan dari kekerasan harus dihormati tanpa standar ganda.
Refleksi atas Syekh Yusuf menjadi relevan karena ia merupakan tokoh Nusantara yang jejak hidupnya terhubung dengan berbagai wilayah dan masyarakat.
Pengaruhnya di luar tanah kelahiran memperlihatkan bahwa warisan seorang tokoh dapat menjadi jembatan untuk membangun pemahaman lintas budaya, bukan sekadar kebanggaan bagi kelompok atau bangsa tertentu.
Generasi masa kini dan tanggung jawab merawat nilai kemanusiaan
Empat ratus tahun bukan hanya angka untuk memperingati kelahiran seorang tokoh sejarah. Momentum ini seharusnya mendorong generasi masa kini untuk menguji apakah nilai yang diwariskan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga pesan kemanusiaan tersebut. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, mereka perlu membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, menghindari ujaran kebencian, serta menggunakan ruang digital untuk memperluas pengetahuan dan solidaritas.
Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kritik tidak perlu berubah menjadi penghinaan. Identitas kelompok tidak seharusnya digunakan untuk menyebarkan prasangka.
Sikap terbuka, kemampuan berdialog, dan keberanian mengakui kesalahan merupakan bagian dari kedewasaan yang dibutuhkan dalam masyarakat majemuk.
Pendidikan sejarah juga perlu ditempatkan sebagai ruang pembelajaran kritis. Syekh Yusuf tidak cukup dikenalkan melalui nama, gelar, atau kisah perjuangannya semata. Generasi muda perlu memahami konteks zamannya, tantangan yang dihadapinya, dan nilai yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masa kini.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai hafalan di ruang kelas atau seremoni tahunan. Sejarah menjadi sumber inspirasi untuk membentuk karakter, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan keberanian memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.
Menjadikan warisan sejarah sebagai suara kemanusiaan
Refleksi 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari pada akhirnya mengajak kita melihat kembali hubungan antara keyakinan, perjuangan, dan tanggung jawab terhadap sesama. Kebesaran seorang tokoh tidak hanya terletak pada pengakuan yang diberikan kepadanya, tetapi juga pada nilai yang tetap berguna bagi generasi setelahnya.
Pesan kemanusiaan yang dapat dipetik dari perjalanan Syekh Yusuf adalah bahwa martabat manusia harus dijaga, ketidakadilan tidak boleh dinormalisasi, dan perbedaan tidak semestinya menjadi penghalang bagi persaudaraan. Nilai-nilai tersebut melampaui batas waktu dan wilayah karena berangkat dari persoalan mendasar yang terus dihadapi umat manusia.
Peringatan empat abad ini akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti pada perayaan simbolis. Warisan Syekh Yusuf perlu diterjemahkan menjadi komitmen untuk memperluas akses yang adil, melawan diskriminasi, menghormati keberagaman, dan membangun hubungan antarmanusia yang setara.
Dunia yang lebih manusiawi tidak lahir hanya dari pernyataan para pemimpin atau kesepakatan antarnegara. Dunia seperti itu dibangun melalui keberanian mengambil sikap, kebijakan yang berpihak pada keadilan, dan tindakan sehari-hari yang menghormati martabat setiap orang.
Empat abad setelah kelahirannya, Syekh Yusuf Al-Makassari tetap dapat menjadi sumber refleksi bagi masyarakat global. Bukan semata karena perjalanan hidupnya yang panjang dan melintasi benua, melainkan karena nilai perjuangannya mengingatkan kita pada satu hal mendasar: kemajuan peradaban baru memiliki arti apabila berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kemanusiaan dan kesetaraan bagi semua.







