Satu Orang Tua Bukan Representasi Ribuan Mahasiswa, Mahasiswa KIP-K Mengeluh: PKKMB UNG Jadi Ladang Bisnis?

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Polemik pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) 2026 belum sepenuhnya berakhir.

Setelah sebelumnya muncul sorotan mengenai pakaian mahasiswa baru, perhatian kini bergeser pada Moana Packs yang dikaitkan dengan kebutuhan konsumsi mahasiswa selama rangkaian PKKMB.

Di tengah polemik tersebut, muncul pandangan dari salah seorang orang tua mahasiswa yang menilai keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) justru membantu mahasiswa baru selama mengikuti kegiatan kampus.

Pandangan tersebut tentu merupakan pengalaman pribadi yang patut dihargai. Namun, satu suara orang tua tidak serta-merta dapat mewakili seluruh orang tua maupun mahasiswa baru UNG. Sebab, kondisi ekonomi dan pengalaman setiap mahasiswa berbeda.

Ada mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi cukup. Namun, ada pula mahasiswa yang datang dari luar daerah, tinggal di kos, dan masih mengandalkan kiriman orang tua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam kondisi seperti itu, nominal Rp43.000 untuk Moana Packs dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap mahasiswa.

Bagi sebagian keluarga, Rp43.000 mungkin bukan persoalan besar. Namun bagi mahasiswa dengan anggaran terbatas, uang sebesar itu bisa berarti biaya makan, transportasi, pulsa, atau kebutuhan lain yang harus diprioritaskan.

Karena itu, polemik Moana Packs tidak semestinya hanya dilihat dari persoalan mahal atau murahnya harga makanan.

Persoalan kemampuan ekonomi mahasiswa menjadi semakin relevan karena UNG memiliki mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Tangis Indriani Dunda untuk Rachmat Gobel: Siapa Lagi yang Mencintai Gorontalo Sebegitu Tulus?

Pada 2025, UNG tercatat memperoleh 1.696 kuota KIP-K melalui jalur SNBT dan masuk dalam jajaran 10 besar perguruan tinggi negeri dengan kuota KIP-K terbesar.

Total mahasiswa baru penerima KIP-K pada tahun tersebut disebut mencapai 2.275 orang.

Angka tersebut setidaknya menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi mahasiswa merupakan aspek yang tidak dapat diabaikan dalam merancang kegiatan kampus.

Dua mahasiswa enggan disebutkan nama mereka, kini tercatat sebagai penerima KIP-K mengaku keberatan dengan nominal Rp43.000 untuk Moana Packs.

Keduanya menilai harga tersebut cukup berat jika dibandingkan dengan isi paket yang mereka ketahui terdiri atas ayam geprek, Fitbar, keripik, Buavita, dan satu botol air mineral.

“Bagi orang yang punya uang lebih mungkin Rp43 ribu tidak terlalu terasa. Tapi bagi kami yang penerima KIP-K dan masih menunggu kiriman orang tua, Rp43 ribu itu lumayan besar. Bisa untuk kebutuhan makan atau keperluan lain,” ujar salah seorang mahasiswa. Selasa,11/08/26 tadi malam.

Mahasiswa lainnya mempertanyakan mengapa informasi mengenai isi paket tidak disampaikan secara sederhana sejak awal.

“Kalau memang tidak wajib beli dari BEM, seharusnya isi paket diberitahu saja dengan jelas. Kami bisa cari sendiri dan membandingkan harga. Jangan sampai mahasiswa bingung karena harus mencari tahu dari riddle,” katanya.

Menurut mereka, persoalan utama bukan hanya mengenai wajib atau tidaknya membeli Moana Packs melalui BEM.

Yang lebih penting adalah apakah mahasiswa benar-benar diberikan informasi yang cukup untuk menentukan pilihannya sendiri.

Baca Juga :  Cerita di Balik Layar, Jasin Mohammad dan Dedikasi untuk Kadin Gorontalo

Riddle dan Waktu Istirahat Mahasiswa

Dalam pelaksanaan PKKMB, mahasiswa baru membutuhkan waktu untuk mengikuti kegiatan sekaligus mempersiapkan kebutuhan untuk agenda berikutnya.

Ketika informasi mengenai makanan atau perlengkapan yang harus dibawa disampaikan melalui teka-teki atau riddle, mahasiswa harus kembali mencari tahu maksud dari informasi tersebut.

Bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari daerah asal, persoalan itu bisa menjadi lebih kompleks.

Mereka tidak hanya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus, tetapi juga mengatur kebutuhan hidup di kos dengan anggaran yang terbatas.

“Kami datang ke Gorontalo untuk kuliah. Jadi menurut kami informasi seperti makanan atau perlengkapan yang harus dibawa seharusnya disampaikan langsung dan jelas. Jangan dibuat seperti teka-teki karena kami juga butuh waktu untuk istirahat,” ujar mahasiswa lainnya.

Jika memang Moana Packs tidak diwajibkan dibeli melalui BEM, maka mekanismenya sebenarnya sederhana.

Panitia maupun pihak terkait cukup memberikan daftar isi paket secara terbuka.

Dengan informasi tersebut, mahasiswa dapat mencari produk serupa di tempat lain, membandingkan harga, atau menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing.

Sebab, pilihan baru benar-benar menjadi pilihan apabila seseorang memperoleh informasi yang cukup sebelum mengambil keputusan.

Kampus Kerakyatan Harus Peka

UNG selama ini dikenal dengan semangat sebagai kampus kerakyatan. Karena itu, keberpihakan kepada mahasiswa semestinya tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari sejauh mana setiap kebijakan mampu memperhatikan kondisi mahasiswa yang beragam.

Ada orang tua yang mungkin merasa keberadaan BEM dan Moana Packs membantu. Namun, ada pula mahasiswa yang melihat Rp43.000 sebagai pengeluaran yang harus dipertimbangkan secara matang.

Baca Juga :  Melihat Langsung Inovasi Pertanian, Bupati Maros Puji Konsep PENAS XVII

Yang perlu dihindari  kata mahasiswa tersebut adalah menjadikan pengalaman satu orang sebagai gambaran bahwa seluruh mahasiswa atau orang tua memiliki kondisi dan pandangan yang sama.

Jika BEM benar-benar ingin hadir sebagai organisasi yang memperjuangkan kepentingan mahasiswa, suara mahasiswa dengan kemampuan ekonomi terbatas juga harus mendapat ruang.Bukan hanya suara mereka yang mampu membayar tanpa banyak pertimbangan.

“Mahasiswa penerima KIP-K juga merupakan bagian dari keluarga besar UNG. Kami memiliki hak yang sama untuk memperoleh informasi kegiatan secara jelas, terbuka, dan mudah dipahami,”jelasnya.

Pada akhirnya, polemik Moana Packs bukan semata-mata mengenai ayam geprek, Fitbar, keripik, Buavita, atau sebotol air mineral.

Transparansi informasi.

Ini tentang kebebasan mahasiswa menentukan pilihan. Dan yang lebih penting, ini tentang sejauh mana organisasi mahasiswa mampu memahami kondisi mahasiswa yang memiliki kemampuan ekonomi berbeda-beda.

Jika memang Moana Packs tidak wajib dibeli melalui BEM, sampaikan secara terang. dan jika mahasiswa diperbolehkan mencari sendiri, berikan informasi mengenai isi paket secara jelas.

Tidak perlu membuat mahasiswa menghabiskan waktu untuk mencari tahu jawaban atas kebutuhan yang seharusnya dapat dijelaskan secara sederhana.

“Mahasiswa baru datang ke kampus untuk belajar, beradaptasi, dan membangun masa depan. Bukan untuk menghabiskan waktu memecahkan teka-teki mengenai makanan yang harus mereka bawa pada kegiatan berikutnya,”pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *