DPRD Provinsi dan Pemprov Gorontalo Hadiri Festival Tumbilotohe Hulandalo Mulolo 2026

Tabayyun.co.id GORONTALO – Ketua DPRD Provinsi Gorontalo bersama para anggota DPRD menghadiri Festival Tumbilotohe Hulandalo Mulolo Tahun 2026 / 1447 Hijriah yang digelar pada Senin (16/3/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Gorontalo, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Festival ini menjadi salah satu momentum penting untuk menjaga dan melestarikan tradisi Tumbilotohe, budaya khas Gorontalo yang dikenal sebagai malam pemasangan lampu menjelang akhir bulan suci Ramadhan.

Dalam sambutannya, Gusnar Ismail menjelaskan bahwa tradisi Tumbilotohe memiliki akar sejarah panjang dalam perjalanan budaya dan keagamaan masyarakat Gorontalo.

Ia menyebut, berdasarkan berbagai literatur yang pernah dipelajari dan juga dituliskan dalam disertasinya, pada masa awal masuknya Islam ke Gorontalo masyarakat masih berada dalam pengaruh kepercayaan animisme.

Menurut Gusnar, proses penyebaran Islam di wilayah tersebut berlangsung secara bertahap melalui peran para ulama serta para sultan pada masa itu.

Salah satu bukti sejarah tersebut, kata dia, dapat dilihat dari keberadaan masjid tua di Kelurahan Tenda yang menjadi saksi awal perkembangan Islam di Gorontalo. Seiring waktu, nilai-nilai Islam mulai berbaur dengan budaya masyarakat hingga kerajaan Gorontalo berubah menjadi kerajaan Islam.

Baca Juga :  Kadispora Kena Semprot, dr. Sri Darsianti Tuna Soroti Medali GHM 2025 Abaikan Representasi Perempuan

“Pada masa itulah muncul salah satu tradisi masyarakat yang terus bertahan hingga sekarang, yaitu tradisi Tumbilotohe,” ungkap Gusnar.

Ia juga menjelaskan bahwa pada masa lalu menjelang malam ke-27 Ramadhan, raja memerintahkan masyarakat untuk menunaikan zakat fitrah. Setelah kewajiban tersebut dipenuhi, petugas kerajaan akan memasang lampu di depan rumah warga sebagai tanda bahwa keluarga tersebut telah menunaikan zakat.

“Secara sederhana, lampu-lampu yang kita lihat malam ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk menunaikan zakat fitrah. Bahkan dahulu dalam candaan masyarakat, jika seseorang belum membayar zakat, maka ia belum boleh menikmati kemeriahan malam pasang lampu,” jelasnya.

Selain itu, terdapat pula versi sejarah lain yang menyebut bahwa tradisi tersebut berawal dari kebiasaan masyarakat membawa obor untuk menerangi jalan ketika raja menuju masjid untuk beribadah.

Baca Juga :  Mikson Yapanto Nilai HUT ke-25 Gorontalo Paling Bermakna dan Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi memasang lampu di rumah-rumah warga hingga akhirnya menjadi budaya yang dikenal luas hingga saat ini.

Gubernur juga menambahkan bahwa malam ke-27 Ramadhan memiliki makna khusus dalam ajaran Islam karena diyakini sebagai salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang berpotensi menjadi malam Lailatul Qadar.

“Seiring perkembangan zaman, tradisi Tumbilotohe juga mengalami transformasi. Dahulu masyarakat menggunakan lampu minyak, sementara sekarang banyak yang sudah menggunakan lampu listrik dengan berbagai bentuk dan hiasan yang indah. Namun esensinya tetap sama, yakni mengingatkan kita semua untuk menunaikan zakat fitrah serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Thomas Mopili, mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang kembali menghidupkan tradisi tersebut.

“Hari ini kita bisa melihat bagaimana antusiasme masyarakat dalam menyaksikan Tumbilotohe yang sudah puluhan tahun hampir tidak terlihat lagi. Malam hari ini Bapak Gubernur telah menginisiasi kegiatan ini dengan menghidupkan kembali tradisi seperti pada zaman dahulu. Ini tentu menjadi sesuatu yang luar biasa,” ujar Tomas.

Baca Juga :  Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Tinjau Posko Mudik Lebaran 2026 di Bandara Djalaluddin

Ia juga mengaku baru mengetahui secara lebih mendalam mengenai sejarah Tumbilotohe setelah mendengarkan penjelasan dari Gubernur Gorontalo.

“Terus terang ini pertama kali saya datang dan menyaksikan langsung kegiatan seperti ini. Dari penjelasan yang disampaikan, saya baru mengetahui bagaimana sejarah Tumbilotohe hingga akhirnya membumi dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Gorontalo,” ujar Thomas

Thomas berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi bisa masuk dalam kalender tetap pariwisata daerah.

“Kita berharap kegiatan ini bisa diagendakan setiap tahun sebagai bagian dari kalender pariwisata daerah. Selain itu, pelaksanaannya juga tidak hanya terpusat di satu tempat saja, tetapi bisa dilaksanakan di berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo agar budaya ini semakin dikenal luas oleh masyarakat,” tambahnya.

Festival Tumbilotohe Hulandalo Mulolo tahun ini berlangsung meriah dengan ribuan lampu yang menghiasi area kegiatan, menciptakan suasana religius sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat yang datang menyaksikan tradisi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *