Pengangguran Gorontalo Naik 19 Persen, BPS Ungkap Dampak Musim Kering terhadap Ekonomi

TABAYYUN.CO.ID, GORONTALO – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2026 mencapai 5,63 persen. Namun, capaian tersebut menyimpan persoalan di tingkat rumah tangga.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih positif, konsumsi masyarakat justru mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan arah antara pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan daya konsumsi masyarakat.

Menurut Agus, salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan konsumsi rumah tangga adalah musim kering yang terjadi pada triwulan III 2026.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian dan pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Baca Juga :  Danial Ibrahim Minta Maaf soal Polemik Samsat Kabupaten Gorontalo, Komitmen Bebas Pungli Diuji

Saat musim kering, sebagian petani tidak melakukan penanaman maupun panen. Akibatnya, pendapatan yang diterima lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sehingga kemampuan masyarakat untuk berbelanja ikut menurun.

“Artinya kalau musim kering, teman-teman petani itu nggak nanam nggak panen. Nah, kalau kita bicara mereka nggak nanam berarti mereka tidak punya pendapatannya tidak punya pendapatan yang berlebih untuk melakukan konsumsi atau konsumsinya lebih rendah dibandingkan dengan triwulan dua,” jelas Agus dalam konferensi pers BPS. Senin,05/11/26.

Dampak kondisi tersebut tidak hanya terlihat pada konsumsi rumah tangga. BPS juga mencatat adanya peningkatan pengangguran di Gorontalo pada Agustus 2026.

Agus mengungkapkan, angka pengangguran mengalami peningkatan sebesar 19 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga : 

Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik ketenagakerjaan Gorontalo yang masih banyak bergantung pada sektor pertanian.

Ketika aktivitas pertanian melemah dan kemampuan sektor tersebut menyerap tenaga kerja berkurang, masyarakat yang sebelumnya bekerja di bidang pertanian berpotensi kehilangan pekerjaan.

Berdasarkan data BPS, penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian mengalami penurunan sebanyak 1.969 orang. Situasi ini memperlihatkan tekanan yang dialami sektor pertanian turut memengaruhi kondisi ketenagakerjaan daerah.

“Pada saat sektor pertaniannya dia tidak bisa menyerap tenaga kerja, maka makin banyak orang menganggur,” ungkap Agus.

Ia menjelaskan, pekerja yang tidak lagi terserap di sektor pertanian berpotensi masuk kategori pengangguran atau beralih menjadi pekerja tidak dibayar.

Baca Juga : 

Kondisi terakhir juga berpengaruh terhadap kemampuan rumah tangga memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

BPS melihat pelemahan konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengangguran sebagai dua indikator yang saling berkaitan. Ketika aktivitas pertanian menurun, pendapatan masyarakat ikut tertekan, sementara kesempatan kerja semakin terbatas.

Kondisi ini menjadi catatan penting di tengah pertumbuhan ekonomi Gorontalo yang masih berada pada angka positif. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari besaran angka secara agregat, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan dan menjaga daya beli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *