Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Tiga Tekanan Utama

TABAYYUN.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan di pasar valuta asing. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), mata uang Indonesia bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen hingga ditutup di posisi Rp17.978 per dolar AS. Pelemahan tersebut melanjutkan tren negatif yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Ekonom menilai tekanan terhadap rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi kondisi eksternal. Sejumlah faktor global secara bersamaan membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor.

Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah terutama berkaitan dengan kenaikan kembali imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat.

“Menurut saya, tekanan terkuat terhadap rupiah saat ini terutama berasal dari kombinasi faktor eksternal yang saling memperkuat, bukan satu faktor domestik tertentu. Yang paling dominan adalah kenaikan kembali imbal hasil surat utang pemerintah AS setelah pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan menaikkan suku bunga, sehingga aset dolar menjadi lebih menarik dan selisih imbal hasil Indonesia terhadap AS semakin menyempit,” kata Josua Pardede dilansir dari Republika, Senin (28/9/2026).

Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah semakin kuat karena harga minyak dunia juga berada di level tinggi. Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Situasi tersebut memberikan tekanan ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, kebutuhan devisa untuk membayar impor minyak meningkat. Di sisi lain, harga energi yang tinggi dapat memberikan tekanan terhadap inflasi dan fiskal.

“Tiga tekanan yang sekarang bekerja bersamaan, yakni tingginya imbal hasil AS, Brent di atas 100 dolar AS per barel, dan melemahnya arus investasi portofolio,” terangnya.

Baca Juga :  Kadin Gandeng 10 Daerah, Anindya Bakrie Dorong KUNCI BERSAMA Jadi Kekuatan Ekonomi Baru

Investor Asing Mulai Kurangi Aset Indonesia

Tekanan eksternal juga tercermin dari pergerakan investasi portofolio. Hingga pekan yang berakhir pada 25 September 2026, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih obligasi Indonesia sekitar 127 juta dolar AS.

Pada instrumen saham, aksi jual bersih investor asing mencapai sekitar 145 juta dolar AS.

Pada perdagangan berikutnya, rupiah bahkan menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan ketika harga minyak mendekati 106 dolar AS per barel dan dolar AS menguat.

Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa angka Rp18.000 per dolar AS lebih tepat dipandang sebagai batas psikologis pasar.

Level tersebut, menurutnya, bukan ukuran tunggal untuk menentukan sehat atau tidaknya kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Langkah yang Perlu Disiapkan BI

Menghadapi tekanan tersebut, Josua menyarankan Bank Indonesia merespons melalui sejumlah instrumen, bukan hanya mengandalkan kenaikan suku bunga.

Langkah pertama adalah menjaga agar pergerakan rupiah tetap terkendali melalui intervensi di berbagai pasar.

“Prioritas pertama adalah menjaga agar pelemahan rupiah berlangsung tertib melalui intervensi di pasar tunai, transaksi berjangka dalam negeri dan luar negeri, serta pasar SBN (Surat Berharga Negara), terutama ketika pergerakan rupiah jauh lebih cepat daripada perubahan fundamental. BI sendiri menyatakan tetap hadir melalui beberapa pasar tersebut,” ujarnya.

Selanjutnya, daya tarik aset rupiah perlu dipertahankan dengan menjaga selisih imbal hasil Indonesia dan Amerika Serikat agar tidak semakin menyempit.

Menurut Josua, kenaikan suku bunga tambahan tetap dapat menjadi opsi apabila tekanan eksternal berlangsung berkepanjangan dan mulai meningkatkan ekspektasi inflasi.

Baca Juga :  Penataan Izin Tambang Dipacu, Prabowo Terima Laporan Langsung dari Bahlil

Ia juga menilai biaya lindung nilai bagi investor asing perlu tetap kompetitif agar aliran modal yang masuk ke Indonesia tidak hanya bersifat jangka pendek.

Selain itu, kebijakan likuiditas di sektor perbankan perlu diselaraskan dengan upaya stabilisasi nilai tukar.

“Yang juga penting, BI tidak perlu mempertahankan Rp 18.000 dengan menghabiskan cadangan devisa secara agresif. Sasaran yang lebih tepat adalah menahan gejolak berlebihan, menjaga kepercayaan pasar, dan mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi lingkaran kenaikan harga impor, inflasi, arus modal keluar, dan pelemahan lanjutan,” kata dia.

Tekanan Rupiah Dinilai Berasal dari Faktor Global

Josua menilai ruang intervensi Bank Indonesia tetap memiliki batas karena tekanan yang terjadi sebagian besar bersumber dari perkembangan global.

Menurutnya, instrumen bank sentral lebih tepat digunakan untuk mengelola kecepatan penyesuaian rupiah dan mencegah gejolak berlebihan, bukan untuk melawan tekanan eksternal secara permanen.

“Karena itu, ukuran keberhasilan BI bukan apakah rupiah tidak pernah melewati Rp 18.000, tetapi apakah volatilitas tetap terkendali, inflasi tetap dalam sasaran, cadangan devisa terjaga, dan kepercayaan investor terhadap aset rupiah tetap kuat,” tegasnya.

BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen

Josua juga menyoroti keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026 yang digelar pada 23 September.

Dalam rapat tersebut, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Menurut Josua, keputusan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab pelemahan rupiah yang terjadi setelahnya. Kebijakan harus dilihat berdasarkan kondisi ekonomi dan informasi yang tersedia ketika keputusan dibuat.

Baca Juga :  Apple Bangkit di China, iPhone 17 Jadi Pendorong Utama Penjualan

“Mengenai keputusan BI mempertahankan suku bunga 5,75 persen, keputusan tersebut perlu dilihat berdasarkan informasi yang tersedia pada saat RDG, bukan semata-mata dari pelemahan rupiah sesudahnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin, dari 4,75 persen pada April 2026 menjadi 5,75 persen sejak Juni 2026.

Sementara itu, inflasi Agustus tercatat 3,19 persen, masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Dalam RDG September, BI memilih mempertahankan suku bunga sembari memperkuat intervensi dan memberikan insentif untuk menarik modal asing.

“Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga rupiah tanpa menambah tekanan terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. BI juga menjelaskan bahwa stabilitas tetap menjadi jangkar kebijakan dan bahwa berdasarkan perhitungannya, kenaikan BI Rate 25 poin dasar dapat mengurangi pertumbuhan sekitar 0,1 poin persentase dalam kondisi faktor lain tetap,” ungkapnya.

Namun, kondisi global setelah keputusan RDG tersebut dinilai berubah menjadi lebih berat. Imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun disebut naik hingga sekitar 5,2 persen, sementara harga minyak kembali berada di atas 100 dolar AS per barel.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat juga meningkat. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.

“Jadi, pelemahan rupiah setelah RDG tidak otomatis menunjukkan bahwa keputusan menahan suku bunga gagal, tetapi perkembangan terbaru membuat ruang BI untuk terus mempertahankan 5,75 persen menjadi semakin sempit jika tekanan tersebut berlangsung lama. Tingginya minyak, imbal hasil AS, dan tekanan rupiah telah meningkatkan kemungkinan pengetatan tambahan apabila kondisi eksternal terus memburuk,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *