Ayam dari Luar Daerah Membanjir, Peternak Gorontalo Keluhkan Harga Anjlok

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO- Anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Hamzah Idrus bersama Sarifudin Bano menerima kunjungan Perhimpunan Peternak Ayam Broiler Provinsi Gorontalo pada Senin (18/5/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai aspirasi dan persoalan yang tengah dihadapi para peternak ayam broiler di daerah.

Dalam audiensi itu, para peternak menyampaikan harapan agar pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas harga ayam broiler di pasaran. Mereka juga menilai sektor peternakan selama ini masih kurang mendapatkan perhatian dibanding sektor pertanian yang lebih sering memperoleh bantuan maupun subsidi pemerintah.

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan ialah terkait subsidi dan pajak Day Old Chicken (DOC) yang disebut masih masuk ke Provinsi Sulawesi Utara. Nilai subsidi maupun pajak tersebut diperkirakan mencapai Rp5.000 per ekor. Dengan populasi ayam broiler di Gorontalo yang hampir mencapai 300 ribu ekor, kondisi itu dinilai menjadi potensi besar bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Hadiri Penyambutan Menteri HAM RI Secara Adat

Menanggapi hal tersebut, Hamzah Idrus mengatakan persoalan DOC harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan peternak sekaligus potensi peningkatan PAD.

“Persoalan DOC ini bukan hanya soal distribusi, tetapi juga berkaitan dengan potensi pendapatan daerah yang cukup besar. Jika dikelola dengan baik, tentu ini bisa menjadi peluang strategis bagi Gorontalo, apalagi saat ini pemerintah pusat sedang mendorong program hilirisasi,” ujar Hamzah.

Baca Juga :  Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo Tinjau Fasilitas KPID, Fikram Dorong Penguatan Fungsi dan Tambahan Anggaran

Ia juga menegaskan bahwa DPRD Provinsi Gorontalo akan mendorong adanya koordinasi lintas sektor guna mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi peternak ayam broiler.

“Kami menerima seluruh aspirasi yang disampaikan peternak. DPRD tentu akan memfasilitasi pertemuan lanjutan bersama dinas terkait agar ada langkah konkret dalam melindungi peternak lokal dan menjaga stabilitas usaha peternakan di Gorontalo,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan peternak dari Kecamatan Tibawa, Moh. Ali Nusi, mengeluhkan membanjirnya pasokan ayam dari luar daerah seperti Manado dan Sulawesi Tengah yang dinilai sangat memengaruhi harga jual ayam lokal.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masa panen ayam yang biasanya berlangsung pada usia 32 hingga 35 hari kini mundur menjadi 42 sampai 43 hari. Dampaknya, biaya operasional peternak meningkat signifikan, terutama biaya listrik untuk sistem kandang tertutup (close house) yang kini mencapai Rp16 juta hingga Rp17 juta.

Baca Juga :  Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo Serahkan SK Tim Seleksi KPID 2026–2029 Usai Paripurna

Para peternak berharap DPRD Provinsi Gorontalo dapat mengambil langkah taktis melalui regulasi maupun koordinasi dengan pihak terkait guna melindungi peternak lokal dan menciptakan iklim usaha peternakan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, DPRD Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk memfasilitasi pertemuan lanjutan bersama instansi terkait guna membahas solusi terbaik bagi para peternak ayam broiler di Gorontalo.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *