Ghalib Lahidjun: Kerja Keras Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Berani Melawan Sistem yang Tak Adil

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO — Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Gorontalo, Ghalib Lahidjun, mengajak generasi muda untuk tidak melihat keberhasilan hanya dari ukuran kerja keras individu.

Menurut Ghalib, ada faktor lain yang turut menentukan perjalanan seseorang, mulai dari sistem, struktur sosial, akses hingga kesempatan yang tersedia.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri dalam kegiatan Youth Leadership Gorontalo yang digelar DPD I Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Gorontalo di Aula Indoor Universitas Gorontalo, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Penguatan Kapasitas Pemuda sebagai Agen Perubahan dalam Menghadapi Dinamika Sosial dan Transformasi Digital” dan diikuti siswa-siswi dari berbagai SMA dan SMK se-Provinsi Gorontalo.

Di hadapan para pelajar, Ghalib menguraikan tiga perspektif dalam memandang keadilan hidup dan takdir, yakni tradisionalis, modernis dan kritis.

Ia menilai perspektif kritis penting dimiliki anak muda karena membantu mereka memahami persoalan tidak hanya dari sisi individu, tetapi juga melihat kondisi sosial yang lebih luas.

“Kerja keras saja tidak cukup jika tidak didukung oleh struktur atau sistem yang memberikan ruang dan kesempatan yang setara,” demikian salah satu poin yang disampaikan Ghalib dalam materinya.

Baca Juga :  DPRD Provinsi Gorontalo Sambut Positif Program Sawah Baru 5.600 Hektare untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Ghalib kemudian mengaitkan pandangan tersebut dengan berbagai realitas yang terjadi di masyarakat.

Menurut dia, seseorang bisa saja mempunyai kemampuan dan bekerja keras, tetapi hasil yang diperoleh belum tentu setara apabila akses dan kesempatan yang tersedia tidak sama.

Kondisi itu, kata dia, juga dapat terjadi di dunia pendidikan maupun pekerjaan. Prestasi dan kemampuan seseorang bisa saja tidak menjadi satu-satunya faktor penentu ketika berhadapan dengan nepotisme atau privilese.

“Kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan,” ujarnya, sembari menyinggung kondisi petani dan nelayan yang tetap bekerja keras tetapi masih menghadapi persoalan struktural.

Karena itu, Ghalib meminta pemuda tidak sekadar menjadi pihak yang menerima keadaan.

Ia mendorong generasi muda membangun keberanian untuk membaca persoalan secara kritis sekaligus mengambil bagian dalam menciptakan perubahan.

Menurut Ghalib, perubahan tidak cukup hanya dengan gagasan. Dibutuhkan keberanian, kerja keras dan tindakan nyata untuk mengejar harapan di tengah berbagai tantangan.

Selain berbicara tentang realitas sosial, Ghalib menekankan pentingnya pengalaman berorganisasi bagi generasi muda.

Ia mengatakan interaksi sosial sebenarnya berlangsung secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengalaman tersebut akan lebih bermanfaat apabila dikembangkan melalui kegiatan yang terarah dan memiliki tujuan.

Baca Juga :  Banggar DPRD Provinsi Finalkan RAPBD Perubahan 2026, OPD Diminta Segera Sesuaikan SIPD

Organisasi, menurut Ghalib, dapat menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

“Belajar berinteraksi di dalam komunitas yang disebut dengan organisasi,” kata Ghalib.

Ia menyebut organisasi dapat membantu pemuda membangun jaringan sekaligus mengasah kemampuan intelektual dan kepemimpinan.

Diskusi dan dialog yang berlangsung dalam organisasi juga dinilai dapat melatih kemampuan analisis serta membentuk keberanian menyampaikan pendapat.

Ghalib bahkan mengaitkan pengalaman berorganisasi dengan perjalanan dirinya hingga mencapai posisi saat ini.

“Saya jujur kepada teman-teman sekalian, bisa sampai pada titik ini lahir 80 persen karena efek organisasi,” ungkapnya.

Ia mengatakan dirinya berasal dari lingkungan sederhana dan mulai aktif dalam berbagai organisasi sejak muda.

Menurut Ghalib, pengalaman tersebut menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memperluas jaringan yang kemudian memberikan pengaruh dalam perjalanan hidupnya.

“Kalau saya tidak sekolah dan tidak beraktivitas di organisasi, mungkin saat ini saya berada di tengah laut di Teluk Tomini sebagai nelayan, bukan berdiri di hadapan teman-teman untuk memberikan motivasi tentang organisasi,” tuturnya.

Baca Juga :  Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo Tinjau Lahan Sekolah Garuda, Keluhan Warga Jadi Perhatian

Atas dasar pengalaman tersebut, Ghalib mendorong para pelajar mulai aktif mengenal organisasi sejak berada di bangku sekolah.

Keterlibatan dalam OSIS, misalnya, dapat menjadi tahap awal bagi pelajar untuk belajar memimpin, berkomunikasi dan bekerja bersama orang lain.

“Organisasi itu sangat penting bagi kita untuk dijadikan sebagai sekolah ekstrakurikuler untuk melatih segala macam kemampuan yang tidak bisa kita dapatkan di bangku sekolah atau di pelajaran-pelajaran umum,” jelasnya.

Ghalib berharap kegiatan Youth Leadership Gorontalo tidak berhenti sebagai forum penyampaian materi.

Ia ingin kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk berdialog, mempertanyakan persoalan dan memperluas cara pandang terhadap perubahan sosial maupun perkembangan teknologi.

“Bagaimana pentingnya organisasi di dalam kehidupan kita, terutama sebagai pemuda,” menjadi salah satu pesan utama yang ia tekankan.

Menurut Ghalib, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik.

Kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, komunikasi, jejaring dan keberanian mengambil keputusan juga perlu dibangun sejak dini.

Dengan bekal tersebut, para pelajar diharapkan mampu mengambil posisi sebagai generasi yang tidak hanya memahami perubahan, tetapi ikut menentukan arah perubahan di tengah dinamika masyarakat dan transformasi digital.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *