Tak Ingin Anak Lupa Budaya, Pemkot Gorontalo Wajibkan Sekolah Punya Karya Budaya

TABAYYUN.CO.ID, KOTA GORONTALO — Pemerintah Kota Gorontalo mendorong sekolah menjadi ruang untuk memperkuat kembali kecintaan anak terhadap budaya daerah di tengah semakin tingginya penggunaan gadget.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Gorontalo, Husin Ali, mengatakan kedua gerakan itu diluncurkan sebagai respons terhadap perubahan kebiasaan anak-anak yang semakin lekat dengan perangkat digital.

Hal itu disampaikan Husin saat launching Satu Sekolah Satu Karya Budaya dan Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo di SDN 99 Kota Utara, Jumat (28/8/2026) malam.

Menurut Husin, sekolah perlu memberikan ruang yang lebih luas kepada anak untuk mengenal lingkungan, bahasa dan budaya daerah.

“Jawaban atas kegalauan Pak Wali dan Wawali soal pemanfaatan gadget, salah satunya adalah gerakan satu sekolah satu karya budaya,” kata Husin.

Melalui program tersebut, setiap satuan pendidikan mulai dari TK, SD hingga SMP diarahkan memiliki sedikitnya satu karya budaya Gorontalo yang dikembangkan sekaligus diajarkan kepada peserta didik.

Baca Juga :  Dari UMKM hingga Ekspor Ikan, Fikram Salilama Serap Aspirasi Warga dalam Reses

Kebijakan itu telah dituangkan dalam Surat Keputusan Wali Kota Gorontalo.

Sekolah dengan kapasitas yang lebih besar diperbolehkan mengembangkan maksimal dua karya budaya.

Dengan demikian, anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan umum tentang budaya Gorontalo, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam mempelajari budaya tertentu yang dikembangkan di sekolah masing-masing.

Husin mengatakan program kebudayaan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan penerimaan murid baru yang diarahkan untuk mendekatkan anak dengan sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

Ia menilai, kebijakan itu penting untuk menghapus anggapan bahwa hanya sekolah tertentu yang memiliki kualitas lebih baik.

“Kami ingin memastikan bahwa semua sekolah di Kota Gorontalo adalah pilihan terbaik. Tidak ada sekolah unggulan di Kota Gorontalo, tapi sekolah unggulan ada di semua sudut di kota kita tercinta, Kota Gorontalo,” ujarnya.

Baca Juga :  Sayembara Desain Kantor Wali Kota Gorontalo Resmi Dibuka, Dorong Ikon Baru Kota Serambi Madinah

Menurut dia, jarak sekolah yang lebih dekat dengan rumah juga memberikan manfaat bagi perkembangan anak.

Waktu yang sebelumnya banyak tersita dalam perjalanan dapat digunakan untuk beristirahat, berinteraksi dengan keluarga maupun mengikuti aktivitas lain di lingkungan tempat tinggal.

Selain karya budaya, Dikbud Kota Gorontalo juga mendorong pelestarian bahasa daerah melalui Gerakan Kota Gorontalo Mohulonthalo.

Gerakan tersebut disusun bersama Kantor Bahasa sebagai bagian dari upaya mempertahankan penggunaan bahasa Gorontalo di tengah perkembangan zaman.

Husin menyoroti kebiasaan masyarakat Gorontalo yang terkadang justru meninggalkan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan pendatang.

“Kalau di Sunda sana, kita datang, kita menyesuaikan dengan orang Sunda. Di Jogja kita menyesuaikan dengan orang Jogja. Mereka tetap berbahasa Sunda, tetap berbahasa Jawa. Tapi beda dengan kita orang Gorontalo,” katanya.

Karena itu, penggunaan bahasa Gorontalo akan dibiasakan di lingkungan pemerintahan dan sekolah.

Baca Juga :  Polisi Perketat Pengamanan Kawasan Wisata Saat Libur, GBC Water Boom Jadi Fokus Patroli

Penggunaannya secara khusus akan didorong setiap Selasa dan Kamis.

Husin menegaskan, modernisasi tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan identitas daerah.

Anak-anak Gorontalo tetap didorong memiliki prestasi hingga tingkat nasional dan internasional, namun tetap memahami bahasa serta budaya yang menjadi identitas daerah.

“Walaupun anak-anak kita sudah hidup di zaman modern, berpikir untuk go nasional bahkan internasional, mereka tidak melupakan identitas mereka,” ujar Husin.

Ia meminta guru, kepala sekolah, pengawas, penilik serta seluruh jajaran pendidikan dan kebudayaan ikut menjalankan kedua gerakan tersebut secara konsisten.

Program itu diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial saat peluncuran, tetapi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di sekolah.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga bahasa dan budaya Gorontalo agar tetap hidup di tengah generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed