Jalan Inggris Luluh saat Cuaca Panas, India Justru Kebal, Ini Penjelasan Ahlinya

TABAYYUN.CO.ID, JAKARTA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa memunculkan fenomena tidak biasa di Inggris. Saat suhu udara mendekati 40 derajat Celsius, sejumlah ruas jalan dilaporkan melunak hingga mengalami kerusakan.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa kondisi serupa jarang terjadi di India yang setiap tahun menghadapi suhu musim panas di atas 45 derajat Celsius.

Perbedaan itu ternyata bukan disebabkan kualitas infrastruktur salah satu negara lebih baik dibanding negara lainnya. Para insinyur merancang konstruksi jalan berdasarkan karakteristik iklim yang umum terjadi di masing-masing wilayah, bukan untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang hanya sesekali muncul.

Di Inggris, desain jalan lebih difokuskan untuk menghadapi musim dingin yang panjang dengan siklus pembekuan dan pencairan yang berlangsung berulang kali. Agar tidak mudah retak ketika suhu berada di bawah titik beku, jalan dibuat menggunakan material yang lebih lentur.

Baca Juga :  Sering Diabaikan, Ini Kesalahan Fatal Saat Check-in dan Check-out Hotel

Material yang umum digunakan adalah Hot Rolled Asphalt (HRA) atau beton aspal padat dengan bitumen yang lebih lunak serta agregat berukuran halus. Struktur tersebut memungkinkan permukaan jalan mengembang dan menyusut mengikuti perubahan suhu tanpa mengalami retakan.

Namun, fleksibilitas itu justru menjadi kelemahan ketika gelombang panas ekstrem terjadi. Pada suhu mendekati 40 derajat Celsius, bitumen yang lebih lunak mulai kehilangan kekuatan sehingga permukaan jalan mudah melunak dan mengalami deformasi.

Baca Juga :  Rupiah Melemah di Tengah Spekulasi Dolar, Ekonom Soroti Krisis Kepercayaan Pasar

Berbeda dengan Inggris, India sejak awal membangun infrastruktur jalan untuk menghadapi suhu tinggi sepanjang musim panas. Negara tersebut menggunakan bitumen dengan tingkat kekentalan lebih tinggi, seperti Viscosity Grade (VG)-30 dan VG-40, yang dikenal lebih tahan terhadap panas.

Selain itu, campuran aspal di India menggunakan agregat batu berukuran lebih besar sehingga menghasilkan permukaan jalan yang lebih kokoh dan stabil saat terkena paparan sinar matahari dalam waktu lama maupun beban kendaraan berat.

Kombinasi material tersebut membuat jalan di India mampu bertahan meskipun suhu udara secara rutin mencapai bahkan melampaui 45 derajat Celsius.

Baca Juga :  Rayuan Palsu Berujung Pidana, Pemuda Cabuli Gadis dengan Modus Nikah

Pada dasarnya, perbedaan daya tahan jalan di kedua negara merupakan hasil dari pendekatan rekayasa teknik yang disesuaikan dengan kondisi iklim masing-masing.

Inggris mengutamakan kelenturan agar jalan tidak retak akibat pembekuan saat musim dingin. Sebaliknya, India lebih memprioritaskan kekuatan material agar aspal tidak melunak akibat suhu tinggi.

Karena itu, suhu sekitar 40 derajat Celsius yang tergolong ekstrem bagi Inggris merupakan kondisi yang sudah diperhitungkan dalam desain infrastruktur jalan di India. Sebaliknya, konstruksi jalan di India belum tentu mampu memberikan performa yang sama apabila harus menghadapi siklus pembekuan dan pencairan seperti yang terjadi di negara-negara Eropa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *