Kunjungan kerja Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo ke SMA Negeri 1 Telaga mengungkap sejumlah catatan penting terkait pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Rombongan dipimpin Wakil Ketua Komisi IV Hamzah Muslimin bersama anggota komisi dr. Sri Darsianti Tuna dan Gustam Ismail. Mereka diterima oleh Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Telaga serta penanggung jawab program MBG di sekolah tersebut pada Jumat (6/3/2026).
Dalam pertemuan dengan pihak sekolah, terungkap bahwa pada tahap awal pelaksanaan MBG sempat muncul keluhan dari siswa. Salah satu yang sempat menjadi perhatian adalah temuan ulat pada buah rambutan yang dibagikan kepada siswa dan kemudian viral di media sosial.
Pihak pengelola MBG diketahui telah menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Selain itu, evaluasi terhadap kualitas makanan yang didistribusikan juga dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Telaga menyebutkan, secara umum siswa memberikan respons positif terhadap program MBG selama bulan Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa buah-buahan yang dibagikan kepada siswa kini sudah dikemas lebih rapi guna menjaga kebersihan dan kualitas makanan.
Meski demikian, anggota Komisi IV DPRD Gorontalo Gustam Ismail menilai masih ada beberapa aspek teknis yang perlu menjadi perhatian serius, terutama menyangkut transparansi pengelolaan program.
Salah satu yang disoroti adalah pengelolaan tempat makan atau ompreng. Dengan jumlah siswa di SMA Negeri 1 Telaga mencapai 985 orang, Gustam mempertanyakan mekanisme pengawasan terhadap penggunaan fasilitas tersebut.
Pihak sekolah menjelaskan bahwa hingga kini belum ada laporan kehilangan ompreng. Namun jika terjadi kehilangan, sekolah diwajibkan mengganti dengan biaya Rp80.000 sesuai perjanjian kerja sama (MoU) dengan SPPG Mongolato.
Selain itu, Gustam juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian antara nilai anggaran paket makanan dengan isi yang diterima siswa.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari pihak penyedia MBG, nilai paket makanan per siswa mencapai Rp13.500. Namun saat dilakukan pengecekan langsung, isi paket yang diterima siswa hanya terdiri dari satu buah apel, kacang goreng, dan kue bolu.
“Jangan sampai ada pemotongan anggaran makanan untuk anak-anak. Jika anggarannya Rp13.500, maka isi paket makanan harus sesuai dengan nilai tersebut,” tegas Gustam Ismail.
Ia menegaskan bahwa pengawasan terhadap program MBG harus diperkuat agar tujuan program dalam meningkatkan asupan gizi siswa dapat tercapai secara optimal tanpa adanya pengurangan kualitas makanan.
Komisi IV DPRD Gorontalo juga mempertanyakan pola distribusi makanan yang dilakukan dua kali pengantaran sekaligus untuk hari Jumat dan Sabtu.
Menurut Gustam, sistem tersebut perlu dijelaskan secara terbuka karena berpotensi mempengaruhi kualitas makanan yang diterima siswa.
“Kami mempertanyakan mengapa pengantaran dilakukan dua paket sekaligus. Hal-hal seperti ini harus dijelaskan dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan,” ujarnya.
Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo menegaskan akan terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di berbagai sekolah di daerah tersebut guna memastikan program berjalan sesuai tujuan dan memberikan manfaat nyata bagi siswa.












